
Renungan “Brata Semesta VII”, Edukasi Diri Kembali pada Dekapan Kasih Ibu Semesta
Berjuta “peringatan” dalam berbagai bentuk telah dihadirkan oleh Tuhan, tetapi tidak diindahkan oleh sebagian orang-orang nakal di bumi ini. Karena menguasai kecerdasan intelektual dan logika, teknologi canggih dan material, serta masa penganutnya. Segala bentuk tanda-tanda peringatan dimentahkan dengan standar logika tertentu. Bila tidak bisa mengatasi dianggap sebagai kebodohan yang harus dituntaskan secara logis. “Agama dipandang sebagai penyesatan alam pikir”, melalui dogma-dogma yang tidak masuk akal. Ketika kita memasuki dan merujuk ajaran suci Veda bahwa, logika tidak bisa berdiri sendiri. Harus bersatu dengan kesucian dan keindahan yang disebut Tri Sakti, yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.
Kesucian didasari prilaku beretika dan bersopan santun dalam arti terbatas maupun dalam arti luas mencakup hubungan harmoni antara manusia dengan Tuhan, dengan manusia dan dengan semua makhluk ciptaan-Nya, termasuk bumi kita ini yang patut dihormati. Dari kesadaran perilaku ini melahirkan energi sundaram, bergelora dalam jiwa dan bervibrasi dalam perilaku yang meneduhkan. Beginilah perilaku yang telah menyadari dan selalu insap, kepada kebesaran kuasa-Nya.
Tetapi di zaman Kaliyuga ini semua intisari kehidupan ini dikondisikan dalam ruang material untuk kepentingan diri sendiri, hingga dosa-dosa terkonstruksi secara kuat tanpa disadari, meluas menguasai dunia, karena memang “tampak benar dan menyenangkan”. Akibatnya terjebak dosa, lalu segala bentuk peringatan nihil di hadapan mata, dan selalu ditentang secara logika. Segala bentuk logika pun sudah dimentahkan, tetapi egoisme logika tidak kembali pada kesadaran dan tunduk pada kebesaran-Nya.
Akibatnya korban yang tidak sedikit, lumpur Lapindo siapa yang dapat mengendalikan, Tsunami Aceh, kebakaran kilang minyak dllnya. Masih banyak contoh di negara lain, tetapi masih saja “pengkung ngulun”. Pada sisi yang lain korban suci seringkali pula ditolak dan dimentahkan oleh cara berpikir beragama logis. Tetapi tidak mencerna logika dan etika serta estetika yang tersembunyi di dalamnya. Kepengkungan (keangkuhan) ini barangkali telah mencapai puncaknya, hingga harus ditampar oleh Hyang Kuasa melalui Coivid-19 yang merebak di seluruh dunia ini.
Logika memang harus selalu hadir dalam setiap langkah kehidupan, tetapi harus tunduk pada kesucian hati nurani yang terbungkus Sundaram (keindahan), memvibrasikan rasa sejuk dan damai. Sadar bahwa semua itu bersumber dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tamparan Tuhan melalui Covid-19 ini, mesti menyadarkan kita, merenungi kembali apa yang telah kita perbuat dan diterima dari masa lalu, untuk masa kini dan mengkonstruksi kebajikan untuk masa kini dan masa depan. Berada di jalan kesadaran perilaku inilah merupakan wujud “Brata Semesta”, yang mesti kita taati bersama, mengedukasi diri, kembali pada dekapan kasih Ibu Semesta (Ibu Pertiwi). Semoga menjadi renungan dan refleksi. *** Cahayamasnews.com. Sri Guru Hasta Dhala (Pendiri & Pemilik Ashram Vrata Wijaya, Denpasar).









Facebook Comments