
“AURA KASIH”
“Posisi Kreatifas Seni Dalam Kesadaran Spiritual”
Oleh: I Ketut Murdana (Senin, 9 Maret 2026).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Ketika kreatifitas seni dan ekspresinya diposisikan pada ruang ilusi, imaji dan intuisi saja, maka seni hanya menggerakkan pengetahuan di ranah material transisional. Ilusi dan imaji ada pada ruang transisi, bayang-bayang yang mengangkat semangat perjalanan rohani menuju “penyatuan”. Memasuki realitas “diangan-angan sunyi”, tetapi “ramai bayang-bayang” yang sering kali menjebak berhenti dan tenggelam sampai di situ. Bergerak dan menemukan wujud diruang itu, seringkali dianggap sebagai totalitas berkesenian, karena di ruang keluasan itu, cendrung membuka “keliaran” emosional yang seolah-olah bebas ekspresi dan bebas arah.
Walaupun memasuki ruang angan-angan sunyi itu tak mudah, tetapi seniman bisa lebih mudah merasakan realitas itu, dalam kesadaran ulang alik. Dalam konteks spiritualitas, keliaran emosional ini mesti diwaspadai agar tetap teguh dalam desiplin mental menuju kesejatian diri. Ketika pencapaian gerak totalitas seperti itu dimaknai sebagai profesi mencapai “penyatuan hidup sejati”, merupakan pendakian kebenaran spiritual, menuju kedamaian abadi. Artinya totalitas berkesenian yang digerakkan oleh pengalaman estetik, dijiwai oleh pengalaman spiritual suci yang mantap, lalu totalitas bergerak secara profesional hingga mencapai kebahagiaan hidup lahir dan batin mencapai “pembebasan”.
Kebenaran ini menempatkan seorang seniman mencapai penyatuan (Yoga), atau melalui berkarma atau berkarya seni mencapai yoga (Karma Yoga). Ketika bergerak liar di dunia selera estetik yang memenuhi segala hasrat, amat sulit merasakan “kebenaran” dan mengendalikan pengaruh hawa napsu, yang selalu hadir menyertai dan ingin menguasai. Akibatnya sering kali tertipu oleh kekuatan negatif ilusi maya, yang amat halus. Realitas bayang-bayang ini sering dianggap bagaikan kehidupan nyata di bumi. Akibat asyik bermain-main di panggung selera yang menghibur, lalu dikira dan merasa di kehidupan dunia nyata seperti itu. Akhirnya terjebak dunia angan selera estetik bayang-bayang artifisial sementara, yang menyesatkan. Akibatnya bisa mengaburkan bahkan merontokkan jalan mencapai kebahagiaan itu sendiri.
Banyak orang-orang yang terpuaskan di dunia selera estetik nan indrawi, lalu terkesima dalam kesenangan hawa napsu, hingga tenggelam dalam neraka kehancuran. Akibatnya banyak yang gagal, terpuruk dan hancur dalam kebahagiaan rohani. Itu artinya keindahan selera yang membius kesenangan, menghibur lalu merangsang keliaran napsu. Keliaran yang memabukkan dan dimabukkan oleh ketenaran lalu kalang-kabut. Karena terkondisi ilusi maya, amat sulit dikenal dan mengendalikan akibat buruknya, yang merontokkan hingga terperangkap nerakanya.
Banyak sekali persoalan yang dihadapi oleh insan-insan dunia, yang terjebak selera diantara estetik dan erotik yang menjadikan tubuh raganya sebagai obyek selera napsu yang menyesatkan. Saat itulah seni yang tercipta di ruang selera dapat dan mudah digerogoti selera napsu yang menghancurkan.
Realitas ini menjadi seni tercipta dan tersaji dalam kegilaan napsu erotik. Membuka ruang kreatif tersendiri dalam berbagai sajian meriah, indah dan cantik menggiurkan. Ruang kreatif dan sajian meriah terkondisi diruangnya masing-masing. Dikonstruksi kekuatan promosi dan sentuhan gaya erotik yang terus berkembang merangsang selera. Persoalan itu telah menjadi profesi yang menggiurkan. Apa yang dapat dilihat disitu sesuai pandangan esensi seni?, tentu seni disitu hadir dalam upaya mengkemas selera erotik merangsang napsu.
Seni saat itu bagaikan air hening yang mengalir dari gunung, lalu semakin ke hilir semakin pekat berbau busuk dan amis menjijikkan. Menampung akibat limbah karma buruk insan-insan duniawi yang tak disadari. Walaupun demikian beban berat peran seni itu, terus dibawa ke lautan penyucian, melalui hukum semesta. Gerak realitas ini disadari oleh insan-insan yang ingin berpelaku kebajikan, dapat dimaknai sebagai edukai spirit penyempurnaan. Saat itulah karma-karma insan duniawi mengantarkan kualitas martabat hidupnya kepada Sang Pencipta, Pemelihara dan Pelebur kehidupan dunia ini.
Berkenaan dengan realitas kehidupan itu, seni semestinya ditempatkan pada ruang kreatif penciptaan yang dapat mengantarkan pada kebenaran spiritual itu. Berposisi pada dua ranah besar, yaitu: upaya penyempurnaan diri dalam upaya pemenuhan kesejahteraan lahir dan batin, lalu mengabdikan diri sepenuhnya atas kewajiban dharma di bumi. Karya-karya seni diekspresikan sebagai wahana transformatif nilai-nilai spiritual untuk membangun kesejatian diri. Dalam posisi itu, seni dan keindahan merupakan jalan utama, menjembatani antara penyempurnaan di ruang jasmani menuju kebahagiaan di ruang rohani, memasuki ruang semesta tak terbatas. Saat itu kehalusan rasa estetik mencapai Sundharam, menyadari kehadiran Sang Kalyana Sundharam, Sang Pengatur keindahan, agar insan-insan sadar berkarma yoga untuk mencapai kebahagiaan di dunia ini. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments