Adat dan Tradisi

Wagub Cok Ace Ngayah Masolah Topeng Sidakarya, Ingatkan Generasi Muda Lestari Seni dan Budaya Bali

Pemprov Bali (Cahayamasnews). Di tengah canggihnya perkembangan teknologi saat ini membawa dampak besar terhadap perubahan peradaban masyarakat, terutama para generasi muda. Kecanggih dunia maya saat ini membuat generasi muda terkadang lupa akan tradisi, seni, dan budaya yang dimiliki. Mereka merasa pede meniru dan mengadopsi budaya luar yang belum tentu cocok diterapkan di Bali. Terkait hal itu, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati tak pernah lelah terus mewanti-wanti mengingatkan generasi muda untuk tetap melestarikan tradisi, adat, seni, dan budaya adiluhung yang diwariskan para leluhur secara turun-temurun. Mengingat Bali tidak memiliki kekayaan alam selain adat dan budaya sebagai modal pariwisata untuk menarik wisatawan datang ke Bali. Demikian ditegaskan Wagub Cok Ace usai Ngayah Masolah Topeng Sidhakarya serangkaian Puncak Karya Pengurip Gumi di Pura Luhur Batukau, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Kamis (20/2).

Pementasan Topeng Sidhakarya dalam hubungannya dengan pelaksanaan Dewa Yadnya, sebagai simbol sidha-nya karya (puput lan mapikolih) sebuah yadnya yang dilakukan di Bali, maka tak lengkap jika belum ditampilkan pementasan tari sakral “Topeng Sidhakarya”. Pementasan Topeng Sidhakarya biasanya dilakukan tiga hari setelah upacara puncak, yakni pada Upacara Nyenuk. Pada upacara ini Topeng Sidhakarya dipentaskan untuk menerima tamu para Dewata yang membawa perlengkapan upacara, untuk suksesnya pelaksanaan yadnya.

Pada kesempatan itu Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati menyempatkan untuk ‘Ngayah Masolah Topeng Sidhakarya’ terlebih momen Karya Pengurip Gumi di Pura Luhur Batukau (Batukaru), Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, sangat jarang dilakukan, untuk itu Wakil Gubernur Bali tidak menyia-nyiakan moment tersebut untuk ngayah masolah. Pementasan Topeng Sidhakarya, sebagai tari sakral (Wali dan Bebali), juga dimaksudkan sebagai suatu simbolis pengusir bhuta-kala, agar tidak mengganggu pelaksanaan yadnya atau nyomya bhuta-kala, agar dapat membantu pelaksanaan yadnya (dari bhuta kasupat menjadi dewa).

“Saya mengingatkan kepada generasi muda untuk tidak terlena dalam kecanggihan teknologi, namun hendaknya tidak sampai melupakan tradisi, adat, seni, dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur kita terdahulu, guna tetap menjaga keseimbangan alam secara sekala dan niskala,” ujar Wagub Cok Ace bertutur. Lebih jauh dijelaskan, menurut ajaran sastra agama, umat Hindu khususnya wajib melaksanakan Panca Yadnya, yakni : Dewa Yadnya, Bhuta Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, dan Manusa Yadnya.

Melaksanakan Panca Yadnya itu dilatarbelakangi oleh unsur keyakinan adanya tiga hutang yang disebut Tri Rna yaitu: Dewa Rna, Resi Rna, dan Pitra Rna. Karya Pengurip Gumi ini yang melibatkan seluruh masyarakat dan pangempon Pura sudah dipersiapkan hampir empat bulan sebelumnya. Puncak karya yang bertepatan pada Umanis Galungan Wuku Dungulan ini dipuput oleh 14 sulinggih yang berasal dari Karangasem, Gianyar, dan Tabanan yang merupakan Sarwa Sedaka*** Cahayamasnews.com-Hms/Tim.

Facebook Comments