September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“KESENANGAN MENUJU KEBAHAGIAAN”

Oleh: I Ketut Murdana, Sabtu 07 Oktober  2023.

Mencapai kebahagiaan hidup bagi setiap adalah tujuan utama. Tetapi membedakan antara “kesenangan” dan “kebahagiaan” memerlukan pemahaman dan penghayatan yang lebih dalam dan luas. Kesenangan lebih bersifat subyektif, yang diakibatkan oleh respon indriya-indriya, selera dan napsu terhadap obyek-obyek material, biologis yang bersifat sementara. Lalu bisa berubah respon setiap saat pada varian-varian obyek indrawi, material duniawi lainnya.

Regulasi pergerakan dari kesenangan ini, membuka ruang kesadaran materialitis duniawi, menjadi gaya hidup (life Style), yang seringkali dimaknai sebagai penyeimbang “kepenatan” sosial. Ruang dan ragam hidup serta ciri kesenangan ini meliputi semua aspek kehidupan. Oleh karena itu kesenangan kesenangan meresapi kehidupan untuk menuju tahapan tujuan hidup selanjutnya. Apakah itu kesuksesan di dunia material, ataukah kebahagiaan sebagai tujuan hidup sejati. Jadi kebahagian adalah “tujuan” bagaikan lautan adalah tujuan penyatuan air dari “semua sungai kesenangan”

Memposisikan kesenangan agar bisa mencapai kebahagian inilah kesenangan berperan sebagai energi penggerak semangat, cinta kasih menuju tujuan yang diangankan. Ciri-ciri dari realitas kebenaran ini, bahwa setiap orang memiliki talenta atau bekal hidup atau juga disebut bakat yang sangat menonjol atau samar-samar hadir didalam mdiri sendiri. Adapula yang tidak menyadari apa talentanya.

Oleh karena itu pendidikan formal dan non formal mesti mampu membukan persoalan besar umat manusia ini, sebagai tugas utama Guru Wisesa. Bukan hanya memperkuat dan memperindah singasananya saja, lalu membunuh sel-sel kreatif pengembangan talenta mewujudkan karakter identitas. Oleh karena itu Guru Wisesa adalah pengayom, pengarah alur dimensi hidup masyarakat mencapai kesejahteraan.

Saat berproses melalui pergulatan dinamika dualitas, mencapai kualitas inilah upaya menembus ruang-ruang kegelapan misteri pahitnya masalah atau racun yang mesti ditelan. Bagaikan Dewa Shiva menelan racun yang muncul dari pemutaran lautan susu antara para Dewa dan Raksasa. Setelah racun itulah alam memunculkan energi suci yang berguna (amritham) hingga bisa menjadi kesenangan dan membahagiakan manusia yang disebut kesempurnaan itu.

Oleh karena itu, keteraturan sistem energi yang berada di alam semesta, mesti diikuti dengan tata laksana yang baik dan suci, melaksanakan swadharma memohon kepada-Nya. Dalam kontek inilah memahami esensi kesenangan dan yang menyenangkan sesaat, menimbulkan masalah besar. Tumbuh-tumbuhan dan makhluk hidup lainnya yang menjadi sumber makanan dirusak oleh kesenangan sesaat demi keuntungan sesaat pula, akhirnya rusak menjadi penyakit membahayakan menimbulkan penderitaan panjang pemulihan.

Jadi seruan kitab-kitab suci hanyalah seruan yang menyenangkan gaerah ego saat berbicara, tetapi nihil dalam prilaku. Inilah wujud penderitaan masyarakat kini yang digerakkan oleh prinsip-prinsip perilaku Rajasika dan Tamasika. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!