September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“Bhakti dalam Penyatuan Diri”

Dipetik dari Bhagawadgita., X, 9-10 (Tuhan Dari Semua, Mengetahui, Mengatasi, dan Berada dimana-mana).

Oleh  :  I Ketut Murdana (Rebo :  6 September 2023).

BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Memusatkan segala bentuk pikiran melalui setiap aktifitas karma, kepada-Nya adalah proses panjang bhakti dalam kasih “penyatuan diri”. Proses panjang inilah pengendalian pikiran menyerahkan sepenuhnya pada “Pengendali Keilahian”. Demikianlah Arjuna menyerahkan Kewajiban kesatriyanya pada Kepribadian Tuhan yang turun menjadi Sad Guru Penuntun hidup mencapai jalan Pembebasan, mencapai Dharma Sejati.

Semuanya itu tidak terjadi sedemikian rupa tetapi melalui proses panjang. Pendidikan Kesatria dan berguru pada Guru Drona, menekuni proses pendidikan dengan penuh etika dan sopan santun, cerdas menggali sendiri melalui pemaknaan realitas mencapai realitas baru. Bertapa membebaskan segala bentuk gangguan indriya, napsu dan ego, memperoleh anugrah senjata sakti (pengetahuan unggul). Berjuang sekuat tenaga mempertahankan kebenaran, membebaskan keragu-raguan dalam penyerahan diri pada swadharma.

Proses membebaskan ikatan yang melilit kuat membutakan rohani inilah, bila tidak ada Kasih Ilahi dari Sat dan Sad Guru yang menyinari tentu amatlah sulit.

Arjuna sangat beruntung bisa menjadi teman sekaligus adik iparnya Sri Krishna. Sesungguhnya narasi ini menggambarkan begitu dekatnya kasih Tuhan melalui kedekatan jasmani menuju pencapaian kedewasaan rohani hingga keragu-raguannya terbebas. Lalu bangkit penuh kesadaran berperang melawan saudara-saudaranya para Korawa yang sudah disusupi demikian gelap pangaruh asura. Demikian pula guru Drona dan kakek Bisma yang lebih mengikatkan sumpahnya dari pada melihat kebenaran dan kesucian murni yang lebih esensial.

Dalam proses penyempurnaan hidup melalui swadharma inilah dinamika dalam aneka dimensi suka, duka, lemah lunglai, semangat, takut berani dan seterusnya, kesadaran terhadap dualitas hakiki terasa dan upaya mengatasi terjadi, dan berjuang sekuat tenaga untuk  memenangkan. Saat itu pula Sang Pengendali Dharma dan Kebenaran hadir bersama mengarahkan dan melindungi.

Kekesalan Arjuna saat Abhimanyu dibunuh oleh Jaya Dhrata, lalu dia tuangkan melalui sumpah, bahwa sebelum matahari terbenan esok hari Jaya Dhrata akan dibunuh, apabila tidak maka Dia akan bunuh diri.

Mendengar sumpah Arjuna itu Sri Krishna kaget bahwa; kesenangan para Kesatriya bersumpah larut pada ambisi, belum mempertimbangkan apa yang terjadi di balik sumpah itu.

Tetapi Sri Krishna melihatnya dengan kasih dalam semangat perjuangan. Lalu melalui Kuasanya Sri Krishna yang mengetahui segalanya, menutup matahari dengan awan gelap. Lalu menyuruh Arjuna memanah Jaya Dhrata dan mengirimkan pada orang tuanya seorang Rsi yang amat Sakti. Lalu terbakar di depan ayahnya agar tidak bisa menyentuh tanah. Untuk mengatasi berkat ayahnya, bahwa siapapun yang memenggal leher putranya, bila kepalanya menyentuh tanah dia akan hidup kembali.

Rahasia ini dibuka oleh Sri Krishna agar bisa membunuh Jaya Dhrata. Itu artinya rahasia alam semesta akan terbuka, karena dibuka oleh Yang Maha Tahu, pada saat dibutuhkan untuk kemenangan Dharma. Rahasia-rahasia akan terbuka dalam perjuangan bagi yang taat, yakin dan berani menyerahkan diri pada pelayanan Dharma.

 

Uraian inipula adalah wujud upaya meresapi, memaknai dan merefleksikan serta berbagi, sesuai kapasitas dan kualitas kepribadian masing-masing yang disebut kirthanam. Upaya-upaya menggemakan pengetahuan ini amat penting, yaitu memberi enerji minyak penyadaran agar nyala api kebenaran dharma semakin cemerlang dari dalam diri sendiri bervibrasi keluar diri mensejahterakan masyarakat (refleksi pengetahuan suci Jnana Buda Siwa). *** Semoga menjadi renungan yang cerdas dan arif bijaksana, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!