
“AURA KASIH”
“Landep: Penyatuan Hening, Saling Memberi dan Menerima Lalu Merefleksi”.
Oleh: I Ketut Murdana (Sabtu, 18 April 2026).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Rasa hening amat sulit dicapai dan dapat dirasakan, ditengah-tengah super kesibukan di dunia material. Apabila tanpa diimbangi kesadaran sungguh, berprilaku “menghening” untuk mengimbangi gerak ambisi yang terus ambisius. Walaupun dari semangat kerja material nampak benar, tetapi seringkali berdampak buruk terhadap kesehatan unsur-unsur jiwa lainnya. Dampak dari ketidak seimbangan itu, mengakibatkan aliran energi suci itu tak mampu meresapi, unsur-unsur jiwa, hingga menjadi kering, tak sehat, tak sejuk dan tak membahagiakan. Akibatnya amat mudah dikuasai napsu amarah yang bisa membuyarkan dan menggagalkan tujuan hidup. Kekeringan jiwa-jiwa seperti itu, mengakibatkan selera indrawi liar “memuaskan” nalurinya saja.
Selera, indriya dan napsu semakin liar, terus membesar, mengurung beku hingga jiwa redup tak bervibrasi suci. Nilai-nilai kebaikan dan kebenaran amat sulit menyentuh dan mengendalikan. Akibatnya jiwa-jiwa semakin tenggelam tak tersentuh suara-suara hening “penyelamatan”. Artinya “kegagalan tujuan hidup” terbuka lebar. Ketika sudah demikian, amat sulit mengendalikan untuk mencapai tujuan. Akhirnya terjadi kegagalan hidup, tenggelam dalam neraka derita duniawi. Oleh karena itu betapa pentingnya mewujudkan rasa hening itu, agar suara hati nurani semakin besar dan kuat menuntun, serta mampu menerangi jalan hidup.
Kebenaran itu dapat dirasakan ketika selera indrawi, rasa, napsu, pikiran terkondisi tertuju keheningan itu sendiri. Artinya ketika selera, napsu dan kesenangan indrawi itu tersentuh dan selalu terhubung rasa hening hati nurani itu. Semuanya itu akan berubah berenergi suci nan hening. Bergerak dari unsur indrawi dalam badan rohani yang disebut “stula sarira” menuju “hening” Sukma sarira. Bersambung dan terhubung terus kepada energi suci menguat semakin intensif, memasuki hati nurani yang bersih hening.
Dimensi kebenaran itulah Karma Jnana, merefleksikan Karma Yoga menyempurnakan tujuan hidup. Tuntunan Para Suci Leluhur dari jaman ke Jaman. Hanya suasana kejiwaan yang “hening” bersatu dengan sumber “Yang Maha Hening”. Itulah yang dimaksud “memberi menyatu dan merasakan”, menerima sebagai anugrah lalu bervibrasi, “ke dalam dan keluar diri” (Jnana Buda Siwa) penuh semangat dan berenergi. Menjadi gelora spirit yang membakar kemalasan menjadi semangat membara untuk mencapai “hening suci” membahagiakan. Itu artinya “Dia” ada dalam vibrasi suci yang berpancaran, yang “bebas harapan dan selalu memberi”. Bagaikan air Pancoran mengalir dari tebing, tiada henti. Seperti itulah “kemuliaan” yang “dimuliakan”. Hal itu juga berarti, kemuliaan itu “dirasakan untuk memuliakan”, hingga yang kecil membesar menuju Yang Maha Besar, realitas kehidupan spiritual yang berenergi suci.
Perjalanan proses mencapai nilai kejiwaan inilah tugas dan kewajiban utama di ruang material duniawi. Bergerak meresapi dunia material, memaknai guna mencapai nilai-nilai spiritual yang berdimensi Sadguna tertuju Nirguna (hening). Sadar bergerak berproses dalam suasana edukasi formal maupun non formal adalah: jalan pemahaman dan pemaknaan yang sesungguhnya. Saat itulah “Dia” dikenal, dipahami dan dimuliakan sebagai “Sat Guru” dan “Sad Guru” dalam suasana edukasi panjang, jalan kehidupan.
Saat itulah insan-insan sadar dan siap “memberi” sebagai kewajiban, dan sadar “menerima” sebagai anugrah kelahiran yang amat rahasia. Disebut “rahasia” karena jiwa-jiwa sulit memahami ketika terpenjara dalam kurungan kuasa material duniawi. Menjadi pengetahuan “terbuka” yang meresap, menghidupkan, mampu keluar dari kurungan dan kekangan yang amat halus tak terbayangkan itu. Merupakan edukasi panjang, melalui kasih Waktu-Nya diberkati pengulangan-pengulangan kelahiran yang disebut reinkarnasi itu sendiri, sebagai upaya penyempurnaan.
Bukan dimaknai sebagai “kesenangan” dan kedekatan rohani secara personal dengan keturunannya. Suasana kejiwaan ini, yang disenangi lalu dipahami sebagai kebenaran. Tak sadar terhadap pengaburan makna inilah mesti dikuatkan dengan perbuatan baik yang “berpengetahuan suci”, benar dan bijaksana, membuka ruang pengabdian dan terus mengabdi kepada kebesaran-Nya, agar bisa “memberi” doa suci kepada nenek moyang, meringankan beban dosa masa lalunya, yang bisa disebut “suputra”. Bukan sebaliknya hanya suntuk memohon agar “diberi”, berkat material yang sudah ada di bumi, yang mesti diperjuangkan di bumi, melalui pengetahuan material yang selalu berkembang juga di bumi.
Dimensi olah rasa untuk mencapai “kebenaran” dan multi persepsional mesti dikondisikan melalui pengetahuan suci, keseimbangan sosial, serta kualitas personal memaknainya. Setidak-tidaknya terkondisi arah dan alurnya, hingga berguna dan bermakna, dalam kondisi “terbatas” memasuki ruang kebenaran yang “tak terbatas” (Cintya menuju Acintya). Sebagai pengetahuan hidup dalam kehidupan yang tiada akhirnya, mesti “disadari” dan “dimaknai” menjadi kekuatan netralitas, semangat berkarma baik, dalam segala dimensi. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments