News

Penemuan Sosok Mayat Gegerkan Warga Dusun Jangu. Pamit Ngarit, Pageh Malah Pergi untuk Selamanya

 

Amlapura (Cahayamasnews). Siang itu sekitar pukul 12.15 Wita, warga Dusun Jangu, Desa Duda, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangaem, tiba-tiba digegerkan oleh peristiwa penemuan sosok mayat tergeletak tak bernyawa di jalan menuju tegalan salak oleh salah seorang warga bernama  I Made Tanu (70 tahun), Sabtu 22 Pebruari 2020. Sosok mayat yang ditemukan itu belakangan bernama I Komang Pageh (usia 38 tahun) yang merupakan salah satu anak dari I Nyoman Jana usia 70 tahun yang juga warga Dusun Jangu, Desa Duda, Selat, Karangasem. Menurut keterangan tim medis, pria kelahiran 1982 ini diduga meninggal karena terpeleset dan tertimpa rumput seberat kurang lebih 40 kg yang dibawanya itu.

Kapolsek Selat AKP I Made Sunjaya Wirya membenarkan bahwa telah ditemukan sosok mayat oleh saksi I Made Tanu dan langsung mengabarkan kejadian itu kepada pihak keluarga korban serta juga melaporkan ke kantor polisi Polsek Selat. Akhirnya, bersama orang tua korban, saksi, dan pihak kepolisian langsung mendatangi lokasi ditemukannya mayat tersebut. Selanjutnya setelah dilakukan pemeriksaan medis Puskesmas Selat, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan dan meninggal karena terpeleset/terjatuh, selanjutnya tertimpa rumput yang dibawanya yang beratnya sekitar 40 kg. Selanjutnya dari pihak Kepolisian dan team medis menyerahkan jenazah korban untuk selanjutnya proses sesuai adat yang berlaku.

Menurut penuturan orangtua korban I Nyoman Jana, pagi-pagi pukul 07.00 Wita, Sabtu 22 Pebruari 2020, seperti biasanya I Komang Pageh berpamitan kepada dirinya untuk ngarit/menyabit (mencari rumput) di tegalan miliknya. Kemudian betapa kagetnya, pada pukul 12.15 Wita tiba-tiba saksi I Made Tanu datang membawa kabar duka, bahwa anaknya ditemukan tergeletak tak bernyawa dengan kondisi mengenaskan, yakni mukanya tertutup rumput yang dibawanya, di jalan menuju tegalan kebun salak.

“Tityang sama sekali tidak ada firasat sebelumnya, bahwa anak tityang secepat itu meninggal, padahal paginya masih sempat pamitan untuk mencari rumput. Tityang sekeluarga berusaha mengikhlaskan kepergiannya, barangkali itu sudah menjadi takdirnya mati dengan cara seperti itu. Tityang hanya bisa berdoa, semoga ia tenang alam sana,” katanya dengan nada sedih seraya mengaku akan memproses sesuai adat yang berlaku di desanya. *** cahayamasnews.com/Tim-01 (dilaporkan oleh Aipda I Komang Urip Arianto-Bhabinkamtibmas Desa Duda).

Facebook Comments