November 28, 2021
Cetik Bali

BELAJAR DAMAI DALAM ZAMAN KALI. Oleh: Drs I Ketut Murdana M,Sn., (Sri Hasta Dhala)

CAHAYAMASNEWS.COM. Kata damai sering digunakan oleh khalayak umum untuk memberi ucapan selamat dalam hari besar agama-agama tertentu, ritual tertentu sebagai upaya untuk ikut mendoakan seseorang atau kelompok agar situasi yang diharapkan memperoleh nilai-nilai yang tertuang dalam kata “damai”. Dalam pandangan ini kedamaian menjadi harapan, walaupun terkadang hanya sekedar basa-basi atau sekedar menyejukkan suasana persahabatan, atau meneduhkan suasana keruh yang pernah terjadi atau dialami sebelumnya. Ucapan seperti itu menjadi sangat penting dan bermakna, setidak-tidaknya mulai dari yang menyampaikan pesan dan menerimanya,  melalui kata damai itu suasana hati kita dipengaruhi oleh getaran makna kata itu, mulai dari permukaan sampai pada kedalaman kualitas masing-masing.

Kualitas getaran dari kata damai itu sangat ditentukan oleh tingkat dan jenis pergaulan serta ketulusan hati nurani. Konfigurasi dari ketiga aspek itu  merepleksikan berbagai macam aktivitas dengan karakter masing-masing. Ketika ucapan selamat dan damai dari sahabat kita disertai dengan rasa dan hati nurani yang tulus ikhlas, getaran kesejukan dan rasanya menembus hati yang paling dalam. Tiada kata yang tepat untuk menyatakan kondisi interpenetrasi yang telah mencapai puncaknya, sehingga identitas lebur menemukan kebagahagiaan. Ketika suasana hati seperti itu terjadi, orang akan meneteskan air mata penuh bahagia. Kebahagiaan yang tercipta melalui suasana seperti itu bisa dirasakan berhari-hari, dan mampu menggaerahkan semangat hidup yang muncul melalui inspirasi-inspirasi yang cemerlang. Dinamika proses itu dapat disebut sebagai “semangat kebangkitan” yang mampu melihat masa depan yang cerah. Bagi orang Bali sering menyebutkan suasana seperti itu adalah “Bersinarnya aksara suci dalam diri”, sebagai akumulasi dan terkondisinya sifat-sifat sattwam yang mampu menundukkan sifat-sifat rajas dan tamas dalam diri manusia. Oleh karena itu, orang selalu ingin mengulangi dan menciptakan suasana yang penuh damai seperti itu.

Sangat berbeda bila ucapan kata damai, atau jabat tangan itu disampaikan hanya sekedar memenuhi syarat, ia hanya lewat “tanpa pesan dan kesan”, merupakan wujud pekerjaan sia-sia. Dengan demikian makna kata “damai” dalam hal ini dimanfaatkan untuk memenuhi harapan yang menyimpan maksud-maksud baik, benar dan mulia. Selanjutnya kata damai dalam kontek terbentuknya nilai-nilai intrinsik dapat diartikan sebagai perpaduan beragam nilai, dengan unsur-unsurnya, baik yang bertentangan, berlawanan, bermusuhan, unik, dan lain sebagainya lebur menjadi susunan yang teratur, selaras dan menuju kesucian (Shiwam). Dalam suasana seperti itu berbagai unsur yang berlawanan atau bertentangan menemukan ruang dan tempatnya masing-masing dan dibingkai oleh kesadaran terhadap unsur-unsur lainnya pada tempat dan ruang yang lainnya yang berbeda. Dari berbagai perbedaan itu masing-masing unsur tunduk pada kebenaran, kebijaksanaan dan kesucian. Dengan demikian kesucian menundukkan kebijaksanaan, kebijaksanaan menundukkan kebenaran dan kebenaran menundukkan perbedaan. Menundukkan bukan berarti mengalahkan, tetapi membentuk struktur herarkhi sesuai dengan sifat penyatuan kuasa-Nya.

Ketika eksistensi hukum sifat-sifat alami ciptaan dan kuasa-Nya ini telah menjadi bagian yang hidup dan replek dalam kehidupan manusia, maka orang itu akan selelu berbuat dan mengabdi untuk kesejahtraan dan kedamaian umat manusia. Barangkali tidak ada yang menyangkal bahwa kedamaian merupakan harapan bagi setiap insan di bumi ini, namun belum semua orang tersentuh oleh kedamaian itu, disitulah letak persoalan yang kita hadapi pada jaman Kali Yoga ini. Pertanyaannya kemudian muncul, di manakah kedamaian itu terjadi?. Dari ucapan dan harapan yang sering ditulis dengan kata-kata “Semoga damai dihati dan damai bumi”. Harapan yang tertulis itu dapat diartikan bahwa kedamaian dalam hati akan terjadi apabila melewati proses interaksi dengan bumi atau jagat semesta ini dengan hukum Rwa-Bhineda-Nya yang tidak bisa dihindari oleh siapapun yang hidup di bumi ini. Proses interaksi adalah pengenalan diri dan orang lain dan seluruh ciptaan-Nya yang menduduki bumi ini dengan berbagai sifat dan karakternya, sebagai repleksi hukum rwa bhineda. Dengan demikian ruang interaksi manusia amatlah luas dan tak terbatas. Ruang interaksi adalah ruang manusia untuk berproses, untuk menemukan berbagai pengetahuan yang menyangkut apa yang boleh dilakukan  mulai dari apa yang bisa dimakan, menyelamatkan diri, menemukan kekasih pasangan hidup, mengatasi berbagai kesulitan dan seterusnya. Masalah ini secara alamiah selalu muncul dan mesti diselesaikan dalam setiap proses kehidupan manusia. Proses pengenalan dan penyelesaian masalah merupakan proses terwujudnya ilmu pengetahuan yang mampu menuntun manusia agar bisa hidup di bumi ini dengan selamat, dan mencapai kedamaian. *** Bersambung————

Ashram Vrata Wijaya, Jalan Siulan Gang Nusa Indah IV/4 Denpasar Timur, email Murdana 151 @ gmail. Com

Facebook Comments