Adat dan Tradisi

Kuatkan Keyakinan, Adat, Budaya, Hadapi Gempuran Globalisasi, Yayasan Sabha Budaya Bali Gelar Pembinaan di Desa Buahan Gianyar

CAHAYAMASNEWS.COM. Dalam upaya menghadapi gempuran dan dampak era globalisasi/era milineal yang sarat dengan tantangan dan perubahan yang semakin mengkhawatirkan, perlu dilakukan berbagai upaya oleh semua elemen masyarakat maupun pemerintah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan penguatan pemahaman dan keyakinan umat Hindu terhadap agama, adat, tradisi, budayanya.  Seperti yang dilakukan Yayasan Sabha Budaya Bali bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, terus melakukan berbagai upaya untuk membekali masyarakat dengan melakukan kegiatan rutin berupa penyuluhan dan pembinaan di sejumlah desa di Bali. Seperti yang dilakukan di Desa Buahan, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, Rabu (18/92019).

Sejak kali pertama digelarnya kegiatan ini di sejumlah desa di Bali, banyak sekali persoalan mencuat yang perlu segera dicarikan jalan keluar. Pantauan Nuansa Bali dan Cahayamasnews.com, yang terus menjalin kerjasama dan sekaligus terus mengikuti kegiatan dimaksud, bahwa antusias masyarakat begitu besar. Hal itu dibuktikan masyarakat tampak begitu antusias, tertib, serius mendengarkan dan menyerap pemaparan para narasumber, bahkan selalu kekurangan waktu. Besarnya antusias dalam melontarkan berbagai pertanyaan, keluhan membuktikan, bahwa betapa hausnya mereka yang sangat jarang mendapat sentuhan pencerahan baik tentang agama, adat, budaya, tradisi, dan persoalan lainnya yang dihadapi sehari-hari. Untuk kegiatan kali ini Yayasan Sabha Budaya Bali menghadirkan narasumber 3 sulinggih Tri Sadhaka (Siwa, Budha, dan Bujangga) serta sejumlah praktisi bidang agama, adat, seni, dan budaya. Pembinaan bidang agama disampaikan oleh Ida Pandita Mpu Upadyaya Nanda Tanaya dari Griya Panjer, Denpasar, Bidang budaya oleh Ida Rsi Agung Wayabya Suprabhu Sogatha Karang, dari Griya Bang, Br. Pasekan Buduk, Mengwi, Badung, serta bidang adat disampaikan oleh Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Kertha Bhuwana dari Griya Batur Giri Murti Glogor, Denpasar. Pengenter/Pembawa acara dipercayakan kepada Guru Mangku Kompyang Rupa, dan dipandu oleh moderator Ida Bagus Manuaba. Sementara untuk seksi dokumentasi, administrasi, dan konsumsi adalah I Gede Suardana Putra dan Kadek Agus Sujana S.Kom.

Pembinaan yang dihadiri ratusan krama dan tokoh masyarakat serta sejumlah pejabat penting pemerintahan itu mengusung tema “Melalui Kegiatan Pembinaan Adat, Agama, dan Budaya Bali, Kita Tingkatkan Pelaksanaan Dharma Agama dan Dharma Negara”. Acara pembinaan dihadir Bupati Gianyar diwakili Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali diwakili Kabid Sejarah, Camat Payangan, Kapolsek Payangan, Kepala Desa Buahan, perwakilan Kantor Agama Kabupaten Gianyar, Majelis Madya Desa Adat Kabupaten Gianyar, Bendesa Adat dari lima desa adat di Desa Buahan, pecalang, para pemangku, serati, dan prajuru serta undangan lainnya.

Bupati Gianyar yang diwakili Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar I Ketut Mudana sekaligus membuka acara pembinaan tersebut menyatakan, sangat mendukung dan mengapresiasi dilaksanakannya kegiatan semacam ini. Pihaknya berharap, ke depan lebih banyak lagi daerah yang diberikan pembinaan, guna meningkatkan pemahaman sebagai bekal sekaligus benteng dalam menghadapi gempuran dampak kondisi zaman yang disebut era globalisasi/milineal ini. Pihaknya berharap, melalui kegiatan pembinaan ini mampu menangkal berbagai dampak negatif yang dapat mengancam eksistensi agama, adat, dan budaya Bali. “Semoga kegiatan ini mampu memperkuat persatuan dan kesatuan serta mampu menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian adat budaya dan agama yang diwariskan secara turun-temurun,” ujar Kadisbud I Ketut Mudana seraya meminta bendesa bersama krama membuat program yang dapat menangkal pengaruh dampak negatif pesatnya perkembangan pariwisata saat ini dan pemerintah daerah akan selalu mensuport.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali diwakili Kabid Sejarah Ibu Dayu Masyeni menyatakan menyambut baik kegiatan ini dan telah bekerjasama sejak tahun 2005, hal ini dilakukan dalam rangka bersama-sama menguatkan keyakinan umat Hindu khususnya, terhadap kelestarian adat, agama, seni, dan budaya yang dimiliki dalam menghadapi era globalisasi saat ini. Dalam usaha penguatan pemahaman dan keyakinan, tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan harus bergandengan tangan dengan pihak-pihak yang membidangi dan peduli dengan kondisi umat saat ini. “Apa yang dilakukan Yayasan Sabha Budaya sangat sejalan dengan visi Gubernur Bali “Nangun Sat Kerti Loka Bali”. Untuk itu, Dinas Kebudayaan Provinsi terus mendukung dan mensuport, baik dari segi moril dan materiil,” ujarnya. Pembinaan ini juga bertujuan untuk mengingatkan, sehingga krama menjadi sadar terhadap tantangan yang dihadapi di zaman globalisasi saat ini. Semakin canggih teknologi dan kian pesatnya perkembangan pariwisata membawa dampak negatif yakni tergerusnya keyakinan dan kepedulian krama akan agama, adat, tradisi, dan budaya yang diwariskan leluhurnya. “Saya berharap pembinaan ini dapat menjadi bekal krama untuk menghadapi ancaman dan gempuran akibat pesatnya perkembangan pariwisata yang membawa dampak negatif terhadap peradaban masyarakat, termasuk kian memudarnya keyakinan dan kepedulian masyarakat dalam melestarikan adat, budaya yang diwariskan secara turun-temurun,” katanya.

Kepala Desa Buahan yang juga Bendesa Desa Adat Susut, Wayan Sudarsa dalam jumpa persnya menjelaskan, Desa Buahan terdiri 5 Desa Adat yakni Desa Adat Buahan, Gambih, Jaang, Satung, dan Desa Adat Susut. Desa ini memiliki hawa yang sejuk dan terkadang dingin sehingga cocok untuk lahan pertanian dan perkebunan. Selain itu, desa ini memiliki pemandangan dengan latar pegunungan dan hutan yang indah, sehingga di desa ini berkembang juga sektor pariwisata seperti Hotel, Villa, dan Bungalow namun belum sebesar sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan. Mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani, peternak, dan sebagian kecil lainya berprofesi sebagai PNS, wiraswasta, guru, dan profesi lainnya.

Mengingat perkembangan pariwisata di desa ini tergolong sangat pesat, sehingga masyarakat perlu dibekali dengan kualitas penguatan pemahaman dan keyakinan terhadap agama, adat, seni, dan budaya yang dimiliki. Jangan sampai warisan yang adiluhung ini tergerus bahkan punah dan tinggal kenangan. “Dengan adanya kegiatan ini tityang sangat antusias dan mendukung sekaligus berterima kasih kepada Yayasan Sabha Budaya Bali yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali yang telah memberikan pembinaan kepada warga tityang, terlebih menerjunkan narasumber sejumlah sulinggih,” ujarnya seraya menambahkan bahwasannya ini merupakan suatu kebanggaan dan penghormatan luar biasa. Ke depan pria yang kini menjabat sebagai Kepala Desa dan masih mengemban tugas sebagai Bendesa Adat ini, berharap kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini, melainkan agar dapat dilaksanakan secara berkesinambungan.

Kegiatan pembinaan ini berperan penting untuk memahami sekaligus memilih dan memilah, adat budaya mana yang perlu dipertahankan dan mana yang sudah perlu dirubah sesuai perkembangan zaman. Menyikapi keberadaan krematorium, selaku kepala desa pihaknya tidak mempermasalahkan dan tidak berani menginterpensi, mengingat hal itu masuk dalam ranah adat. “Sepanjang hal itu dibenarkan oleh aturan adat, maka tidak menjadi masalah. Walaupun keberadaan krematorium itu diakui membawa sejumlah dampak negatif,” ujarnya.

Ketua Umum Yayasan Sabha Budaya Bali, DR. Drs, I Gusti Made Ngurah, M.Si., dalam keterangan persnya mengatakan, bahwasannya kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan pemahaman dan keyakinan umat Hindu terhadap agama, adat, tradisi, budaya guna menghadapi era milineal, juga untuk memberikan satu motivasi terhadap kebertahanan daripada bangsa ini dalam menghadapi persoalan berbangsa, bernegara, bermasyarakat, dan beragama. “Tujuan inti kegiatan ini adalah berupaya meningkatkan wawasan, pemahaman, dan kesadaran masyarakat dalam berbangsa, bernegara, bermasyarakat, dan beragama. Disamping juga untuk meningkatkan kualitas kehidupan, mengingat tantangan dan godaan, baik dari segi ilmu pengetahuan, teknologi, maupun informasi sangat pesat dan membawa berbagai dampak, baik ke arah kebaikan dan kemajuan (positif) dan ataupun sebaliknya berdampak kemunduran dan bahkan kehancuran (negatif),” tegas pria yang dikenal low profile ini menjelaskan.

Lebih jauh I Gusti Made Ngurah yang juga duduk sebagai Petajuh bidang adat di Majelis Utama Desa Adat Provinsi Bali menjelaskan, Output daripada kegiatan ini adalah berharap agar masyarakat bisa hidup dengan rukun, harmonis, saling menghargai, dan menerima adanya perbedaan, guna mewujudkan kehidupan yang aman, bahagia, damai, dan sejahtera. Agama jangan sampai berubah karena agama adalah merupakan wahyu. Yang bisa berubah sesuai perkembangan zaman adalah adat, budaya sebagai penyangga agama itu sendiri. Justru, bila adat dan budaya itu tidak berubah, maka ia akan hancur, karena tidak sesuai dengan kebutuhan pada zaman itu. Contoh; bila dahulu mutlak pada zaman agraris umat melaksanakan upacara sampai berbulan-bulan dan itu tidak menjadi masalah.

“Namun, ketika kita dihadapkan pada zaman industri dan dituntut waktu yang serba praktis dan efisien, sementara kita masih sibuk pada upacara dalam waktu hingga berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, maka kita akan kalah bersaing merebut peluang dalam segala bidang kerja. Karena itu, kita dituntut dapat memanfaatkan waktu se-efisien dan se-praktis mungkin, sehingga terwujud keharmonisan dan keseimbangan,” tegasnya seraya menambahkan, bahwasannya agama di Bali dilaksanakan berdasarkan tiga prinsip yakni Sima (desa/tempat) Dresta (kebiasaan-kebiasaan yang diturunkan/diwariskan para tetua atau leluhur terdahulu), dan Semaya (kesepakatan). Sehingga pelaksanaan agama Hindu di Bali berbeda-beda, sesuai dengan Sima, Dresta, dan Semaya di masing-masing desa bersangkutan dan ini harus dipahami untuk menghindari konflik di masyarakat.

Ketua Umum Yayasan I Gusti Made Ngurah mengajak kepada krama Desa Buahan, untuk senantiasa memelihara persatuan dan kesatuan, rasa manyama-braya dan gotong-royong, menguatkan keyakinan, melestarikan/mengajegkan adat, budaya, tradisi yang diwarisi, serta diharapkan selalu waspada kepada pihak-pihak yang ingin membuat adat, budaya, tradisi, serta keyakinan menjadi tidak ajeg lagi. Dalam kesempatan itu Ketua Umum yang murah senyum ini, tak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah menyukseskan acara penyuluhan dan pembinaan tersebut, terutama Dinas Kebudayaan Provinsi Bali yang selama ini terus mensuport baik dari segi moril maupun materiil.

Pada sesi dharmatula (tanya jawab-red), akibat saking antusiasnya masyarakat, sampai-sampai waktu yang disediakan terasa kurang. Krama begitu semangat mengeluarkan semua unek-unek yang terus menggelayuti benaknya dan berharap bisa mendapat jawaban sekaligus solusi dari para narasumber yang hadir pada kegiatan tersebut. Berbagai pertanyaan dilontarkan mulai dari persoalan keberadaan seni sakral, sengketa adat, maraknya penjualan tanah, hingga fenomena keberadaan krematorium terhadap eksistensi desa adat, dan persoalan lainnya. Sejumlah penanya di antaranya; Wayan Panggil, I Wayan Suda, dan lainnya. Selanjutnya sesi dharmatula di tutup karena keterbatasan waktu.

Semua pertanyaan yang dilontarkan krama tersebut dapat dijawab dengan baik dan memuaskan. Sejumlah krama sangat mengharapkan kegiatan semacam ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan di desanya, sehingga persoalan yang dihadapi dapat dipecahkan bersama. Selanjutnya, pembinaan ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan berupa sejumlah buku oleh ketua yayasan diterima langsung bendesa adat, desa setempat.

***Nuansa Bali & Cahayamasnews.com-Andi & Tim.

Facebook Comments