
“AURA KASIH”
MENUMBUHKAN JIWA-JIWA SATTWIKA MENGHADAPI ZAMAN KALI YUGA
Oleh: I Ketut Murdana (Minggu, 1 Oktober 2023).
Badung (Cahayamasnews.com). Jalan bhakti (Bhakti Marga), yang menempatkan kesungguhan dan keyakinan pada tujuan mencapai kebebasan abadi, merupakan tun tunan yang telah dituliskan dalam kitab suci. Sadar terhadap tuntunan penyempurnaan itu, maka melaksanakan sadhana suci untuk memantapkan keyakinan mencapai adalah kewajiban. Apabila sudah demikian kewajiban adalah kesadaran, yang secara perlahan membebaskan ikatan-ikatan napsu, ego, dan kemalasan yang menggelapkan dan membodohkan.
Membangkitkan dan memupuk kesadaran melalui jalan bhakti, mengenal dan berupaya menyempurnakan sifat-sifat yang malas membodohkan (tamasika), menjadikan semangat kerja dan perjuangan menumbuhkan sifat-sifat kesatria dharma (Rajasika), membebaskan diri dari ikatan kerja yang menimbulkan suka dan duka mencapai kebijaksanaan (Sattwika). Sadar sepenuhnya memposisikan ketiga sifat yang bergerak abadi dalam diri manusia selama hidup. Mengutamakan Sattwika lebih utama hingga mampu mengatur kedua sifat lainnya, bisa merefleksikan sifat kebenaran yang bijaksana.
Mencapai keadaan jiwa seperti itu, memerlukan edukasi proses spiritual yang panjang. Terkondisi oleh pengetahuan yang benar, obyek pemujaan yang jelas dan benar sesuai tuntunan-Nya serta beretika tata susila yang berpengetahuan. Proses edukasi dituntun oleh Guru yang berwenang melalui tempat pembelajaran yang memadai.
Melalui proses edukasi kesadaran bangkit dan terbangun secara perlahan pemahaman yang menjernihkan hati nurani, hingga diresapi pengetahuan suci dura darsana, yang membebaskan kebutaan mata biasa hingga memiliki kemampuan menyaksikan keberadaan sifat-Nya hadir dalam setiap ciptaan-Nya. Kebenaran anugrah ini memang amat rahasia, karena tidak terjadi pada kebanyakan orang. Hal itu terjadi pada jiwa-jiwa yang suci penuh keyakinan mengabdi pada Kuasa-Nya menegakkan dharma di bumi.
Arjuna ketika ingin menyaksikan Kebesaran Kuasa-Nya Yang Serba Maha, Sri Krishna bersabda; matamu yang terbatas itu, tidak mungkin bisa melihat kebesaran-Ku, oleh karena itu mata yang terbatas itu diberkati kekuatan Ilahi (mata berkekuatan dewata), hingga Arjuna terhapus keraguannya, lalu meyakini sepenuh hati kepada Sifat Kepribadian Tuhan berwujud Sri Krishna, lalu mengabdi kepada-Nya, menuntaskan adharma yang menguasai jiwa-jiwa manusia (Sattwika).
Keraguan Arjuna diakibatkan oleh ketidak sadaran yang mengikat dirinya pada hasil perbuatan (perang pemurnian dharma). Keterikatan fisik pada Kakeknya Bisma dan Bhagawan Drona gurunya. Tidak sadar melihat bahwa yang berlawanan dengan dharma dan yang melindungi adalah lawan atau sifat-sifat adharma yang mesti diberantas.
Bhagawan Bisma sesuai sumpahnya ingin melindungi Asthina Pura, tetapi telah dikuasai adharma. Akibatnya tidak berpihak pada dharma dan para dharma yang menegakkan dharma, akhirnya terbunuh dalam kesepian menunggu perang Bharata Yudha berakhir. Itu artinya, kecerdasan kesatria terjebak sumpahnya kepada raja, melupakan Kuasa yang lebih tinggi Maha Kuasa turun ke dunia menegakkan dharma. Hingga rahasia kekalahan dan kematian Bisma dibongkar oleh Sri Krishna, menghadirkan Sri Kandhi jelmaan pembalasan Dewi Amba.
Kalau orang biasa, bagaimana bisa mengetahui masa lalu dan rahasia dari semua kehidupan ini dan cara memelihara serta meleburnya. Melalui gambaran purana dan itihasa tersebut di atas, dapat mengedukasi tumbuh dan berkembangnya kesadaran jiwa-jiwa sattwika, mengatasi perhelatan kuat jaman Kaliyuga saat ini, yang didongkrak oleh kekuatan besar jiwa-jiwa Rajasika dan Tamasika, menjadi deru debu realitas kini. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.









Facebook Comments