
Wujudkan Kehidupan Aman dan Damai Sekala-Niskala, Rangkaian Upacara Nyepi harus Dilaksanakan
DENPASAR (CAHAYAMASNEWS). OM Swastiastu, OM Awignamastu. Sebagai umat beragama, disamping selalu berupaya bekerja sesuai swadharma (tugas) masing-masing dengan sungguh-sungguh dan maksimal, juga tidak boleh meninggalkan doa, dan senantiasa bersyukur atas anugerah yang telah dilimpahkan Sang Maha Pencipta. Sebagai umat beragama hendaknya sesering mungkin memanjatkan doa didasari dengan tulus-ikhlas dan penuh dengan keyakinan. Doa bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, dengan cara diam, di rumah, di tempat-tempat suci, di rumah ibadah, dan tempat lainnya. Terlebih di dalam upaya memerangi Virus Corona (Covis-19) yang menyerang seluruh negara di dunia. Yang terpenting lagi usahakan untuk menghindari keramaian/kerumunan orang banyak. Demikian disampaikan Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet, selaku Bendesa Agung Majelis Desa Adat Bali, dan juga selaku Ketua Umum Asosiasi FKUB Indonesia (Rabu, 18/3/) 2020.
Lebih lanjut Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet menjelaskan, khusus untuk perayaan hari raya Nyepi yang harus tetap terlaksana, karena merupakan hari raya Semesta Alam: Nyomia Panca Maha Bhuta/ Maha Kekuatan Alam Semesta (Apah, Teja, Bayu, Akasa, dan Pertiwi/unsur Air, Api, Angin, Angkasa dan Tanah), agar supaya menjadi kekuatan Dewa atau penolong, penuh kasih sayang, dan tidak berwujud dan berkharakter Bhuta atau penghancur. Mengingat, kata Ida Pangelingsir Agung, watak murka itu biasanya berwujud bencana alam yang dahsyat, termasuk bencana penyakit atau mrana(virus) yang sedang melanda seluruh dunia.
Rangkaian upacara Nyepi yang harus terlaksana adalah: Melasti, Tawur Kesanga, Pangerupukan dan Catur Berata Panyepian. “Ini harus tetap dilaksanakan, tidak boleh dibatalkan. Namun Surat Edaran Bersama Gubernur, Majelis Desa Adat dan PHDI Bali sudah menyarankan untuk tidak melaksanakan Pawai Ogoh-Ogoh, karena bukan merupakan kewajiban rangkaian Upacara Nyepi, dan untuk upacara Melasti supaya mencari tempat yang terdekat serta jumlah pesertanya supaya dibatasi, secukupnya saja sesuai dengan kebutuhan upacara,” ujar Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet menegaskan, seraya menambahkan semua ini dilakukan demi kebaikan bersama.
Sekali lagi lanjut Ida Pangelingsir Agung, untuk rangkaian upacara Nyepi memang harus memilih jalan tengah yang terbaik. “Karena kalau rangkaian upacara Nyepi ditiadakan, dalam keyakinan umat Hindu Bali, kita malah akan dibayang-bayangi rasa kekhawatiran dan ketakutan akan munculnya bencana alam ataupun bencana lainnya bakal terjadi, (misalnya Grubug) yang jauh lebih dahsyat yang memusnahkan kehidupan, karena Maha Kekuatan Alam tidak somia atau tidak bahagia, bahkan murka. Untuk itu mari kita lakukan yang terbaik, saling menebar cinta kasih, dan persatuan. Jangan saling menyalahkan, merasa diri paling segalanya…, dan atau saling merendahkan satu dengan yang lainnya. Semua itu demi kebaikan, keselamatan, dan kedamaian kita bersama guna mewujudkan kehidupan yang Jagadhita sekala-niskala,” tegas Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet. *** Cahayamasnews.com/Andi.









Facebook Comments