Seni dan Budaya

Sanur Village Festival Usung Tema “DHARMANING GESING”, Muliakan Pohon Bambu, Gugah Olah Kreativitas

SANUR (NUANSA BALI).  Ketua Umum Sanur Village Festival Ida Bagus Gede Sidharta Putra yang akrab disapa Gusde mengatakan, Tema “Dharmaning Gesing” dipilih dan diangkat tiada lain bertujuan untuk memuliakan bambu sekaligus menggugah olah kreativitas produk berbahan bambu serta menggali berbagai kemungkinan penggunaan bahan bambu yang semakin meluas dan memberikan nilai keekonomian untuk kesejahteraan bersama. “Bagi masyarakat Bali bambu memiliki filosofi kuat kian berkembang dengan kemajuan teknologi dan penggunaan batang bambu dibandingkan tanaman lain. Menjadi spirit dan semboyan hidup bagi masyarakat Hindu Bali. Bambu semasa kecil tumbuh tegak, namun ketika sudah menginjak masa tua maka akan merunduk. Artinya, manusia seyogyanya senantiasa mampu menjaga tata krama dan sopan santun didasari kerendahan hati. Bambu juga memiliki sifat kian tua menjadi semakin kuat, disamping juga rumpun bambu merupakan simbolisasi sebuah persatuan, dan sangat baik digunakan untuk penghijauan terutama untuk menjaga sumber mata air.

 Lebih lanjut dikatakan, branding yang telah dibangun hingga memasuki kegiatan tahun yang ke ke-XIV ini diharapkan menjadi momentum untuk meningkatkan kunjungan wisatawan yang dinilai masih lesu. Dimana rata-rata tingkat hunian kamar di kawasan Sanur pada semester I/2019 hanya sekitar 55 % dan ini menjadi kosentrasi berbagai pemangku kepentingan agar dapat mendorongnya bersama indikator lainnya. Saat ini Sanur Village Festival masuk 8 besar kegiatan kalender pariwisata nasional Kementrian Pariwisata Republik Indonesia. Pihaknya bersama warga ingin terus memberikan sumbangsih bagi keberlanjutan pariwisata yang menjadi penopang ekonomi terbesar di Bali. Salah satunya melalui pagelaran festival yang kali ini mengangkat tema “Dharmaning Gesing” yang menggerakkan berbagai komunitas untuk tak henti melakukan kreasi dan inovasi terhadap kebermanfaatan tanaman bambu yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Bali.

“Untuk itu kami berusaha menyajikan kreasi, inovasi, dan kolaborasi berbasis komunitas warga yang kian menjadi daya tarik wisatawan. Termasuk melakukan evaluasi dan meningkatkan kualitas kemasan festival, sehingga tetap menjadi daya tarik, bahkan menjadi kenangan mengesankan bagi para pengunjung termasuk wisatawan,” ujar Gusde yang juga Ketua Yayasan Pembangunan Sanur ini, di hadapan awak media dalam acara jumpa pers (Senin, 19/8/2019) di Santrian Gallery, Griya Santrian Resort & Spa, Sanur. Lebih jauh dijelaskan Gusde, bahwasannya Sanur Village Festival ke-XIV ini berlangsung selama 5 hari yakni dari tanggal 21 hingga 25 Agustus bertempat di Pantai Matahari Terbit Sanur. “Seluruh persiapan hingga Minggu (18/8) telah mencapai 75% dan kami pastikan menjelang pembukaan sudah bisa rampung. Kegiatan ini rencananya dibuka langsung Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Arief Yahya pada hari Rabu 21 Agustus.

Pada festival kali ini warga Sanur juga bersuka cita Karena salah satu tokoh dan Founder Santrian Group  Ida Pedanda Gede Dwija Ngenjung dengan nama walaka-nya bernama Ida Bagus Tjetana Putra memperoleh tanda kehormatan Satya Lencana Kesetiaan Pariwisata dari Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang secara simbolis telah diserahkan kepada putra ketiganya IB Agung Partha Adnyana di Jakarta dan akan diserahkan langsung oleh Menpar saat malam pembukaan festival. Pihaknya juga berusaha menerjemahkan tema ke dalam berbagai perangkat  dan piranti di arena festival, mulai dari gerbang masuk hingga ke panggung utama yang didominasi bahan dari bambu. ”Memang, belum seluruhnya keinginan dapat terwujud, namun setidaknya upaya ini diharapkan mampu memantik keinginan bersama untuk kembali memanfaatkan bahan ramah sekaligus meningkatkan nilai ekonomis dan kegunaannya.

Salah satu kolaborasi yang bakal ditampilkan pada malam pembukaan adalah berupa kolaborasi musisi jazz Indra Lesmana dengan seniman I Nyoman Windha bersama Sekaa Jegog yang menggunakan instrument berbahan bambu. “Kolaborasi dengan Pak Windha pernah kami lakukan dalam konser “Megalitikum Kuantum” di Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana tahun 2005 silam dan ini adalah yang kedua kalinya,” katanya seraya menambahkan, selain membawakan komposisi ketika itu, pada malam pembukaan nanti, kolaborasi dengan music jegog akan menampilkan kejutan baru. Festival kali ini menghadirkan dua panggung yang secara bergantian akan menyajikan pagelaran di antaranya; berbagai jenis kesenian tradisional, fashion, dan musik. Pada saat malam pembukaan (Rabu, 21/8) akan tampil di antaranya; Koko Harsoe & Kuba Korownski, Pongki Barata, Indra Lesmana Jegog Orchestra, Trio Lestari feat Mostly Jazz Group, dan Crazy  Horse feat Ocha. Untuk hari Kamis (22/8) akan dimeriahkan oleh  Ito Kurdhi, Nostress,  Dewa Budjana Mahandini dan Katon Bagaskara. Jumat (23/8) Moonglade, Kunto Aji feat Mostly Jazz Group, Eva Celia feat Teza Sumendra dan Andre Dinuth feat Anda. Sabtu (24/8) Nancy Ponto, Gus Tedja, Krakatau, dan Classik Rock, sedangkan Minggu (25/8) dimeriahkan Old Taroo, Isyana Saraswati, Navicula dan Joni Agung.

Lebih jauh Gusde menjelaskan, sepanjang lima hari itu pula, sejak pagi hingga malam diisi berbagai aktivitas di antaranya; futsal, kite surfing, sepeda gembira fun beach games, aksi lingkungan, Sanur Golf  Tournament, Santrian Regatta Sailing, Bali International Triathlon, , Yoga, Balap Jukung, Pameran Usaha Mikro, kecil, dan menengah, bazaar kuliner, kontes selancar, dan parade budaya. “Sebelumnya beberapa kegiatan telah kami lakukan terlebih di antaranya; Sanur International Kite Festival yang diikuti peserta dari luar negeri dari 26 negara, dialog budaya SVF menghadirkan 4 narasumber, dan pameran foto karya 31 fotografer yang seluruhnya merespon tentang tema yang kami usung,” katanya.

“Semoga melalui tema ini masyarakat akan semakin memahami filosofi daripada pohon bambu itu. Terlebih bagi umat Hindu di Bali, terutama dalam melaksanakan upacara Panca Yadnya, peran bambu sangatlah penting, karena 80 persen sarana upakara menggunakan bahan dari bambu. Dengan pemahaman ini diharapkan masyarakat senantiasa menjaga kelestarian keberadaan pohon bambu yang belakangan kondisinya kian mengkhawatirkan, dimana akibat kurangnya pemahaman, membuat masyarakat banyak yang menebang pohon bambunya dan mengganti dengan tanaman lain,” tegas Gusde seraya mengajak masyarakat untuk datang menyaksikan berbagai even dalam Sanur Village Festival ini. Pun, mengajak semua pengunjung  untuk senantiasa menjaga kebersihan, utamanya dari sampah plastik guna mendukung dan mensukseskan program Gubernur Bali.*** Nuansa Bali.com/Tim.

Facebook Comments