
Dampak Covid 19 Parajin Tedung Agung di Bangli Menganggur
BANGLI (CAHAYAMASNEWS). Pandemi covid 19 dampaknya sangat dirasakan sekali oleh kalangan perajin di Bangli. Banyak perajin tidak bisa beraktivitas karena permintaan produk kerajinan yang mereka produksi permintaan menurun trastis.Kondisi ini juga dirasakan perajin tedung agung yang ada di Bangli. Salah seorang pengrajin tedung Agung Nengah Arnopa saat ditemui di rumahnya Rabu (05/08/2020 ) mengatakan, pandemi-covid 19 yang dibarengi dengan kebijakan pemerintah melakukan pembatasan kaitannya untuk kegiatan upacara keagamaan berdampak pada sepinya permintaan tedung agung. “Menginjak pertengahan bulan Maret lalu pesanan tedung agung mulai sepi, bahkan dari 2 bulan kemarin pesanan tidak ada sama sekali,” ujarnya
Lebih lanjut pria asal Banjar Mampeh, Desa Kayubihi, Bangli ini, dalam kondisi normal selalu saja ada pesanan tedung agung bahkan ramainya pesanan mendekati rahinan Tumpek Landep dan Sasih Kedasa, karena waktu itu banyak yang melaksanakan upacara karya besar. “Kalau menjelang Tumpek Landep maupun saat Sasih Kedasa pesanan bisa sampai 5 sampai 6 pasang tedung agung, sementara pada rahinan tumpek landep beberapa bulan lalu hanya mendapat order 2 pasang tedung agung saja,” jelasnya.
Dikatakan Nopa panggilan akrabnya, untuk produk tedung agung yang dibuat baik dari segi kualitas maupun penggarapan jauh beda dengan tedung pada umumnya. Untuk tedung agung bikinannya menggunakan bahan berkualitas seperti tangkai tedung yang berisi variasi ukiran maupun memakai mudra menggunakan kayu pilihan, begitu pula untuk kain serta benang yang digunakan beda jauh dengan tedung kodian. “Biasanya tedung agung digunakan untuk barang sesangi (kaul) atau dihaturkan di pura, mereka yang memesan ada yang berasal dari luar daerah yakni dari Klungkung, Gianyar maupun Denpasar. Pria yang mengaku sebagai PMI ini sudah menggeluti usaha tedung sejak lama sebelum berangkat pesiar, karena kondisi seperti sekarang bisa membantu orang tua untuk meneruskan usahanya,” jelasnya.
Disinggung masalah harga berpariasi tergantung jenis maupun selera, kalau tedung biasa harga dulu sekitar Rp. 300 ribu sekarang harga corona katanya cuma Rp. 250 ribu per-pasang. Sedangkan tedung agung yang berisi ukiran, dulu untuk 1 pasang berdiameter 50X60 cm harganya sekitar Rp. 3.000.000 per pasangnya, tapi dengan harga corona dibandrol Rp. 2,5 juta. Untuk mengerjakan 1 pasang tedung agung membutuhkan waktu sekitar 3 minggu. Selain menjual tedung agung pihaknya juga mulai mencoba membuat perlengkapan sarana upakara seperti lamak dan ider-ider berbahan kain bludru dibanderol dengan harga Rp.125 ribu per meternya sedangkan untuk lamak Rp.100 ribu per-biji.
Terkait kendala, pihaknya mengaku hanya terkendala pada pemasaran produk dan bahan baku. “Jika tidak ada pesanan kami praktis bekerja untuk pajangan di took, begitu pula untuk bahan baku seperti kain dan benang kami membeli di Gianyar maupun di Denpasar. Untuk itu kami berharap pemerintah bisa memfasilitasi masalah pemasaran agar UMKM bisa berjalan,” pungkasnya penuh harap. *** Cahayamasnews.com/Agung Nata









Facebook Comments