November 3, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“Keyakinan Bhakti yang tulus, merasakan Kehadiran-Nya”.

Dipetik dari Bhagawadgita, IX, 10-11 (Tuhan Melebihi Ciptaan-Nya).

Oleh: I Ketut Murdana (Selasa: 5 September 2023).

BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM. Amat jelas wejangan suci yang tersurat dalam kitab suci Bhagawadgita, IX, 10-11, bahwa memuja, memuliakan Tuhan melalui bhakti yang tulus ikhlas, berlandaskan keyakinan yang kuat, akan berpahala kebajikan yang mensejahterakan dan membahagiakan. Demikian pula sebaliknya akan dikuasai kegelapan yang menenggelamkan jiwa dalam kubur neraka napsu dan egoistik.

Dimanapun dan kapanpun puja dan bhakti itu dilaksanakan dengan baik, tulus dan penuh keyakinan, maka jawaban itu akan mengalir meresap kedalam lubuk hati, sesuai kualitas karma masing-masing. Beban pikir karma masa lalu, yang sering berubah menjadi hantu yang menghantui,  diringankan hingga rasa lega terwujud dengan sendirinya.

Oleh karena itu, belajar merasakan anugrah kebenaran itu, adalah proses penyadaran rohani, menuju penyempurnaan hingga pada saatnya mencapai pembebasan abadi. Dalam kontek inilah permainan alam pikir bekerjasama dengan indriya, selera, napsu dan ego disinari oleh kekuatan suci jiwa atau atman, sebagai pahala bhakti yang kuat dan tulus, menjadi kesadaran prilaku yang berkembang semakin bajik, mencerahkan.

Demikian pula sebaliknya apabila tiadanya kesadaran terhadap kebenaran tuntunan ini, maka akan berakibat terhadap kebutaan rohani, lalu redupnya hubungan suci cinta kasih antara jiwa (Atman) dengan Brahman (Paramaatma). Jiwa tidak lagi terkendali oleh tuntunan kasih suci atman, tetapi menjadi kekuatan pendukung dan penggerak napsu, dan ego keserakahan.

Saat itulah lahir manusia cerdas berwatak asura. Realitas inilah yang memenuhi sebagain besar dunia saat ini. Itu artinya mereka selalu menghadang dan berperang melawan kebajikan dharma, ingin menguasai dunia, bahkan melawan “Yang Memberkati Anugrah” itu sendiri. Betapi percayanya terhadap anugrah-anugrah itu, lalu digunakan bukan untuk mensejahterakan dunia, tetapi hanya untuk kaumnya saja.

Saat jiwa-jiwa manusia sudah terkontaminasi kalut asura ini, tidak ada kebahagiaan di dunia yang ada adalah “kebingungan menyaksikan pertikaian antara para dewa dan asura”. Para tokoh saling menunjukkan kekasarannya, merobohkan kehormatan melalui hilangnya etika sopan santun berbasis napsu kepentingan perut, berdalih kebajikan.

Saat-saat seperti inilah pemantapan puja, bhakti dan doa-doa yang tulus kepada Tuhan Yang Maha Kuasa mesti selalu dipanjatkan. Seperti itulah gambaran purana-purana suci, mengantarkan semangat puja, bhakti memohon berkat kedamaian semesta dengan segala isinya.

Kebenaran semangat puja bhakti ini, tidak mudah juga dilaksanakan di jaman Kaliyuga ini. Menghadapi tantangan yang tidak ringan, seperti itulah barangkali perjuangan. Pada jaman Sri Rama, para pertapa dilindungi oleh Sri Rama memerangi para asura pengganggu. Tetapi di jaman Kaliyuga ini, yang melindungi adalah “keyakinan kuat dan tulus kepada-Nya”. Karena raja yang berkuasa adalah berwatak asura, yang bertolak belakang dengan kesucian dharma dan para dharma.

Bagaikan Raja Rahwana, karena kekuatan bhaktinya kepada Dewa Shiva, lalu memohon Lingga Suci Shiva di Kailasa mau dibawa ke Alengka. Arti simboliknya adalah kuasa semesta Dewa Shiva, hanya diinginkan untuk kesejahteraan para asura rakyat Alengka. Ingin menyempitkan Kuasa-Nya hanya untuk rakyat pendukungnya saja.

Keinginan yang telah melewati batas, hingga Rahwana tidak merasa dekat dengan kehancurannya dan tidak  mengenal wujud Awatara, Sri Rama sebagai penghancurnya. Walaupun berbagai nasehat dari permaisurinya, ayah mertua, ayahnya sendiri, mahapatih Marica, adiknya sendiri Wibhisana, dan juga Kumbhakarna, luput dari keinginannya mengembalikan Dewi Sitha kepada Sri Rama.

Oleh karena tertutupi kegelapan hati nurani yang demikian gelap, dia hanya percaya dan menginginkan berkat anugrah Tuhan dan memainkan berkat anugrah itu untuk kepuasan diri dan kelompok pendukungnya. Ketika realitas itu dibiarkan oleh siapapun yang menjadi pemimpin di dunia ini, maka akan dihancurkan oleh Penegak Dharma, yang pasti hadir setiap zaman. Tidak mudah mengenal kebenaran yang amat rahasia ini, karena kuasa-Nya amat tersembunyi hadir pada jiwa-jiwa orang yang dikehendaki, sesuai peran dan tempatnya masing-masing.

Kebenaran rahasia ini amat terbuka walaupun juga tetap disamarkan, bagi orang-orang yang terpanggil oleh sifar-sifat dharma yang meresap kuat dan mengalir dalam dirinya, untuk  mengabdi melayani kuasa Dharma-Nya. Oleh karena itu pembulian, penghinaan dan pelecehan merebak bahkan bergerak menuju puncaknya masing-masing. Barangkali seperti sistem kerja alam semesta yang amat halus dan menenggelamkan, pada saat yang tepat. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!