November 4, 2026
News

PHDI Bangli Pastikan Nyepi Kembali Tanpa Ogoh-Ogoh dan Melasti

BANGLI (CAHAYAMASNEWS.COM). Dalam pelaksanaan Catur Brata Penyepian tahun baru saka 1943 di Kabupaten Bangli  Sabtu(13/03/2021) nanti dipastikan kembali tidak akan disemarakkan dengan pelaksanaan arak-arakan ogoh-ogoh yang biasa dilaksanakan pada hari Pengerupukan atau sehari sebelum Nyepi. Selain itu, untuk prosesi melasti yang bertujuan untuk penyucian pratima (benda suci) yang biasa dilakukan ke pantai (segara) juga ditiadakan. Karena masih dalam suasana pandemic Covid-19, pelaksanaan rangkaian hari raya Nyepi tetap berjalan seperti tahun lalu dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat,”tegas Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Bangli, I Nyoman Sukra saat dikonfirmasi Selasa (09/03/2021). 

Dikatakan Sukra, prokes mesti tetap diutamakan terutama saat pelaksanaan Tawur Agung di hari Pengerupukan. “Tawur agung dilaksanakan dengan tetap mengutamakan prokes. Pakai masker, jaga jarak, cuci tangan dan pesertanya dibatasi. Selain itu, saat pengerupukan, ogoh-ogoh ditiadakan. Termasuk bunyi-bunyian juga dilarang dan keliling obor-obor dibatasi jumlahnya. Kalau pun dilaksanakan cukup dilaksanakan di lingkungan banjar atau rumah masing-masing,” katanya.

Dalam, pengetatan prokes saat rangkaian hari raya Nyepi kembali diterapkan, supaya tidak menjadi klaster baru bagi penyebaran Covid-19 di Kabupaten Bangli. Dalam hal ini, Satgas Desa Adat diharapkan pula untuk melakukan pengawasan dan pengaturan diwilayahnya masing-masing.  Menurut Nyoman Sukra, sejatinya tradisi ogoh-ogoh bukan merupakan bagian dari prosesi Nyepi. “Tanpa ogoh-ogoh justru akan lebih menghemat pengeluaran masyarakat ditengah kondisi saat ini. Ogoh-ogoh itu, bukan bagian dari upacara Pengerupukan dan Nyepi.  Namun yang terpenting saat pengerupukan adalah mebou-mebou dan meobor-obor untuk menetralisir butha kala,” ungkapnya.

Sementara terkait melasti, lanjut Sukra dilakukan dengan cara ngubeng ditempat atau nyangku. Dengan kata lain, pihaknya juga mengakui dampak pandemic Covid-19 telah menyebabkan dua kali pelaksanaan Nyepi tanpa dimeriahkan ogoh-ogoh dan melasti. “Justru dengan Covid ini adalah upaya untuk memurnikan makna dari Penyepian itu sendiri,” pungkasnya. *** Cahayamasnews.com/Tim-NT.

Facebook Comments

error: Content is protected !!