April 11, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“Dharma Dalam Kesadaran Teks, Dalam Refleksi Prilaku”

Oleh:  I Ketut Murdana (Selasa, 10 Maret 2026).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Kebajikan atau dharma, yang didasarkan pada kebenaran, telah didefinisikan sebagai hukum keadilan dan keselarasan, yang bersatu padu dalam struktur alam semesta seperti yang dikehendaki Tuhan, melalui pengetahuan suci yang diturunkan, kepada orang-orang suci dunia yang diberkati kuasa-Nya. Untuk memberi dan menuntun kesadaran insan-insan duniawi, agar mampu kembali kepada alam kesejatian-Nya. Memahami esensi kebenaran teks (sastra tah), melaksanakan penuh kendali keyakinan sesuai kondisi sosial (loka tah) mengangkat dan menyempurnakan menemukan kesadaran diri subyek menyelaras menyatu pada obyek (swatah). Keberadaan jiwa-jiwa seperti itulah dikejar oleh para suci leluhur dari jaman ke jaman.

Oleh karena itu, bagi insan-insan pendamba dan pencari kebenaran, kebajikan akan berarti sadar dan bangkit menuntun suatu kehidupan yang adil serta humanis dalam semua hubungan dengan yang lainnya, dalam semua tingkat-tingkat tertentu. Baik dalam kondisi di rumah maupun dalam masyarakat, bangsa, negara dan dunia kehidupan semesta raya. Dalam kontek mewujudkan kebajikan itu, penyuguhan pemikiran, pengucapan kata-kata dan prilaku tindakan, selalu selaras dengan hukum keadilan Tuhan itu sendiri. Pengendalian diri agar selalu selaras dengan keadilan itulah, insan-insan berhadapan dengan persoalan dan masalah-masalahnya. Kuantitas dan kualitasnya kebesarannya, tergantung persoalan “angan-angan karma” yang digerakkan. Saat itu angan-angan bersifat rahasia ditembus oleh tujuan, yang diyakini sebagai suatu kebenaran. Walaupun demikian tujuan tetap diselimuti rahasia, sebelum mampu menembus rintangannya.

Gelombang dualitas yang kontras berlawanan diantara baik dan buruk, nikmat dan dengki irihari, enak dan menjijikkan dan seterusnya. Selalu hadir menciptakan masalahnya masing-masing, hadir  bergelora dalam diri dan menerjang halus, kasar dari luar diri, yang mesti dihadapi. Kecerdasan jasmani melalui pengetahuan material dan kecerdasan rohani melalui pengetahuan spiritual, menghasilkan keseimbangan yang terkendali. Maksudnya pertautan energi kedua sifat dualitas itu, bisa digerakkan secara seimbang oleh kendali kebijaksanaan secara terus menerus. Ketika itulah terjadi kemajuan di jalan spiritual. Di ranah kemajuan itu, sesungguhnya refleksi dari logika, dan apa yang dipikirkan, diucapkan dan dilaksanakan semakin kuat merujuk hukum keadilan semesta itu. Akibat dari semua itu membuat jiwa-jiwa semakin bangkit dalam “kasih sayang”, sinar suci kegembiraan.

Berkenaan dengan itu, pendamba dan pencari kebenaran selalu mencoba untuk mempolakan semua aspek kehidupan dan kegiatannya sebanyak mungkin, selalu terkondisi selaras dengan sifat-sifat Kemaha kuasaan-Nya, yang tertuang lewat simbol-simbol dan atribiut-atribiut ragam keyakinan, patut dihormati.  Melalui kesadaran penyelarasan dan penghormatan itulah salah satu dimensi harkat martabat insan-insan terangkat kehormatannya. Itu artinya telah hadir kedewasaan spiritual menyadari kebesaran-Nya, lewat keyakinan yang berbeda, merefleksikan bahasa simbolik dan cara memuja-Nya. Kesadaran menyelaras merupakan edukasi psikologis yang mesti tumbuh dan ditumbuhkan dalam diri setiap insan. Ketika itulah energi suci pengetahuan spiritual meresapi, lalu memunculkan rasa damai membahagiakan.

Praktek-praktek pendewasaan inilah kegiatan spiritual keseharian, yang mesti terus didewasakan. Didewasakan oleh praktek-praktek kebajikan, praktek-praktek pendewasaan kebijaksanaan, perenungan, pengabdian dan pelayanan kepada kebajikan dharma itu sendiri.

Karena dinamika kekuatan dualitas selalu bergerak sesuai alur kehidupan. Akibatnya kekalahan dan kemenangan mencapai kemenangan yang mendamaikan, ada di ruang perhelatan itu sendiri. Ruang perhelatan yang tertuntun kebajikan dharma, mencapai tujuan dharma itu sendiri, adalah hakekat-Nya sendiri. Sadar pada hakekat itulah insan-insan dunia berani mengabdi untuk dharma itu sendiri. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!