Bali

Ketut Indrayasa Nyaris Kecele, Ketut Pasek Selamatkan Tapuk Kepemimpinan Adat di Bulian

BULELENG (CAHAYAMAS-NEWS). Gede Pasek jatuh kedua kalinya, Ketut Indrayasa terlempar jauh dalam pemilihan Kelian Desa Adat Bulian, sehingga Ketut Pasek bisa melenggang mulus untuk memimpin peradatan Bulian periode 2019-2020 pemilihan Kelian Desa Adat Bulian periode 2019-2024. Dalam proses pemilihan tersebut memang mencatat banyak hal, termasuk sandungan berat yang harus dihadapi panitia dibalik sikap apatis sekelompok warga yang menghendaki awig-awig 1988 sebagai tameng perebutan posisi kelian adat. Belum lagi minimnya waktu yang tersedia dan terdesaknya waktu jabatan kelian adat lama Ketut Indrayasa yang berakhir 18 Desember 2019, ajang pemilihan Kelian Desa Adat Bulian pun didera sikap plin-plan petugas yang diberi wewenang  untuk mengurus proses pemilihan kelian adat yang berbasis Perda no. 4 tahun 2019.

Gede Pasek yang gagal menjadi kelian adat versi Desa Linggih setelah terganjal oleh derasnya arus demokrasi Bulian, kini dalam pemilihan kelian adat beberapa waktu lalu di Pura Bhanuwa  kembali menelan pil pahit, karena hanya mampu meraih 201 suara dari 621 krama yang hadir memilih. Sedangkan Ketut Indrayasa, Kelian Adat Bulian perpanjangan saat berlangsung perhelatan pemilihan kelian adat periode 2019-2024 tersebut tidak bisa berkutik karena terlempar jauh dengan perolehan 140 suara. Kepedihan hati seorang Ketut Indrayasa tak sebatas dipicu oleh kekalahan dalam pertarungan pemilihan kelian adat.

Akan tetapi, Indrayasa yang sempat terpeleset nyaris kecele dalam ajang pemilihan versi Desa Linggih yang hanya dilakukan oleh 22 dari 29 orang yang duduk di Desa Linggih pada 7 Desember 2019 di Pura Bhanuwa. Walau demikian, kedua calon yakni incumbent Ketut Indrayasa dan Gede Pasek yang gagal meraih ambisinya menjadi pemimpin krama di Desa Adat Bulian menyatakan legowo atas kekalahan yang didertita, bahkan Indrayasa menilai cara pemilihan secara demokratis yang melibatkan seluruh komponen warga harus tetap dikembangkan di Bulian. ***

 Selamatkan Tapuk Kepemimpinan Adat Bulian

Melihat situasi dan kondisi Desa Bulian tidak kondusif yang dipicu oleh metode pemilihan Kelian Adat versi Desa Linggih, yang berbuntut protes dari para krama, maka selaku krama aktif yang juga peduli dengan masalah adat Bulian, maka Ketut Pasek mendadak mendaftarkan diri sebagai calon Kelian Adat Bulian yang tinggal dua jam lagi. Di hari terakhir tanggal 24 Desember 2019, calon yang terdaftar pada panitia pemilihan Kelian Adat Bulian periode 2019-2024 baru sebanyak dua orang yakni incumbent Ketut Indrayasa dan mantan Kelian Adat Bulian Gede Pasek.

Dengan pertimbangan tertentu dan menghindari adanya masalah berkepanjangan, Ketut Pasek pun yang kerap hadir setiap pertemuan adat merasa terpanggil untuk ikut mendaftarkan diri sebagai calon, padahal waktu yang dimiliki hanya 2 jam sebelum panitia menyatakan ditutup pada tanggal 24 Desember tersebut. Memang menurut Ketut Pasek yang pernah memimpin Bulian di kursi kepala desa Bulian pada periode tertentu dan kini menang dalam pemilihan kelian adat dengan meraih 281 suara, mengatakan metode dan cara pemilihan pimpinan adat dengan memanfaatkan suara rakyat secara menyeluruh dan tidak ada lagi sistem perwakilan, ternyata berdampak positif karena sudah sesuai kehendak krama yang sejak lama mengincar demokrasi.

Dengan telah terlaksananya pemilihan kelian adat secara transparan dan demokratis, Nyoman Adiasa salah seorang  krama yang sempat 7 tahun mengabdi sebagai anggota Desa Linggih di Bulian menyatakan terima kasih karena aspirasi krama Desa Adat Bulian sudah tersalurkan   sesuai harapan bersama. Pemilihan Kelian Desa Adat Bulian yang panitianya diketuai I Gede Sukanca berjalan sukses dan penuh kedamaian. Bahkan, ketiga calon termasuk dua orang yang kalah yakni Ketut Indrayasa dan Gede Pasek  berpelukan menerima hasil pemilihan yang dilakukan secara  terbuka  di hadapan para krama, sejumlah anggota Desa Linggih, petugas kecamatan serta awak media yang melaksanakan tugas jusnilistik di ajang pemilihan kelian adat yang berlangsung di Pura Bhanuwa.

Sementara itu, mantan kepala desa Bulian Made Pawitra mengatakan, dengan telah terlaksananya pemilihan kelian adat sesuai kehendak krama yang sempat diwarnai riak-riak kecil, maka Pawitra pun berharap sekaligus minta kepada seluruh komponen termasuk krama dan Desa Linggih agar melupakan hal-hal yang tidak bermanfaat untuk masa depan Bulian dan bagaimana kelak bisa merajut kebersamaan secara utuh, dengan mencabut akar permasalahan yang pernah tumbuh di Desa Bulian, demi terwujudnya Desa Bulian yang aman, nyaman, damai, maju, dan sejahtera. *** Cahayamas-News.com/DEMAL.

Facebook Comments