
“AURA KASIH”
“MENYENTUH DAN TERSENTUH KESADARAN”
Oleh : I Ketut Murdana (Rebo: 16 Juli 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Kesadaran sebagai energi esensial selalu hadir dalam berbagai dimensi dan pluktuasi kehidupan sosial, menempati ruang dan waktunya masing-masing. Kesadaran itu tumbuh dan berkembang dimulai dari dalam diri, meresapi subyek dan obyek, merespon lalu memaknai ragam karakter serta kualitas humanisnya. Semua itu direspon memasuki stimulus, mengeksplorasi ragam motif lalu menjadi “masalah” yang dimasalahkan, yang tak pernah berakhir sepanjang kehidupan. Reaksi personal para atma terhadap ragam masalah itu, menimbulkan rasa senang dan tak senang, baik dan buruk lalu bergerak bersinergi bahkan bisa berbenturan, lalu mencari kutubnya masing-masing. Kedua kutub itu bergulir bergerak terus menerus, bangkit lalu reda demikian seterusnya dalam ruang dan waktu sepanjang jaman, yang disebut putaran waktu kalpa. Perubahan Kalpa ini mewarnai mencirikan karakter global hidup dalam kehidupan.
Disitulah ruang edukasi pembangkitan dan penyadaran diri agar bebas dari pemburaman warna-warna yang menenggelamkan harkat. Saat itu Sad Guru dan Sat Guru hadir meresapi dengan pengetahuannya, menyinari, mengangkat, menuntun arah dan tujuan serta membebaskan. Semua itu menjadi perjuangan mencapai kesadaran penyempurnaan diri, sebagai insan manusia yang konon paling tinggi diantara semua makhluk semesta ini. Itu artinya kesadaran hidup memaknai jaman dalam rangkaian putaran waktu Kalpa, agar terbebas dari pengaruh gelapnya.
Gerak dualitas energi Kalpa ini bergerak dinamis mesti dimaknai, melalui kesadaran berupaya terus mentransisi, lalu melepaskan ikatan kehidupan di dunia material mencapai kebahagiaan hidup di dunia rohani. Lalu sadar “sepenuh hati” untuk mengabdikannya untuk kedamaian bersama.
Kompleksitas aksi dan reaksi ke dua kutub itu, bertaruh bergulat di ruang sosial dan meresap kedalam diri untuk meresapi menemukan makna esensial, mampu memelihara, mengendalikan, serta memvibtasikan lewat pelayanan. Ketika sudah demikian berarti telah menempatkan paduan aksi dan reaksi dinamis dari kesadaran dan ketidak sadaran menjadi energi kebijaksanaan yang berguna dalam rentang kehidupan. Karena keduanya merupakan energi dualitas kehidupan yang tak dapat dihindari oleh siapapun, tetapi diselaraskan menjadi paduan harmonis penuh kebijaksanaan
Dalam kontek ini apa sesungguhnya arti kesadaran itu?. Tentu dapat dipahami bahwa kesadaran mengatasi ketidak sadaran mensinergikan nilai-nilai menjadi kebijaksanaan yang berguna. Ketidak sadaran menghadirkan tanda-tanda reaksi yang “menarik” dan responsif. Kesadaran menstimulasi, mengolah menjadikan sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi kelangsungan hidup penyempurnaan itu sendiri, yang bersifat material dan juga bersifat kerohanian.
Konfigurasi selektif, transformatif, nan esensial mencapai harmoni nan bijak. Semua itu, menghasilkan kebudayaan ragam jalur, lalu “ditradisikan”, karena di dalamnya terkondisi nilai-nilai filosofis dasar-dasar pegangan hidup menghadapi alam dan lingkungannya. Dalam kontek ini ada yang menjadi “sadar tradisi”, lalu melakukan nilai-nilai itu apa adanya secara konvensional. Akibat pola hidup seperti itu bisa menjadi cagar budaya yang hidup di dalam arus perubahan. Akibat yang terjadi, seringkali pelakunya terperangkap dalam keluhan yang sulit diterobos.
Selanjutnya adapula yang memahami kebudayaan sebagai prilaku hudup yang berubah dan berkembang sesuai alur sang waktu. Lalu terus menerus mencari jawabannya di alam semesta, melalui kerja ilmu pengetahuan dan teknologi canggih, hingga menghasilkan kebudayaan baru, sebagai jawaban terhadap karakter indentitas jamannya.
Dalam dua kutub persoalan ini, kesadaran hadir sebagai pelestari dan kreatifitas inovatif untuk menemukan sesuatu yang baru. Keduanya memerankan perannya masing-masing, secara historik berguna mempetakan perjalanan hidup manusia. Persoalan besar yang dihadapi kelompok pertama, memang lebih sulit, menghadapi tantangan perubahan sebagai dasar esensial kehidupan duniawi yang selalu berubah. Oleh karena itu, untuk mempertahankan nilai-nilai adi luhung yang ditradisikan itu, mesti siap mengkondisikan diri dalam menghadapi tantangan jaman, menjauh dari kehidupan hiruk pikuk perubahan.
Dalam kontek ini kesadaran terhadap nilai-nilai adiluhung yang ditradisikan siap dipertahankan dengan penuh kesadaran dan keyakinan terhadap leluhur yang menemukan serta mengkondisikannya. Akibat dari semua itu melaksanakan nilai-nilai tradisi sesungguhnya menghormati ajaran leluhur. Selanjutnya kelompok agresip penggerak perubahan adalah kesadaran yang penuh upaya, mengembangkan nilai-nilai ajaran leluhur menentukan corak hidup masa kini dan selanjutnya, dahulu, sekarang dan yang akan datang, menjadi simbol (Tri Sula Dewa Shiva).
Senjata Tri Sula dipegang khusus oleh penguasanya, sebagai simbol penguasa tiga waktu, dahulu, sekarang dan yang akan datang, melambangkan kuasa untuk melebur pralina dari sesuatu yang tidak baik hingga menjadi baik dan berguna dalam arti yang seluas-luasnya. Dalam proses peleburan atau pralina inilah insan-insan dunia berada, menjadi wujud kesadaran dan ketidak sadaran prilaku. Semuanya itu dilindungi dengan kuasa hukum-Nya yang adil, meresapi prilaku apapun bagi insan-insan duniawi. Melalui kuasa-Nya itu Beliau mengikat dan meresapi semua ciptaan-Nya yang tak dapat dihindari oleh siapapun. Oleh karena itu kesadaran adalah esensi sifat-Nya yang hadir menuntun penyempurnaan diri mencapai kebahagiaan dan kedamaian abadi. @@@ Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.









Facebook Comments