Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“MELIHAT KE DALAM DIRI MENGONTROL PERILAKU”.

Dipetik dari Bhagawadgita, XIII, 22-25 (Sang Pencipta dan Ciptaan-Nya).

Oleh:  I Ketut Murdana (Senin:  25 September 2023).

BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Sifat Kemaha Kuasaan Tuhan yang meresap mempribadi dalam diri setiap orang disebut Purusa, atau juga disebut atman, yang berperan sebagai saksi, yang memberi ijin, yang menopang, yang mengalami. Artinya, aliran pengetahuan yang selalu mengalir, meresapi perilaku karma mengantarkan mencapai tujuan hidup sejati. Dalam konteks ini Mahadewa dan Parama Atma mempribadi (subyek) dan juga sebagai tujuan akhir (obyek). Tujuan bersatu dengan perilaku karma yang bersifat material pemenuhan kebutuhan jasmani dan laku spiritual (saradha bhakti) pemenuhan harapan pembebasan rohani, mencapai kedamaian abadi. Penetapan jalan penyatuan ini (Yoga) diajarkan dari zaman ke zaman, oleh Para Suci Leluhur agar hidup “bermakna luhur”.

Karena Dia dalam sifat-nya yang mempribadi meresapi jiwa, menyaksikan, merasakan, menentukan arah tujuan kehidupan duniawi. Oleh karena itu semua aktivitas berpikir dan perilaku “mesti” tertunduk pada sifat-sifat kuasa itu. Kemestian inilah “seharusnya”, menjadi disiplin perilaku yang berkeyakinan penuh ketulusan. Akibat rendah dan tiadanya perhatian, serapan serta resapan terhadap kebenaran yang amat halus ini, mengakibatkan perilaku hidup tak tentu arah. Terlena dalam suntuk kekalutan indriya-indriya, napsu dan ego. Mengabaikan prinsip-prinsip tuntunan sejati-Nya, menjadikan sifat-sifat asura semakin kuat menguasai, menjadi penguat pembentuk dan pengusung zaman Kaliyuga, tenggelam dalam kegelapan.

Gema dinamika zaman ini, sedang menggelora, membingungkan bagi orang-orang yang tidak menghormati dan memuliakan pengetahuan suci, kehadiran sifat Kuasa-Nya di dalam diri. Itu artinya, membiarkan pikiran intelektualnya mengembara ke mana-mana. Kelihatan sangat cerdas, tetapi tidak menyelamatkan dirinya sendiri, justru mengacaukan situasi sosial yang membebani pembangunan masyarakat berbangsa dan bernegara.

Kesempatan terbaik sesungguhnya berada pada zaman Kaliyuga ini, bagi orang-orang yang telah tersadarkan oleh sifat kuasa yang ada dalam dirinya, menemukan Guru Sejati di luar dirinya, meyatu dalam kehidupan sosial masyarakat. Itu artinya, sifat Kuasa Suci-Nya yang disebut Purusa atau juga Atman telah mengetuk hati sanubarinya, membongkar lalu terurai menjadi aneka ragam masalah yang membingungkan. Saat-saat kebingungan seperti inilah sesungguhnya edukasi mengantarkan jalan spiritual telah dimulai. Lalu bertanya sana-sini dalam waktu tertentu akhirnya pada saat keraguan sirna, jiwa memasrahkan diri lalu jawabannya hadir dan mengaliri akhirnya kesadaran terbuka.

Seperti itulah wujud tersentuh kaki-Nya, artinya keraguan tersentuh pengetahuan suci yang mencerahkan, sebagai panggilan yang menyentuh jiwa. Betapa bahagiannya jiwa-jiwa yang memperoleh anugrah dan proses penyadaran menuju pencerahan itu. Tetapi di balik itu semua, pengaruh tamasika, melupakan proses memelihara memberi energi suci (karma jnana), mengakibatkan reruntuhan dari tebing-tebing ego yang perlahan-lahan menutupi sungai menghambat jalan suci spiritual menuju lautan terhambat, bahkan terbendung lumpur gelap duniawi. Tidak sedikit pula korban kegelapan serupa, lalu kabur menuju hingar bingar selera napsu duniawi. Karena memang terasa lebih cepat menyenangkan, menjadi realitas kebanyakan hingga kuat menjadi “pembenaran”.

Memaknai realitas ini, sudah semestinya kontrol ke arah sifat kuasa-Nya Yang Maha Suci yang meresapi diri dan mendengar wejangan suci dari Para Suci adalah penyegaran dan penguatan keyakinan mencapai tujuan. Oleh karena itu meresapi dan mengkondisikan pengetahuan suci, serta merefleksikannya menjadi penguatan prinsip Karma Kanda dan Karma Jnana adalah “harmoni mencapai kebebasan*** Semoga Menjadi Renungan yang Cerdas dan Arif Bijaksana, Rahayu.

Facebook Comments