October 19, 2020
Cetik Bali

40 Tahun Telantarkan Ida Bhatara Tapakan, Belasan Krame Adat Kelampuak Meninggal tak Wajar

Buleleng (Cahayamasnews). Prajuru Adat beserta Krame Kelampuak yang termasuk dalam naungan Desa Dinas Tamblang, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng Bali, hampir 40 tahun melupakan sesuunan Ida Bhatara Tapakan. Dulu memang sering ada prosesi ngemedalang tanpa ditarikan, namun topeng rangda itu dalam kurun waktu 40 tahun tidak pernah diperhatikan, bahkan terkesan ditelantarkan. Meninggalnya 12 orang krame dalam kurun waktu 5 bulan, tak sekadar mengundang tanda Tanya dikalangan prajuru adat, bahkan ada unsur kecurigaan, kenapa hanya dalam tempo 5 bulan saja, susah 12 krame Adat Kelampuak yang meninggal dunia. Jadi seolah olah krame Desa Adat Kelampuak terkena “Gerubug”.

Yang memberatkan di balik peristiwa itu, para krame merasa lelah menanggung biaya upacara pitra yadnya, mengingat setiap orang yang meninggal di Desa Adat Kelampuak harus diaben karena tidak boleh ada penguburan. Dengan demikian antara upacara Dewa Yadnya dengan Pitra Yadnya tidak seimbang, lebih sering berlangsung upacara ngaben dari pada Dewa Yadnya. Mengingat setiap orang meninggal mesti dibuatkan upacara Pitra Yadnya atau ngaben, maka setiap kepala keluarga dibebani biaya upacara.

Itu terjadi lantaran Desa Adat Kelampuak dalam menghadapi acara ngaben menggunakan sistem arisan. Ini berarti siapa pun yang gilirannya meninggal, maka dialah yang harus dibuatkan upacara sesuai ritual ngaben umumnya.Namun demikian upacara ngeben di Desa Adat Kelampuak sedikit berbeda dengan desa adat lainnya di Bali. Jika usai ngaben dibarengi dengan upacara meajar-ajar ke sejumlah tempat suci atau pura di wilayah Provinsi Bali. Namun khusus untuk ngaben bagi Krame Adat Kelampuak, cukup hanya melaksanakan upacara meajar-ajar pada tepat suci di dalam wilayah desa setempat seperti pura kahyangan tiga. ***

 

Pawisik Nangiang Ida Bhatara Tapakan

Setelah lama menjadi teka-teki di kalangan prajuru dan Krame Adat Kelampuak, apa yang menjadi kesangsian dan kecemasan para krame akhirnya terjawab dengan turunnya pawisik. Ida Shri Bhagawan Krisna Putra Nanda Nawa Sandi yang sempat muput pada ngaben terakhir di Desa Adat Kelampuak mengaku menerima pawisik. Atas pawisik itulah menurut Kelian Desa Adat Kelampuak Made Suka Astawa, akhirnya mengambil inisyatif untuk membuat paruman  dengan para prajuru dan kerta desa, seraya merealisasi apa yang menjadi pawisik tersebut. Ritual pecaruan balik sumpah dan nangiang Ida Bhatara Tapakan memang dipersiapkan secara matang sejak ada keputusan bulat melalui pertemuan pada Purnama sebelumnya.

Tidak ada jalan lain, krame adat beserta prajuru harus menggelar upacara Balik Sumpah dibarengi dengan “Nangiang Ida Bhatara Tapakan” yang selama ini distanakan di pura dalem desa setempat. Untuk menghadapi upacara Balik Sumpah, sarana upakaranya dibuat secara gotong royong oleh para krame, hanya saja khusus untuk upacara melaspas dan lain sebagainya terkait nangiang Ida Batara Tapakan, sajennya digarap pihak Griya Taman Sari Lingga Ashrama Singaraja yang langsung dipuput Ida Shri Bhagawan Krisna Putra Nanda Nawa Sandi, didampingi istri.

Saat berlangsung upacara Pecaruan Balik Sumpah pada hari Tilem Kapitu yang lalu, hujan deras mengguyur palemahan atau wilayah Desa Adat Kelampuak. Kendati demikain turunnya hujan sejak pukul 14.30 wita, tidak mengurangi prosesi upacara dan tetap berlangsung seperti yang diharapkan kendati haarus basah kuyup. Demikian pula lalu lalang kendaraan, baik roda empat maupun roda dua tidak mengganggu karena pecalang dibantu aparat mengatur arus lalu lintas di lokasi pecaruan.  ***

 

Suasana Berubah Mencekan, Saat Ida Bhatara Tapakan Masolah Tengah Malam

Prosesi upacara nangiang Ida Bhatara Tapakan, dilaksanakan usai acara Pecaruan Balik Sumpah. Para prajuru dan krame mendak Pajenengan Ida Bhatara Tapakan yang baru selesai dibuat oleh seorang perajin topeng rangda di Gianyar di perbatasan Desa Tamblang dengan Tajun. Begitu tiba di lokasi nyangra, tepatnya di lokasi pecaruan seorang krame laki-laki sudah mulai kerauhan, bahkan begitu sampai di Jeroan Pura Dalem, mereka yang kerauhan dengan memperlihatkan histeris semakin banyak, baik tua maupun usia remaja.

Suasana mulai menghangat, malahan kepada media ini saat dimintai komentarnya, seorang krame yang kebetulan menjadi Kepala SMAN 1 Sawan Made Sutawa Redina menyatakan rasa takut dan merasakan ada getaran gaib luar biasa, begitu Ida Bhatara memasuki areal Jeroan Pura Dalem. Disadari memang, keberadaan beliau cukup lama tidak tersentuh, padahal dalam suatu ketika ada upacara piodalan di Pura Dalem. Wibawa beliau sangat hebat, bahkan muncul sesuatu yang tidak diduga-duga. Oleh karena itulah pria kelahiran Kelampuak itu berharap agar kelak setelah diupacarai bisa dipentaskan setiap pioadalan di Pura Dalem, sehingga tidak ada lagi kesan diabaikan.

Untuk upacara melaspas dan membuat topeng rangda sesuai harapan prajuru, maka dilakukan beragam ritual dengan segala proses yang berhubungan dengan membangkitkan kekuatan gaib Ida Bhatara Tapakan. Setelah diupacarai, topeng rangda yang ditarikan seorang jro mangku terlihat semakin seram dan memancarkan aura yang sangat menakutkan. Para warga utamanya krame istri kembali kerauhan, bahkan ada yang meraung-raung seperti harimau. Sebenarnya topeng rangda ini diarahkan ke Setra Adat Kelampuak pada tengah malam pukul 00.00 wita. Namun atas pertimbangan keamanan krame dan lain sebagainya, maka cukup menuju tempat pecaruan dengan mengikuti upacara yang telah diagendakan.

Malam kian larut dan begitu topeng rangda yang didatangkan dari Griya Taman Sari Lingga Ashrama yang langsung ditarikan oleh Yoga (Putra Ida Shri Bhagawan Krisna Putra Nanda Nawa Sandi-red), suasana kian mengerikan karena ada krame yang membawa bambu dan pada bagian ujungnya runcing ditancapkan ke tubuh sang penari. Namun dengan kehebatan si-Yoga sendiri, maka apa yang menjadi kekhawatiran krame tidak terbukti karena Yoga mampu menguasai situasi tersebut. *** Cahayamasnews.com/Tim/Demal.

Facebook Comments