
Renungan “Brata Semesta IX”, Kebenaran yang Membawa Jalan Penebusan Dosa Mencapai Pembebasan
Ketika membuka pintu menghadap ke upuk timur, duduk sambil menikmati segelas teh dengan tetesan lemon, dibarengi ketela rebus. Menyaksikan langit bersih membiru, dipandu awan putih bersih bergerak perlahan entah ke mana, mengisyaratkan aneka wujud, mengajak rasa syahdu memasuki ruang ketenangan dan kedamaian yang tanpa batas. Tumbuh-tumbuhan dengan cabang dedaunannya bergoyang menari-nari riang tertiup angin segar bebas pulusi. Dihiasi ilustrasi musik nyanyian burung-burung sahut menyahut, menghibur dan meneduhkan suasana hati agar tenang tinggal di rumah.
Langit-langit tidak lagi dipenuhi lalu lintas udara, yang biasanya setiap lima menit membisingi telinga. Tetapi tidak ada yang mendengarkan keluhan itu, karena itu bisnis penerbangan untuk kepentingan orang banyak. Ya rakyat kecil nikmat dengan kebisingannya, itu juga wujud “Brata”. Bukan hanya tumbuh-tumbuhan yang bisa menghirup udara segar, tetapi alam semesta telah membebaskam volusi akibat kerja material duniawi yang dihentikan oleh makhluk halus yang bernama Corona itu. Walaupun virus-virus kemunafikan belum semuanya reda dari pikiran manusia, hingga sulit melakukan pengendalian diri, agar bisa memberi sesuatu yang bermanfaat kepada dunia. Itu artinya, di balik kehendak-Nya ada yang anti “Brata semesta” sebagai perwujudan Adwaita yang selalu beroposisi.
Pernyataan dan reaksinya selalu nyinyir seolah-olah paling benar, tetapi hanya pendapat dan berhenti sebagai kritik, yang seringkali lebih banyak membakar dirinya, walaupun demikian seringkali juga meracuni masyarakat. Itulah realitas yang patut disadari menjadi kekuatan konsentrasi melaksanakan kewajiban, bekerja bersama-sama menangani dampak Covid-19, melalui cara berbuat, baik dan tulus seperti itulah wujud brata semesta yang sesungguhnya menjadi langkah bhakti “Terhubung” dengan Tuhan yang dimemuliakannya. Kesempatan terbaik saat ini, patut disadari sebagai “Brata” penebusan dosa, agar bisa dan ikut menyadari perubahan besar yang sedang terjadi atas kehendak-Nya, melalui kuasa-Nya sebagai Sang Waktu (kalpa).
Kesadaran inilah kebenaran yang membawa jalan penebusan dosa mencapai pembebasan. Tentu akan terbalik dan terus membungkus diri dalam kebodohan semesta, ketika sibuk dengan berbagai keluhan indriya, nafsu dan ego, lalu tidak bisa memberi sesuatu memasuki perubahan menuju kedamaian (Satya Yuga). Sajian semesta mendesirkan udara yang segar, semoga selalu bisa menyegarkan pikiran dan perilaku, bisa mengabdi terhadap gerak perubahan zaman ini. Semoga menjadi renungan dan refleksi. *** Cahayamasnews.com. Sri Guru Hasta Dhala (Pendiri & Pemilik Ashram Vrata Wijaya, Denpasar).









Facebook Comments