September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“KEKUATAN BHAKTI BERPENGETAHUAN KEBENARAN”

Dipetik dari Bhagawadgita, XIII, 10-11 (Sang Pencipta dan Ciptaan-Nya).

Oleh:  I Ketut Murdana (Kemis: 21 September 2023).

BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Betapa bahagianya ketika Sang Jiwa yang berada dalam tubuh ini, bisa mendengarkan langsung Sabda Suci Tuhan, yang mempribadi, dekat dan menuntun umat manusia. Demikian pula Bhagawan Bisma merasa sangat sedih, karena tidak bisa mendengarkan satu patah katapun, sabda suci kebenaran tentang Keilahian turun membumi dan dibumikan oleh Kepribadian-Nya sendiri.

Saat itu angin semilir dibalik persiapan perang Bratha Yudha, juga tidak mengirimkan seuntai kalimat rangkaian wejangan suci yang membahagiakan. Tetapi Bisma hanya terkondisi oleh aneka pertanyaan dalam hatinya, entahlah kapan semua itu akan terjawab. Itu artinya Bisma tidak berada pada keberuntungan rohani, karena memihak pada sumpahnya melindungi Asthina Pura yang sedang dikuasai sifat-sifat asura. Tetapi tidak menyadari dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Kepribadian Ilahi yang turun ke bumi menegakkan dharma. Bahkan berada pada posisi yang berlawanan, berbasis ketaatan pada sumpahnya.

Beranjak dari narasi prilaku karma ini, sloka: 10-11 menegaskan bahwa; bhakti yang tak putus-putusnya pada-Ku dengan rasa tulus ikhlas, selalu dengan ketetapan hati, mengusahakan kejiwaan, pengertian akhir dari pengetahuan kebenaran, inilah disebut pengetahuan yang benar.

Memaknai nilai kejiwaan yang benar menjadi  laksana bhakti yang tulus ikhlas sepanjang hayat, inilah proses yang tidak ringan. Karena selalu bergulat dengan sifat-sifat dasar manusia yaitu Satwam, Rajas dan Tamasika, dalam perjalanan waktu serta ikatannya yang terkondisi hukum dualitas yang tak dapat dihindari oleh siapapun.

Justru untuk memahami semua itu, bila kesadaran terbuka berada pada jalan bhakti, disitu pula kasih-Nya hadir, mengalir lewat Sad Guru yang menuntun, mengarahkan mencapai tujuan akhir dari “kebenaran”.

Arjuna dibangkitkan kesadaran swadharmanya sebagai seorang kesatria, yang membebaskan keterikatan kekerabatan yang telah terkondisi jiwa asura adharma, dalam hukum sosial duniawi. Akibat terbukanya ruang kesadaran murni, lalu berjuang mewujudkan kebajikan dharma sejati nan universal, yaitu kebenaran pilihan menempatkan pelayanan pada; Tugas kepribadian Tuhan menegakkan dharma di bumi. Bukan seperti Karna, menempatkan kewajibannya membela Duryodhana atas dasar hutang budi. Akibatnya anugrah kekuatan anting-anting dan baju Anta Kusuma diambil kembali oleh yang memberkati yaitu Dewa Surya. Itu artinya tugas besar Narayana turun ke bumi menegakkan dharma dihormati dan dimuliakan oleh Para Dewa.

Oleh karena itu, rahasia-rahasia kekuatan musuh-musuh penghalang kemenangan dharma dibuka satu persatu oleh Sri Krishna, walaupun terkadang amat berat bagi Pandawa melakukannya. Dengan pencerahan demi pencerahan melalui pengetahuan kebenaran hakiki dari Sang Penguasa pengetahuan, setiap masalah yang dihadapi, akhirnya masalah menjadi terang benerang.

Hanya Sang Pencipta yang mengetahui rahasia ciptaan-Nya. Orang-orang yang diberkati kasihnya rahasia itu terbuka untuk menembus kegelapannya mencapai tujuan kebenaran sejati.

Saat itulah kemurnian harus murni tidak tercampur debu apapun. Karena proses pemurnian ilahi dari semua asas menyatu menjadi Sat maha murni “tat”.

Intisari utama memuliakan ciptaan-Nya melalui pengetahuan dan prilaku yang benar, adalah anugrah memuliakan umat manusia. Bhakti yang selalu taat, sungguh-sungguh kepada-Nya adalah “jalan menghubungkan dan dihubungkan oleh Kuasa-Nya”.

Berjuang memperoleh jalan bhakti menuju kebenaran sejati inilah kemuliaan, yang tumbuh perlahan, hingga batas waktu…”pencapaiannya”, meluhurkan martabat manusia yang diluhurkan. *** Semoga Menjadi Renungan yang Cerdas dan Arif Bijaksana, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!