Cetik Bali

BELAJAR DAMAI DALAM JAMAN KALI. Oleh: Drs I Ketut Murdana M,Sn (Sri Hasta Dhala),

CAHAYAMASNEWS. Merusak alam semesta adalah merusak “Ibu Pertiwi” yang memberikan segalanya, yang mesti kita Puja dan jaga kelestarian-Nya. Itulah kewajiban utama yang patut dikerjakan, ketika kita ingin hidup damai di bumi ini. Ketika kewajiban utama itu dilupakan, ia akan menjadi  pengendali umat manusia, pemimpin negara, instansi maupun kelompok masyarakat,  yang berlahirkan dan membesarkan watak Rahwana atau Duryadana dalam dirinya. Watak-watak keraksaan seperti itu sudah sepatutnya dijauhi, karena mengakibatkan hancur leburnya peradaban.

Akibat keangkuhan watak itu negara yang diperintahnya menjadi miskin, kacau balau, penduduknya ketakutan, tidak tentram, penyakit aneh-aneh berjangkit disana sini yang sulit dicarikan obatnya, kecelakaan besar terjadi dimana-mana, bom meledak dimana-mana, kejadian alam besar yang menghacurkan tatanan kehidupan manusia terjadi, seolah-olah dunia ini akan kiamat. Itu artinya alam semesta berontak dengan hukum-Nya sendiri yang menasehati, serta menghukum umat manusia, terutama pemimpin besar dunia yang memiliki kekuatan dan kemampuan ilmu pengetahuan, teknologi, politik dan ekonomi. Agar supaya menghentikan kegiatan-kegiatan yang memperkosa alam dan menguasai hak-hak hidup orang lain. Walaupun hak asasi manusia selalu didengungkan dengan kekuatan hukum politik, ekomnomi dan persenjataan, ternyata penggagasnya melakukan pelanggaran yang paling dasyat. Kritik, kontrol atau saran negara berkembang tidak mampu didengar suaranya, karena suaranya memang kecil, tanpa kekuatan, maka yang kuat akan semakin kuat untuk menguasai orang lain. Hal ini sudah amat bertentangan dengan prinsip-prinsip terbentuknya nilai kedamaian. Semestinya yang kuat membantu yang lemah, namun kenyataan yang terjadi kekuatan ilmu pengetahuan yang dimiliki untuk memeras yang lemah, apa bedanya hukum manusia dengan hukum rimba…. yaa itulah yang terjadi.

Bila dilihat tingkat peradaban ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dewasa ini sangat tinggi dan spektakuler dibandingkan dengan peradaban masa lalu nenek moyang kita. Dari warisan budaya itu menghasilkan artepak budaya yang menjadi kekaguman dunia yang  memberikan andil besar bagi prkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni termasuk asset ekonomi pariwisata yang mensejahtrakan umat manusia sampai dewasa ini. Pertanyaannya artepak apa yang akan diwariskan dari peradaban masa kini untuk masa depan anak dan cucu kita. Ketika kita membiarkan persoalan kesombongan intelektual seperti ini berjalan lebih kuat lagi, tentu masa depan anak cucu kita akan menggugat peradaban yang kita ciptakan saat ini.

Menyadari persoalan adalah penting, agar para ilmuwan, filosuf, seniman bukan hanya sibuk menemukan rumus-rumus saja, tetapi bagaimana dapak-dampak hasil penelitian yang ditemukan agar dapat memelihara keseimbangan bumi dengan segala seluk beluknya. Ditemukan plastik oleh ilmuwan, tetapi tidak di sertai sosialisasi pengertian dan dampak yang ditimbulkan secara memadai kepada masyarakat. Akibatnya alam menjadi hancur seperti ini, siapa yang bertanggung jawab terhadap hal itu ?, sesungguhnya kalau kita ingin alam kita kembali normal stop saja produksinya, atau dicarikan solusi yang sesuai dengan kemampuan untuk mengendalikan dampak social yang ditimbulkan. Namun kenyataan yang dialami adalah kedahsyatan produksi dengan pengendaliannya sangatlah tidak seimbang, hal itu berarti ketika kita membutuhkan, menggunakan, kita lupa terhadap dampak lingkungannya. Dengan demikian perasaan kita selalu terusik, terhadap dampak kesehatan yang ditimbulkan.

Penulis tinggal di Ashram Vrata Wijaya, Jalan Siulan Gang Nusa Indah IV/4 Denpasar Timur, email Murdana 151 @ gmail. Com

 

Facebook Comments