Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“KEBIJAKAN MENUJU KEBAJIKAN”

Oleh:  I Ketut Murdana (Rabu, 10 April 2024).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Sudah semestinya kebijakan itu diambil berdasarkan kajian holistik ragam kebajikan yang mengakar, dalam ruang lingkup terbatas mempertimbangkan ruang lingkup yang lebih luas. Berbasis edukasi pengembangan harkat martabat di dunia material dan spiritual. Artinya penerapan kebijakan kearifan lokal tidak bersinggungan dengan kearifan budaya lain di luarnya. Netralitas sebuah kebijakan adalah pondasi sifat-sifat damai yang mengayomi. Membangkitkan, memelihara tumbuh berkembangnya sifat-sifat damai itu, agar bervibrasi damai pada yang lainnya.

Tantangannya tidak mudah terutama perilaku bagi pengusung-pengusung budaya dan isme-isme pemikiran tertentu, dan persepsi-persepsi subyektif terkadang lepas kontrol, terlalu percaya diri hingga bervibrasi buruk, lebih cepat berkembang di dunia saat ini. Walaupun kita sadar setiap “Kebijakan yang Bertujuan Kebajikan”, seringkali menimbulkan efek buruk, di sinilah evaluasi dan kontrol sistematik mesti menjadi perhatian ketat, misalnya penerapan budaya Yatra atau Mepepada di jalan raya, yang bertujuan menyucikan lingkungan melalui iring-iringan doa-doa suci, japa maha mantram saat ini sering kali berubah kualitas dan pemaknaannya.

Masyarakat hanya berjalan “Ngiring” dan ngobrol sesuka hatinya, walaupun semuanya ditutupi alunan suara gamelan menggelegar dan segelintir saja orang-orang yang suntuk melantunkan kidung-kidung suci, memvibrasikan keindahan dan kesucian. Semua ruas jalan terkadang dipadati dikuasai dengan tempramental yang kurang bersahabat, membuat kemacetan di sana-sini. Saat inilah rasa toleransi menjadi sangat penting, kedalam mencapai kereligiusan ritual maupun keluar terhadap kenyamanan situasi sosial yang beragam.

Tentu kebijakan masa lalu dengan tujuan suci sangat mulia patut dijungjung tinggi, saat ini teknisnya justru menimbulkan efek macam-macam, karena orang-orang berjalan diikat oleh waktu kerja yang amat ketat, tentu bisa menimbulkan ngedumbel tersembunyi. Berubah menjadi aneka reaksi, entah diam atau juga diucapkan dengan aneka celoteh.

Kearifan lokal Bali yang dilaksanakan berdasarkan desa, kala, dan patra menjadi kemeriahan beragam dan berantai serta bergulir mengalir. Akibatnya orang sibuk ritual disatu sisi dan yang lainnya seolah-olah tidak ada hubungan, karena dibatasi ruang keyakinan masing-masing. Kesemuanya ini “Disatukan” melalui konsep Kahyangan Jagat seperti di Pura Besakih, Pura Batur, Pura Batukau dan lain-lainnya, hingga merasa bersatu dalam keluarga besar semesta keumatan.

Kebijakan dan kebajikan inilah bergulir memadati waktu aktivitas material dan ritual membangun kesadaran spiritual hingga terkadang bisa menyempitkan atau memperluas ruang-ruang material, sebagai hukum dualitas yang tak terhindarkan. Pilihan sikap dan konsentrasi pemaknaan membuka ruang-ruang edukasi penajaman spiritual, mencapai jagadhita, atau kedamaian menuju keabadian. Memahami realitas ini menempatkan standar kebijakan ritual dan budaya bergerak dinamis, berhadapan dengan dimensi sosial ekonomi dalam persaingan yang amat ketat.

Penajaman pengetahuan nan humanus menjadi amat penting, agar mampu meresapi guna menumbuhkan kesadaran spiritual, bervibrasinya kebajikan. Kebajikan inilah kualitas pengetahuan kejiwaan masing-masing. Sadar pada kebenaran ini, maka lahirlah kebijakan yang mengayomi semua unsur jiwa yang tumbuh dan berkembang, mengantarkan bahkan mendorong umat manusia menjadi penekun kebajikan, menjadi abdi-abdi dharma.

Ajaran Catur Yoga Marga, mengajarkan pendakian spiritual mencapai “Penyatuan”. Itu artinya, mencapai nilai universal membuat orang berkesadaran luas dan damai dengan semua ciptaan-Nya. Menyadari realitas ritual, budaya dan spiritual yang telah digariskan itu, mesti menjadi perhatian dan kebijaksanaan hingga kebijakan-kebijakan menjadi arif dan bijaksana (bajik) bernilai universal. Bukan hanya melindungi sekelompok pendukung arus kemenangan politik saja, hingga tidak berarti dan bermakna sebagai “Kemenangan” yang sesungguhnya. *** Semoga menjadi renungan yang cerdas dan arif bijaksana, Rahayu.

Facebook Comments