May 1, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“MASALAH DI TENGAH MASALAH”

Oleh:  I Ketut Murdana (Jumat, 01 Mei 2026).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Berinteraksi melalui pengetahuan material dan spiritual dalam suasana aksi dan reaksi, personal dan inter-personal, menyelaras, mencapai hidup damai bertoleransi. Demikian pula sebaliknya menjadi intoleran, menentang yang lainnya dengan kekuatan persepsi egonya, hingga menjadi perang yang tak terhindarkan. Dalam upaya pemaknaan dinamika itulah pengetahuan suci diturunkan ke bumi, untuk menyadarkan insan-insan duniawi, dalam putaran waktu jamannya. Dalam resapan “makro” semesta raya yang disebut waktu dewata yang hitungannya lebih lama, dan “mikro”, waktu duniawi yang mempolakan hukum sebab dan akibat mikro prilaku manusia.

Merefleksi ditengah-tengah “dunia kemanusiaan”. Saat ini sedang berada dalam putaran jaman Kaliyuga, yang dirasakan “tidak baik-baik saja”. Semua itu tak terlepas dari akibat prilaku insan-insan duniawi sebelumnya. Semua itu terkoneksi dengan sifat dan kuasa Semesta, yang selalu memperingati dengan kekuatan yang maha dahsyat, agar insan-insan duniawi “sadar menyelaras”, mengendalikan diri terhadap esensi nilai dan karakter dari putaran waktu jaman itu sendiri.

Untuk itu mengetahui dan memahami kebenaran itu, setumpuk dan segudang pengetahuan dan teori pergerakan jiwa-jiwa itu, telah menjadi panduan aktivitas (kitab suci) penyempurna, agar mampu mengenal dan mengendalikan diri. Semua itu telah ditulis dan diajarkan, serta dituturkan menjadi “tutur tinular” dalam ruang-ruang komunitas masing-masing, yang disebut kearifan lokal. Selalu diajarkan dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Telah hidup mengakar kuat telah memberi nilai kebenaran dan kebahagiaan bagi pemeluk dan penghayatnya.

Ketaatan belajar dan memaknai hingga mampu memegang kearifan itu, memerlukan keyakinan teguh menghadapi gempuran arus modernisasi. Datangnya agama-agama yang “konon” bernilai universal, dengan berbagai permasalahannya. Banyak yang melakukan pembodohan, lalu mengeruk kekayaan, dengan janji-janji surgawi. Pertautan asimilatif dan simbiosis serta protektif esensial yang demikian itu, masih menyisakan masalah yang bisa melebar, meluas membutuhkan penanganan secara musyawarah nan bijaksana, serta melalui hukum formal yang tak terpisahkan.

Berkenaan dengan dinamika psikologis dan kosmologis itulah masalah hadir untuk dipelajari, dimaknai sebagai prilaku di dunia material dan didunia spiritual. Penyeimbangan ke dua aspek itulah penyempurnaan yang berlanjut sepanjang hayat.  Lalu siap menyebrang dari kehidupan jasmani menuju kebahagiaan rohani. Demikianlah Wibhisana diusir dari Kerajaan Alengka, oleh Rahwana lalu bertemu Sri Rama. Kemudian dinobatkan sebagai Raja yang mampu membebaskan rakyat Alengka dari ketertindasan Rahwana. Itu artinya kuasa jaman kegelapan telah berganti menjadi jaman baru yang damai membahagiakan (keemasan). Kondisi dinamis itu menempatkan insan-insan duniawi selalu menciptakan masalah, mengerjakan dan menyelesaikan. Saat itulah Sang Penyelamat Penegak Dharma hadir memberkati.

Sadar akibat keterbatasan itu, pada saat waktunya tiba Semesta Rayapun memberkati jawaban. Oleh karena itu sepanjang waktu perbuatan insan-insan duniawi terus menerus menyisakan masalah, lalu menjadi gunung masalah. Menghadapi “sisa masalah” itulah kesadaran prilaku (Cettana) yang berpengetahuan. Demikian sebaliknya apabila tak ada respon aktif kesadaran berkarma terhadap masalah yang “ada” dan yang “akan ada”, maka ketidak sadaran (Acettana) akan menguasai, yang disebut kegelapan dalam ruang “kebekuan malas”. Tak akan ada restu dan anugrah kebajikan bagi pemalas. Tetapi tak akan lepas dari akibat kemalasan yang akan menciptakan kemelaratan.

Tak puas terhadap kemelaratan, lalu berulah seenaknya yang berakibat terhadap “keadilan” dalam ruang terbatas dan tak terbatas, hingga menyentuh putaran waktu makro. Ketika semakin banyak insan-insan dunia melakukan tindakan bertentangan dengan kebajikan itu, maka alam semestapun menjawab dengan kekuatan penghancuran-Nya sendiri. Amat sulit diprediksi, walaupun ada ramalan, tetapi banyak yang tidak benar, menjadi sisa masalah. Walaupun demikian dapat menciptakan kewaspadaan diri.

Saat itulah persoalan terhadap “keadilan” penegakan hukum formal tersebut di atas, juga selalu menjadi masalah. Keadaan hukum itu seringkali dipersepsi “tajam ke bawah”, tetapi “tumpul ke atas”. Sisa masalah yang terus tersisa itu, mengakibatkan rasa “kurang adil” lalu membangkitkan kesadaran. Semua itu adalah refleksi kesadaran, terhadap adanya “misteri” yang tersembunyi di dalam obyek masalah dan di dalam subyek diri sendiri. Masalah ini selalu menarik untuk dipahami esensi kebenarannya. Saat itulah insan-insan duniawi teredukasi. Sebaliknya membingungkan bahkan bisa putus asa, akibat tak menemukan jalan keluar yang menyelamatkan. Itu artinya ketidak kesadaran telah membuntukan jalan perbaikan. Menjadi “gelap sesaat”, lalu “menghancurkan”, yang disebut jalan yang menyesatkan. Itu berarti  telah keluar dari jalur edukasi semesta.

Saat ini banyak insan-insan duniawi, karena merasa pintar, lalu merasa tak perlu “berguru”, dan juga berkelakar telah “berguru kepada Alam Semesta Raya”, dan sangat mudah menyatakan sikap seperti itu. Mengambil teks-teks suci, yang belum pernah dipahami dan dialami, sudah disebar untuk kepentingan tertentu, lalu tak dilandasi komitmen pelaksanaan yang benar dan jujur. Akibatnya menyengsarakan rakyat, lalu menjadi sisa masalah. Sudah semestinya kedua gelombang realitas itu dipelajari, untuk mengenal dan memaknai, dalam upaya lebih komprehensif mulai dari diri sendiri, meningkatkan rasa persaudaraan dengan semua ciptaan-Nya.

Walaupun kesan dari persepsi ini terlihat agak mundur dalam suana kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih ini. Tetapi mundur sesaat untuk mengingat dan mengevaluasi apa yang pernah terjadi dan dialami sebelumnya. Menjadi kewaspadaan tersendiri, memahami gerak prilaku untuk mencapai tujuan itu sendiri. Walaupun realitas semesta menunjukkan bahwa Matahari “berputar terus tak pernah mundur” tetapi pengulangan terus terjadi dalam poros putarannya sendiri.

Dengan demikian apakah mundur sesaat demi kewaspadaan untuk lebih maju?, barangkali jawabannya adalah personalitas yang telah menjelajah dalam ruang terbatas. Memaknai putaran adil yang selalu memberi kepada ciptaan-Nya. Yang terbatas diberi kuasa menjadi terangkat kepribadiannya, lalu “bisa memberi” kepada dunia. Oleh karena itu kewaspadaan menjadi keharusan pemaknaan. Berobyek kedalam diri sendiri dan bertransformasi keluar memasuki dinamika masyarakat luas multi karakter.

Kualitas resapan dari dinamika dualitas yang berdimensi flural, mencapai pemaknaan menjadi laku kehidupan yang berdimensi vertikal dan horisontal. Pengalaman para tokoh arif bijaksana yang mengalirkan keleluhuran pengetahuan kebenaran itu. Kemudian tercatat menjadi teks-teks kebenaran.

Dua persoalan besar diantara pengalaman menerobos alam semesta, sebagai obyek kajian dan pengetahuan teks-teks kebenaran, sebagai tuntunan dan pertimbangan untuk memahami masa lalu dan kebutuhan hidup masa kini, yang dilatari karakteristik kejiwaan insan-insan duniawi saat ini. Tentu masing-masing ruang aksi dan reaksi menimbulkan “masalah” di ranah teks dan terobosan prilaku kepada semesta raya dan karakteristik insan-insan duniawi.

Berkenaan dengan dinamika realitas itu, jawabannya adalah pilihan bijaksana, memasuki hakekat nilai-nilai esensial mencapai universal. Berjuang terus untuk mencapai kesadaran kosmologis, bertransformasi dan sinergitas dalam segala lini kehidupan. Menjadikan masalah lebih luas dalam batas pemaknaan dan prilaku yang terbatas serta terjangkau menentukan kualitas personal itu sendiri. Selanjutnya menjadikan kekuatan Ilahi yang meresap ke dalam diri, terus menerus mengantarkan kepada penyempurnaan diri. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!