Seni dan Budaya

MISTISISME  RUANG DAN WAKTU ALA BALI (selesai)

Oleh : Ida Bagus Made Satya Wira Dananjaya, S.Ag., M.Si.

Konstruksi kognitif yang membentuk ruang dan waktunya yang mistik dalam tataran konsep menelorkan ide manusia membagi tubuhnya kedalam tiga ruang mengikuti relasinya dengan Alam dan kekuatan adikodrati. Pembagian ruang tersebut diperluas dalam tata ruang masyarakat Hindu Bali. Manusia meletakkan hubungan dengan kekuatan Adikodrati pada posisi tertinggi (luhur) dan terhormat yang dengannya manusia sujud dan bhakti atas segala anugrah yang diberikan, secara antropologi-linguistik manusia menyimbolkan kepala sebagai ruang untuk kekuatan adikodrati.

Ruang badan sebagai simbol hubungan manusia dengan manusia dengan waktu sirkular, dengannya manusia mengenal konsep reinkarnasi, pemujaan leluhur. Hubungan manusia dengan alam sekitar disimbolkan dengan pinggang ke bawah dengan waktu sirkular yang banyak mendapat pengaruh kehidupan agraris, yaitu pola kehidupan mengikuti proses menanam, memelihara, dan memanem secara berulang. Melalui pola tersebut manusia mengenal konsep hidup, tumbuh, mati atau Sthiti, Utptti dan Pralina dan diulangi secara sirkular.

Melalui ragam konsepsi tersebut manusia menata tingkah lakunya sehari-hari dalam limit seperti ulu-teben, kehidupan sosio-religius (adanya pura kawitan), dan kosmogius (kosmologi-religius) yaitu alam dan manusia adalah satu kesatuan dan saling mempengaruhi. Ruang dan waktu mistik diimplementasikan melalui catur konsepsi yang mengacu pada arah mata angin. Konsep arah mata angin dibagi menjadi empat, yaitu timur (kangin), selatan (kelod), barat (kauh) dan utara (kaje).

Kaje-kangin adalah ruang sakral, diperuntungkan untuk tempat suci, kelod adalah letak dapur sebagai aktivitas produktif manusia, kauh adalah letak yang sepenuhnya profan (Nadia dan Prastika, 2011:33). Wardi (dalam Atmaja, 2003:39) menegaskan; pola tata letak mengikuti sumbu bumi seperti kaje adalah arah gunung, kelod arah laut, dan melalui peredaran matahari, kangin adalah arah matahari terbit dan kauh adalah arah matahari tenggelam.

Konsep tersebut menandakan ringkasan dari alam sekitar kedalam tata ruang yang lebih mini yaitu hunian tempat tinggal. Arah kajekangin dijadikan letak suci, selatan untuk dapur, dan barat untuk taman atau hewan peliharaan. Konsep tata ruang diringkas kembali ke dalam tubuh manusia, kepala untuk tidur harus menghadap ke arah suci, begitu juga waktu makan harus menghadap ke arah suci. Jadi Alam dengan ekstraposisinya adalah miniatur hunian.

Hunian adalah representasi si penghuni, selain itu Alam juga adalah acuan dari konsepsi hidup manusia. Mengikuti uraian di atas, pandangan dunia masyarakat Hindu di Bali menunjukkan dunia sintesis yang menonjolkan kesatuan dan dunia dualistik yang menonjolkan keseimbangan. Penyatuan antara ruang dan waktu dan dualisme antara usaha lahir dan kekuatan sakral menghindari ketidakseimbangan.

Pengungkapan struktur dalam masyarakat Hindu di Bali, akan memberikan solusi terhadap kehidupan modern yang kian berlari kencang tanpa arah, sehingga kebijaksanaan kuno yang menitik beratkan pada keseimbangan hidup di segala lini, dapat mengoreksi keliaran hidup dan memberikan jalan berkelanjutan serta dinamis dalam memahami hakekat kemanusiaan. (selesai).*** Cahayamasnews.com.

Facebook Comments

error: Content is protected !!