
Aksi Peduli Kasih Penyaluran Bantuan Paket Sembako, Kepada Masyarakat Kurang Mampu dan Terdampak Covid-19
BADUNG (CAHAYAMASNEWS). Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia (MAPANBUMI) dan Yayasan Dana Paramita Buddha Maitreya Indonesia (PARAMITA POUNDATION), bekerjasama dengan media Nuansa Bali dan Cahayamasnews.com, serta Yayasan Peduli Kasih, menyalurkan bantuan berupa paket sembako kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan uluran kasih guna meringankan beban ekonomi ditengah dampak covid-19, yang hingga saat ini belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, Sabtu (9/5/2020). Ketua MAPANBUMI Provinsi Bali (Tjin Tat/Tommy Chiuputra) berharap bantuan ini dapat sedikit meringankan beban ekonomi masyarakat terdampak covid-19, dan semoga wabah ini cepat berakhir, sehingga masyarakat kembali bisa beraktivitas seperti sebelumnya tanpa dibayang-bayangi rasa ketakutan.
Penyaluran bantuan paket sembako tersebut menyasar masyarakat di empat kabupaten/kota yakni Badung, Kabupaten Klungkung, Kabupaten Karangasem, dan Kota Denpasar. Penyaluran itu dimulai dari Kabupaten Badung menyasar masyarakat yang tinggal di seputaran Canggu, selanjutnya di Kota Denpasar menyasar masyarakat yang kost seputaran Sanur dan kini kehilangan pekerjaan. Selanjutnya tim bergerak menuju ke Kabupaten Klungkung menyasar empat KK, dan kemudian dilanjutkan ke Kabupaten Karangasem menyasar empat KK. Mereka yang dibantu dari berbagai kondisi mulai dari petani penggarap, parkir, pembantu rumah tangga, dan pekerja serabutan yang saat ini sangat merasakan dampak Covid-19 yang sampai saat ini belum diketahui sampai kapan baru berakhir.
Yang paling berkesan dalam penyaluran bantuan ini adalah saat tim yang dipimpin Bunda Yustin (Sekar Dalu), memberikan bantuan kepada Made Getas. Made Getas hidup sebatangkara di tempat yang tak layak (maaf.. lebih jelek dari gubuk), terbuat dari pelapah daun kelapa kering yang hanya disusun begitu saja, bahkan lahan yang kini ia tempati itu adalah milik temannya. Made Getas adalah seorang pekerja serabutan. Jika tidak ada yang menyuruh kerja, maka ia tak bisa makan, hanya minum air sebagai pengganjal perut. Entah karena apa Made Getas tidak lagi dihiraukan oleh keluarganya dan hidup sebatangkara di tegal yang jauh dari rumah penduduk, dan hanya ditemani seekor sapi yang kandangnya tak jauh dari gubugnya. Bila hujan turun pria lajang ini harus rela kehujanan. Saat ini Made Getas yang berjiwa seni ini tak bisa berbuat banyak karena hidup serba keterbatasan dan hanya mengandalkan uluran belas kasih dari yang terketuk hatinya. Ternyata masih banyak warga yang hidup dengan kondisi seperti ini di tengah gemerincingnya dolar dan dengan berbagai sebutan “Bali Pulau Sorga, Pulau Dewata, dan sebutan lainnnya. Semoga Tuhan selalu memberikan ketabahan dan kesehatan menjalani peran yang diberikan oleh Sang Pencipta dan Penguasa kehidupan ini.

Nama-nama Penerima Bantuan:
Kabupaten Badung:
- . Ketut Adi. (55 tahun). Pekerjaan: Buruh Serabutan.
- . Putu Wikarma. (45 tahun). Pekerjaan: Buruh Serabutan.
- . Samuel. (45 tahun). Pekerjaan: Karyawan Laundry.
- . Kurnia. (38 tahun). Pekerjaan: Karyawan Travel.
Kota Denpasar:
- . Ujang. Umur: (55 tahun). Pekerjaan: Guide freeland.
- . Neneng (50 tahun). Pekerjaan: Pembantu Orang Asing.
- . Tatik. (45 tahun). Pekerjaan: Ibu Rumah Tangga.
Kabupaten Klungkung:
. I Wayan Kicen. (50 tahun). Pekerjaan: Petani Penggarap.
. Nengah Merta Yasa. (45 tahun). Pekerjaan: Nelayan
. Wayan Tabla. (56 tahun). Pekerjaan: Buruh Serabutan.
. Made Ariasa. (57 tahun). Pekerjaan: Buruh Serabutan.
Kabupaten Karangasem:
. I Made Getas. Umur: (42 tahun). Pekerjaan: Buruh serabutan.
. Gede Susila. Umur: (55 tahun). Pekerjaan: Petani (saat ini tak bekerja
karena cacat kaki diamputasi).
. Titin. Umur: (65 tahun). Pekerjaan: Petani Penggarap.
. Ida Pedanda Istri Sebali Tianyar. Umur: (65 tahun) Rohaniawan/Pendeta.









Facebook Comments