February 16, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“KEBENARAN YANG KABUR”

Oleh:  I Ketut Murdana (Rebo, 11 Juni 2025).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Dia (Kebenaran) ada tetapi “kabur”, karena pengelihatan dan penyerapan hati nurani dikaburkan, oleh napsu, indriya-indriya menjadi gunung ego. Pertanyaannya mengapa bisa dikaburkan oleh ketiga sifat itu, “ya” ketika ketiga sifat itu dibiarkan liar, mencari kesenangannya masing-masing, lalu bersatu padu, menjadi napsu mengukuhkan ego. Refleksi sifatnya, selalu ingin menang sendiri, dan menguasai situasi. Sulit menerima kebajikan orang lain dan tak bisa menyelaraskan diri untuk mencapai kedamaian. Itu artinya terus membangkitkan dan menggerakkan energi asura. Berbalik arah dengan upaya melaksanakan “sifat suci keilahian” yang menjadi tuntunan “atman”. Merefleksikan etika dan tatasusila, memformulasi nilai-nilai kejujuran, keluhuran, hingga berkembang, hingga bervibrasi kepada insan-insan lainnya.

Telah lama nilai-nilai kejujuran itu terkurung oleh napsu dan ego asura yang meresapi jiwa insan-insan dunia. Akibatnya tercipta budaya saling menyalahkan, tuding menuding keburukan, lalu menghasilkan perang saudara, baik perang dingin maupun perang panas. Realitas ini menunjukkan bahwa; betapakaburnya penglihatan hati nurani terhadap tujuan hidup damai bersama di ruang terbatas maupun ruang kosmik, rumah besar tak terbatas, milik semua makhluk

Menyikapi erosi nilai-nilai dharma kebajikan ini, betapa pentingnya kita berdoa dan berjuang bersama, agar kebenaran, kecerdasan dan kejujuran itu bisa tumbuh dan berkembang meresapi semua insan kembali pada kesadaran diri, sebagai insan yang “konon paling mulia”. Apabila itu tumbuh berkembang besar, dan dikuasai oleh seorang pemimpin, untuk kesejahteraan rakyat. Saat itulah sesungguhnya pemimpin memperoleh kemasyuran dan kemuliaannya. Bukan bekerja sama dengan asura, mengubah pola hidup memanupulasi uang rakyat, “mewah sesaat lalu tidur sesat di kawah”

Walaupun menjadi pemimpin mulia seperti itu tak mudah, tetapi sadar memulai dan memformulasi kejujuran dalam melaksanakan tugas kewajiban adalah upaya yang “terlindungi”. Menghadapi tantangan dari keangkuhan ketiga sifat itu yang sedang menguasai sebagian besar insan-insan duniawi. Itu artinya kekuatan asura yang amat cerdik dan halus sedang ingin mengubur menguasai dharma. Larut dalam kondisi demikian itu, menunjukkan betapa kaburnya pengelihatan rohani terhadap kebenaran. Apabila ingin menjadi pemimpin atau ingin mewakili rakyat, sudah semestinya berani dan yakin memegang prinsip-prinsip kebenaran dharma, agar jiwa-jiwa luhur rakyat bangkit bersama memperjuangkan cita-cita kemuliaan hidup duniawi maupun rohani.

Walaupun akibat kebangkitan kebenaran dharma itu mendapat tantangan besar dan kuat, membendung menghancurkan tujuan dan perjuangan kebenaran itu. Tetapi yakin sepenuhnya bahwa dharma pasti melindungi. Karena keyakinan untuk memperjuangkan esensi hidup yang memuliakan-Nya, yang merefleksikan kemuliaan diri adalah kebenaran yang telah diperjuangkan sepanjang sejarah. Perjuangannya kini, mesti mengubah arah dan strategi metodologis, karena sasarannya telah berubah sifat dan karakter.

Kecerdasan intelek memainkan berbagai argumen pembenaran yang terlihat seolah-olah benar. Mengaburkan pandangan “kebenaran” sebagian besar orang, yang dapat digantikan dengan sinar cemerlang angka-angka rupiah. Mengorbankan harga diri dan martabat bangsa. Oleh karena itulah kebenaran sejati terlihat semakin kabur, menjadi “cemerlang di tempat napsu-napsu bergerak dan berkuasa”. Disinilah jiwa-jiwa yang mesti menegakkan dharma, justru larut memainkan perannya. Bukan meniadakan tetapi justru mengadakan. Ketika sudah demikian, kekaburan itu sesungguhnya mulai dari hati nurani yang belum “tercerahkan” hingga kabur melihat kebenaran.

Berkenaan gerak dimensi kejiwaan insan-insan itu, menempatkan “kebenaran” dalam arti sempit nan substansial. Intensitas kebenarannya dijiwai oleh hasrat yang menyenangkan, bergerak labil, tenggelam dan muncul dan seterusnya. Selanjutnya menempatkan kebenaran dalam arti luas bergerak terus mencapai “kemenangan yang adil dan mendamaikan”. Bukan kemenangan konstruksi kuantitatif, yang selalu diributkan. Esensi keberadaannya abstrak tetapi “bisa dirasakan” kebenarannya setiap periode. Pergerakan untuk bisa merasakan kebenaran yang membahagiakan. Dalam kondisi itulah edukasi dan pendalaman hati nurani, secara perlahan mengusir kekaburan mempetajam pengelihatannya.

Karena mampu mengendalikan ketiga sifat itu menjadi kekuatan dan kekuatan itu tersucikan oleh tujuan suci itu sendiri. Itu artinya dharma telah melindungi. Bagaikan air sungai terus bergerak menuju lautan mencapai netralitas kesamaan rasa. Air sungai tertentu tak lagi berindetitas tetapi lebur menjadi satu kesatuan, rumahnya adalah lautan samudra luas. Memelihara kehidupan untuk kehidupan itu sendiri.

Mencermati kebenaran ini, para suci menciptakan ritual, menyucikan simbol-simbol suci ke lautan, agar insan-insan pengusungnya teredukasi untuk menjadikan diri berjiwa besar bagaikan lautan luas yang bisa memberi segalanya kepada kehidupan. Semuanya itu bisa terjadi setelah menerima anugrah-Nya. Wujudnya bagaikan air sungai-sungai selalu menuju lautan. Oleh karena itu upaya memahami kebenaran substansial perlahan berubah, berkembang mencapai kebenaran sejati.

Semesta sesungguhnya telah menyuguhkan sejuta tanda edukasi spirit, yang telah dilakoni oleh para leluhur menghasilkan pengetahuan. Lalu menjadi pendidikan formal, sedikit demi sedikit melupakan esensi cosmologisnya, hingga “kepekaan” spirit erosi semakin melemah bahkan menabrak hukum-Nya sendiri. Semuanya itu dianggap sebagai kehormatan. Ikan-ikan yang enak diisi sat pengawet, lalu menjadi tak enak dan menimbulkan ragam penyakit membahayakan. Tetapi semuanya telah dan sedang terjadi.

Permainan iklan promosi canggih, tetapi seringkali mengaburkan kejujuran kualitasnya. Akibatnya menimbulkan masalah baru. Demikian seterusnya kebenaran dan kejujuran semakin “kabur” dan “terkubur” ditengah-tengah kemajuan ilmu pengetuan dan teknologi. Akankah “dia” kembali?, ya ketika insan-insan duniawi menyadari betapa pentingnya “kejujuran”, hingga kebenaranpun terang benarang bisa bervibrasi dan dipercaya, karena esensial nan vital. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!