Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“BHAKTI MENYADARI SIFAT KEILAHIAN “

Oleh:  I Ketut Murdana (Senin, 20 Mei 2024).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Umat manusia barangkali sebagian besar telah mengetahui bahwa keilahian itu “Ada”, tetapi belum tentu semua orang tahu bagaimana cara “Memikirkan” keilahian itu. Beranjak dari dikotomi empris, dan psikologis ini, manusia juga mempunyai kepastian mengenai pengalaman dan tindakannya. Saat itulah proses transendensi dan eksistensi meresapi. Artinya ruang transendental dirasakan eksistensinya mestimulasi aktivitas jasmani badaniah. Saat itu simpul-simpul yang disebut “Samskara” energi halus memotivasi gerak rasa, indra menuntun perilaku jasmaniah.

Dalam kontek ini “Keilahian” merupakan sifat tentang sesuatu “Yang Ada” (Ilahi) yang bersifat transendental, bisa dirasakan lewat eksistensi yang imanen lalu mengindrawi, walaupun “Ketuntasannya” amat terbatas. Disitu dan saat itulah bahasa kata kehabisan istilah untuk mengungkapnya, lalu bahasa rasa, menjadi rasa bahasa yang bersifat prapredikatif meresapi pengalaman lalu tumbuh “Meyakinkan”.

Filosuf Plato menyatakan bahwa transendental itu merupakan remanasi mencapai puncak kesadaran roh, tanpa identitas tetapi memberi identitas dalam proses emanasi. Regulasi inilah imanensi “Kehalusan” yang “Menghaluskan” segala unsur kejiwaan manusia. Dalam pandangan dunia spiritual capaian inilah yang disebut “Keilahian”. Dalam ajaran weda memasuki ruang Nirguna Brahman, dalam ajaran Shiva Siddhanta disebut Parama Shiva, dalam ajaran Tantra disebut Parama Purusha.

Karena Dia tidak beridentitas tetapi memberi identitas, itu artinya Dia meresapi dan menjiwai semua yang ada, maka juga disebut Maha Jiwa atau Maha Atman. Sadar terhadap realitas yang meresapi itu, adalah sifat keilahian yang bergerak meresapi yang dirasakan bergerak dan menggerakkan, menjadi laku kebajikan spiritual yang berwujud bhakti yang penuh kasih nan tulus ikhlas

Karena Dia meresapi segalanya menjadi ragam wujud yang tak terjangkau pula secara kuantitatif dan perubahannya, maka disebut Wiswarupham atau beragam rupa wujud semesta raya beserta karakternya. Itu artinya Dia yang satu sifat-Nya memancar, lalu meresap terbungkus indahnya karakter, akibatnya lupa kepada Dia.

Agar tidak larut dalam “Kelupaan” atau “Melupakan” itu, maka Dia yang penuh kasih menurunkan pengetahuan suci untuk “Mengingat”. Hanya manusia yang beruntung memperoleh anugrah itu. Dia tidak hanya menurunkan tetapi turun berkali-kali menuntun dan mengajarkan umat manusia agar sadar pada tujuan hidupnya. Sifat kuasa yang turun menuntun inilah sifat keilahian yang superior berwujud Sad Guru, orang-orang suci yang disebut Awatara. Bersama-sama menegakkan dharma di bumi.

Tidak semua orang terpanggil dan siap dipanggil untuk “Disadarkan”, oleh karena tersisa banyak orang yang masih dan sedang terkungkung kegelapan, hingga menjadi sparing partner dalam upaya penyadaran diri.

Sadar pada realitas diantara tuntunan dan masalah yang mesti dihadapi, inilah bhakti yang berpengetahuan untuk mencapai kebijaksanaan yang membebaskan. Sejauh mana upaya memperjuangkan kewajiban atas tuntunan-Nya itulah karma jnana yang mengantarkan semangat bhakti mencapai puncak dalam batas waktu.

Ketidak sadaran terhadap realitas dan dinamika kebenaran ini, membuat seseorang lemah lunglai, menurun dan berubah keyakinan lalu energi suci semakin buram. Akibat dari semua itu pikiran kacau balau tak menentu. Apabila sudah demikian sifat keilahian telah terkurung gelap sifat-sifat “Tamasika”. Seperti apa yang dilukiskan dalam Siwa Purana bahwa Dewa Shiva berada di dalam gelap Sapta Patala, di dasar bumi tidak dikenali oleh siapun, kecuali Dewa Narayana. Tentu semua orang tidak menginginkan hal itu terjadi, akibat kelupaan hal itu pasti terjadi. Karena itulah wujud hukum keadilan-Nya. Melalui kasih-Nya, lewat proses penyadaran edukasi dan pengampunan selalu terjadi. *** Semoga menjadi renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments