
“AURA KASIH”
“SENI DALAM KESADARAN KOSMOLOGIS”
Oleh: I Ketut Murdana (Jumat, 6 Maret 2026).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Ketika seni dipahami sebagai emosi kreatif dan kebaruan, maka seni berposisi natural, menggerakkan emosional, ilusif nan imajinatif. Bernilai ekspresif membangkitkan dan menggetarkan “emosi estetik” sesaat pada orang-orang tertentu. Itu artinya dari pribadi mempribadi. Sangat berbeda dengan ekspresi seni religius, yang mengkondisikan nilai-nilai kolektif dan religiusitas, lalu diapresiasi dan diyakini bersama. Pada sisi yang lain seni yang mengekspresikan kedalaman pengalaman personal, bisa saja menciptakan kebingunan atas kebaruan ekspresi estetiknya, karena tak pernah ada sebelumnya. Akibatnya terjipta emosi dan merangsang gerak pengalaman yang sama atau ketegangan yang menegangkan. Lalu membutuhkan penyelerasan apresiasi menemukan esensinya.
Lalu reda menginginkan yang baru lagi, untuk menjawab setumpuk angan-angan pengalaman estetik yang mengendap di dalam lubuk hati pencipta dan penikmatnya. Jadi secara substansial ekspresi seni adalah formulasi pengalaman estetik dan spiritual yang menyentuh serta mensugesti gelombang emosi yang sama pada penikmatnya. Lalu sepakat terhadap ragam ekspresi indrawi yang mengantarkannya memasuki ruang jelajah ilusif, yang seringkali diberi makna.
Entahlah gelora pengalaman yang menjenuhkan dan juga romantika yang menyenangkan serta membahagian. Selalu merangsang ekspresi. Pada sikap dan posisi kreatif ini, menempatkan alur emosi estetik bergerak menyertai tuntutan kebaruan. Ketika dilihat secara kosmologis ekspresi penciptaan itu, dijiwai sifat-sifat naturalistik, tercipta sesuatu yang baru, terpelihara, lalu redup energi emosional dan perwajahan indrawinya. Akibatnya menjadi artefak yang diam seribu bahasa, dijauhi dari keramaian.
Berbeda dengan sikap pencinta seni, menghidupkan dengan pengukuhan kualitas kreatif nan historik, dibahas dan dikaji terus menerus hingga karya itu tetap hidup dan bervibrasi estetik dan historik. Misalnya karya lukisan Monaliza karya Leonardo Davinsi dan karya-karya seniman besar lainnya. Seperti itulah penghargaan bangsa dan masyarakat melalui sikap budaya yang telah menerima dari seni dan siap berkorban memberi pelayanan kepada seni.
Dalam kontek ini seni dikuatkan oleh konsep-konsep keilmuan menjadi maenstreem, berlebel modern, post modern diperkuat oleh kapital pengukuh keunggulan. Saat itu konsepsi kekuasaan tersembunyi menundukkan ekspresi seni berbasis kelokalan yang dipandang sebagai seni-seni etnis nan Anthropologis. Artinya seni yang dijiwai sikap hidup dan estika etnis yang lekat dengan kebutuhan hidup sehari-hari dan religiusitas. Antara kehidupan duniawi dan kehidupan religiusitas keagamaan. Sedangkan pada posisi lainnya seni dimaknai sebagai kebebasan yang membebaskan ikatannya dengan fungsi-fungsi lainnya yang disebut seni murni. Akibat dari semua itu lahirlah aliran-aliran seni yang menempatkan kekuatan ekspresi pribadi, menjadi ketokohan personal. Bukan kolektifitas seperti seni-seni etnis nan religius.
Realitas ini mesti disadari dari sudut pandang nilai-nilai kemanusiaan dan kesemestaan. Kesadaran ini menempatkan paham kosmologis timur yang memposisikan keberadaan Tuhan yang meresapi keseluruhan dunia dan segala ciptaan-Nya. Segala ciptaan dimaknai sebagai anugrah dan dipersembahkan kembali sebagai rasa hormat dan puja kepada Yang memberi. Dan pandangan kosmologi Barat yang tak menempatkan keberadaan Tuhan di dalamnya. Karena melalui pendekatan keilmuan harus teruji dan terbukti secara rasional. Maka ekspresi seni diposisikan sebagai ruang penjelajahan dan kebebasan individu.
Sesungguh kedua kutub itu saling melengkapi dalam upaya menjelajah alam, sebagai obyek kebenaran spiritual dan kebenaran material duniawi. Seni dalam kontek ini, menempatkan posisi penjelajahannya pada ruang ilusif imajinatif bahkan intuitif. Meremanasi jiwa-jiwa ke puncak, membebaskan wujud material, menyatu dalam keheningan, yang membahagiakan. mencapai puncak kesadaran yang disebut “Roh”. Lalu turun atau kembali ke alam jasmani (remanasi) menterjemahkan rasa yang membahagiakan itu, menjadi wujud-wujud visual indrawi.
Saat itu sadar dan tak sadar ekspresi seni telah berenergi spiritual nan inheren. Saat itu ekspresi seni telah menjadi Vrata Jnana Sundharam. Artinya seni telah diekspresikan melalui kecerdasan kreatif, mewadahi pengetahuan keindahan alam semesta melalui jiwa-jiwa indah nan suci para aktor seniman penciptanya. Karena bermuara dari pengalaman spiritual menjadi pengalaman estetik lalu terekspresi total penuh penjiwaan dalam setiap wujud karya seni. Akibat dari semua itu lahirlah karya cipta seni yang berkualitas menyuarakan nilai-nilai kehidupan universal yang mengangkat martabat nilai-nilai humanisme yang penuh toleran. Oleh karena itu memahami seni dalam kesadaran kosmologis, menempatkan para seniman sadar akan dirinya, alam dan Tuhan Penciptanya. Melalui karya-karya itu terekspresi nilai-nilai humanisme harmoni penyelarasan. . *** CMN. Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi.









Facebook Comments