Cetik Bali

BELAJAR DAMAI DALAM ZAMAN KALI. Oleh: Drs I Ketut Murdana M,Sn (Sri Hasta Dhala).

CAHAYAMAS NEWS.COM. Persoalan-persoalan yang dihadapi dalam dalam proses pengenalan diri, dalam kompleksitas pergaulan dunia dan misteri alam semesta yang maha dasyat, yang menjadikan medan perjuangan manusia untuk mencapai kedamaian. Dengan demikian kata kedamaian merangkul makna pengenalan, pengembangan, penyucian segala permasalahan yang dihadapi manusia dan mendudukkannya pada posisi netral dan suci. Posisi netral menempat setiap insan hidup secara berdampingan, dan tidak saling menguasai. Ketika keinginan menguasai orang lain atau alam tidak terbendung, maka kedamaian akan menjauh dan bernilai sangat mahal yang mengakibatkan korban arta benda, nyawa, dan kerusakan alam. Dengan demikian kesombongan penguasa ilmu pengetahuan berkerja sama dengan penguasa ego, politik, ekonomi, persenjataan yang digunakan  menguasai orang lain dan bumi ini adalah musuh yang amat bertentangan dengan prinsip kedamaian. Musuh dalam hal ini adalah persoalan utama yang mesti diselesaikan dengan pembinaan, penyempurnaan dengan kebajikan agar menemukan kedamaiannya. Berkenaan dengan hal itu kedamaian di bumi memiliki lapisan-lapisan yang bertingkat-tingkat dan amat halus, bisa ditemukan dalam berbagai situasi bagi penekunnya. Oleh karena itu jadilah penekun dan selalu berjalan pada kedah-kaedah yang telah digariskan-Nya.

Apabila prinsip-prinsip pertentangan ini kekuatannya berkembang tanpa kendali yang ketat, maka semakin besar pengaruhnya terhadap umat manusia, yang berakibat semakin kaburnya kebenaran yang menjadi tujuan hidup manusia yang sesungguhnya. Akibatnya bila diikuti oleh banyak orang dipandangnya sebagai suatu kebenaran. Kekaburan antara “kebiasaan” dengan “kebenaran” sering mengecoh manusia, bahkan sering pula menimbulkan berbagai persoalan. Kebiasaan sering dianggap sebagai kebenaran dan kemudian dikukuhkan oleh ego pribadi dan ego sektoral akibatnya ia bertidak “membenarkan kebiasaan” bukan “membiasakan kebenaran”, akhirnya menjadilah dia “kabut yang membingungkan” masyarakat. Cara berpikir “pembenaran” dan “sistem yang membingungkan” inilah yang kita hadapi dewasa ini.  Dalih-dalih serta isu yang dikonstruksi sangat bersifat sementara, misalnya kemiskinan, kebutuhan ekonomi, dan untuk memperkuatnya didukung oleh kekuatan politik masa suryak siu. Isu-isu serupa sangat ampuh untuk memojokkan pemerintah, untuk menggulingkan kekuasaan, yang pada akhirnya rakyat keluar dari mulut singa masuk ke mulut macan.

Realitas pembenaran isu seperti itu diwacanakan oleh kekuatan politik dan ekonomi, serta kekuatan manusia raksasa, maka semakin terdesaklah “pengikut-pengikut kebenaran yang mendamaikan umat manusia”, itulah wujud Jaman Kali Yoga . Realitas seperti Itu menunjukkan bahwa kedamaian telah menjauh dari kehidupan manusia, dan berarti bahwa kuasa Tuhan semakin jauh dari sebagian besar kehidupan manusia saat ini. Hal itu diakibatkan oleh lahir dan berkuasanya manusia berwatak raksasa yang semakin sakti, menghancurkan seluruh tatanan sosial dan tata susila umat manusia yang berakibat terhadap rusaknya sistem ekologi bumi ini. Dampak dari semua itu, mengakibatkan kekacauan, perang antar kelompok, suku, desa, kota dan juga antar bangsa, yang terjadi setiap saat di belahan manapun di bumi ini.

Oleh karena demikian kuatnya energi raksasa berperang, walaupun berkali-kali utusan dari aparat yang terendah dari perangkat desa hingga Perserikatan Bangsa Bangsa turun langsung mengadakan perundingan damai, hasilnya tetap buntu bahkan masalahnya berkembang lebih dasyat dalam bentuk lainnya. Kesepakatan damai hanya terjadi di meja perundingan, dan setelah sampai di lapangan perang lagi dan perang lagi itulah yang terjadi. Akibat perang yang memiskinkan masyarakat, bangsa dan negara, tidak menjadi pertimbangan penting yang menentukan keputusan. Tetapi prinsip-prinsip menguasai, menjajah dan kemenangan menjadi suatu kebanggaan dan martabat suatu bangsa. Bila hal itu dilihat dari sudut pandang kehidupan bersama di bumi ini adalah keputusan dusta yang menyiksa umat manusia yang tidak berdosa dan merusak alam semesta. Alamat Penulis: Ashram Vrata Wijaya, Jalan Siulan Gang Nusa Indah IV/4 Denpasar Timur, email Murdana 151 @ gmail. Com

Facebook Comments