October 20, 2020
Cetik Bali

Miliki Potensi Beragam Tempat Unik dan Sakral Desa Bulian Galakkan Wisata Spiritual

Buleleng (Cahayamasnews). Sejarah Desa Bulian Kecamatan Kubutambahan Kabupaten Buleleng tidak bisa lepas dari kaitan sejarah Pulau Bali secara keseluruhan, karena bagaimana pun juga, kerajaan kerajaan kuna di Bali, demikian pula Desa Bulian itu didirikan. Mengapa demikian ? Mengingat desa itu  merupakan salah satu pintu gerbang keluar masuk  ke kerajaan Bali kuna. Jadi bagaimana kerajaan pusat itu diatur, maka demikian pulalah aturan yang berlaku di desa yang menjadi pos terdepan tersebut hanya saja dalam skala yang lebih kecil.

Menyoal tentang kerajaan di Bali, dalam hubungannya dengan keberadaan Desa Bulian, menurut sunber yang layak dipercaya, seorang raja keturunan Warmadewa yaitu raja Sri Hyang Ning Hyang Adidewa mengundurkan diri lagi ke Banyubwah. Pada waktu itu di tepi barat Desa Banyubwah, berbatasan dengan Desa Bengkala didirikan sebuah anak desa yang dinamakan Bulihan.

Bulihan itu terletak di sebuah hutan kecil yang sekarang disebut Pura Gde Raja Hyang Ning Hyang mangkat di sana dan setelah diperabukan, abunya disemayamkan di Pura Bukit Sinunggal. Jadi jelaslah, bahwa Desa Banyubwah/Bulihan itu sudah didirikan sejak 1000 tahun yang lalu, yang fungsinya sebagai benteng pertahanan dan tempat  melakukan tapa brata. Karena hormat dan bakti rakyat terhadap panembahan-panembahan itu, rakyat di sekitar wilayah itu tidak berani melakukan upacara pembakaran mayat, karena asap yang mengepul akan mengganggu ketentraman para raja pandita yang disemayamkan di Pura Bukit Sinunggal.

Dalam lintasan sejarah Desa Bulian, ada kekuatan para pendekar yang mampu di balik kegigihan untuk mempertahankan desa tersebut, bahkan berhasil mengusir lawan yang hendak menghancurkan Desa Bulian di zaman itu. Terhadap tawanan yang dikurung di suatu tempat, satu persatu diadu dengan temannya layaknya orang mengadu ayam (sabung ayam-red). Itulah pangkal cerita yang menyatakan, bahwa di Desa Bulihan (kini Bulian), diadakan Tajen Jelema (sabungan manusia-red).

Dengan begitu rupa cerita soal Desa Bulian, maka desa ini pun banyak memiliki tempat angker yang kini mendongkrak kegaiban dan kesakralan Bulian yang dewasa ini dilirik dan dikembangkan sebagai desa wisata spiritual. Betapa tidak seperti Pura Telaga Waja yang letaknya di sebelah selatan Pura Gde, dimana tempat ini menjadi lokasi untuk mendampingi Raja saat membersihkan diri dan melakukan pemujaan.

Kemudian ada Pura Perarian (kini dinamakan Pererenan) merupakan tempat untuk sesuatu, karena di Pura Gde yang merupakan tempat pertapaan yang sangat keramat itu tidak boleh didekati oleh siapapun, terkecuali para pemangku dan anak-anak pingitan. Sementara untuk masyarakat umum yang ingin ngaturang sembah bakti ke hadapan Ida Bhatara yang berstana di Pura Gde, hanya bisa dilakukan dari Pura Perarian.  Untuk Pura Tengahing Toya (Yeh Basang) merupakan tempat pemujaan Wisnu dan Indra guna memohon berkah berupa air untuk tanah pertanian.

Disamping itu Pura Penaban Sari (Lod Guwuh)  menjadi  tempat pemujaan Brahma, Agni, Dewi Pertiwi, Dewi Subadrika/Subandar untuk memohon berkah berupa hasil bumi yang berlimpah. Keunikan lain yang menjadi kebanggaan Desa Bulian yakni pohon beringin yang berada di dalam Desa Bulian. ***

 

Pohon Beringin di Tengah Desa,

Tumbuh dari Tongkat Sakti Jro Pasek Bulihan

Menurut penuturan Tokoh Spiritual Bulian I Gede Suardana Putra, pohon beringin itu tumbuh dari tetekan (tongkat) Jro Pasek Bulihan yang dikenal sangat sakti. Dengan demikian pohon beringin itu merupakan tonggak (tongkat) peringatan. Pada saat awig-awig Desa Bulihan disahkan dan diterima oleh Jro Pasek, pohon beringin itu pun ditanam di halaman depan rumah Kubon Tubuh yang juga menjadi halaman depan rumah Jro Pasek agar selalu ditegakkan di Desa Bulihan.

FOTO ; Ilustrasi

Sementara itu tetang candi kecil yang disebut Pelawah Kemong, dan candi ini dibangun di tanah agak tinggi. Tetapi karena suatu sebab, candi itu tidak pernah sampai dibangun, bahkan kemudian tanah yang sedianya akan dijadikan candi, akhirnya dijadikan kuburan umum. Atas kekuatan yang dimiliki Desa Bulian dengan beragam kesakralan serta kegaiban yang terdapat di balik tepat-tempat suci itu, maka dengan kejelian pemimpin baru di Desa Bulian pasca terpilihnya I Made Sudirsa yang pensiunan AKBP Purnawirawan, maka semua itu dijadikan program unggulan dalam mengembangkan wisata budaya berbasis spiritual.

Program inipun menjadi semakin menguat ketika Desa Adat Bulian kini dipimpin oleh Ketut Pasek, warga Bulian yang dulu pernah mengendalikan Desa Bulian dalam kapasitasnya sebagai Kepala Desa Bulian. Kepekaan para praktisi pariwisata model I Gede Sukayarsa yang kini telah membangun fasilitas untuk para wisatawan atau touris asing di dua tempat yakni Homestay yang terletak dekat Pura Taman dan Villa Bantes, mampu mengundang daya tarik wisatawan untuk datang dan menikmati suasana Desa Bulian dengan beragam keunikan tersebut.

Para wisatawan yang datang ke Bulian, tidak hanya bisa makan siang dan istirahat, namun di Bulian Homestay inipun para wisatawan terutama yang perempuan bisa belajar membuat canang atau banten lainnya dan sekaligus diajak sembahyang pada sejumlah tepat suci atau pura di Desa Adat Bulian. Dengan keunikan Desa Bulian seperti itu, maka belum lama berselang, ada rombongan khusus yang mengemas acaranya dengan balutan “Tutur Telusur Warisan Bali Utara” datang langsung ke Desa esa Bulian untuk melihat dari dekat seputar tempat-tempat suci yang dinilai memiliki kesakralan dan daya tarik sebagai obyek wisata spiritual. *** Cahayamasnews.Com (DEMAL)

Facebook Comments