Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“KEJUJURAN”

Oleh:  I Ketut Murdana (Selasa, 21 Mei 2024).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Diberbagai tempat bekerja keseharian di dunia material, seringkali terdengar seseorang berseloroh bahwa, “Yang jujur pasti hancur”. Apabila tidak ingin hancur maka kejujuran harus dikubur. Demikian pula di dunia politik, para seniman berseloroh kalau tariannya Legong, jangan menabuh iringan Tari Baris. Demikianlah kata-kata yang barangkali timbul dari pengalaman ketika berhadapan dengan “Berbagai masalah kerja di dunia material untuk keuntungan yang lebih bersifat pribadi”. Ketika seseorang tidak bisa diajak bekerjasama dalam berbagai manipulasi, saat itupula atasan atau temannya akan menyisihkannya. Lalu yang bersangkutan terpinggirkan lalu redup energi materialnya.

Realitas seperti inilah barangkali jenis-jenis kehancuran karier-karier pribadi di dunia material. Tetapi di balik itu semua ada pula yang taat memegang teguh kejujuran, walaupun tersisih dari sahabat dan juga atasannya. Tuntutan kesadaran rohani yang menggebu-gebu menyentak dalam dirinya, karena kejahatan melewati batas toleransi, hingga rahasia-rahasia besarpun terbuka. Walaupun setelah itu, kekuatan untuk menutupinya, bisa datang lebih besar lagi, hingga bersih tak berbau sama sekali.

Ketika jawaban dari putaran waktu keberpihakan pada kejujuran telah tiba, yang melakukan memperoleh kenyaman dan tidur lelap dalam rasa damai. Dibalik semua itu para pembohong terkejar setan dosa-dosa yang meresahkan, hingga kekayaan tak berguna lagi. Lalu habis dimakan rayap “bermuka penolong”, akhirnya tinggal dalam neraka gelap penebusan dosa. Mereka yang lebih memperjuangkan kejujuran hati nuraninya, walaupun sedikit rejeki material tetapi bisa memperoleh kebahagiaan yang berlimpah.

Demikianlah kisah kejujuran hati nurani Wibhisana, memegang teguh ajaran dharma. Menasehati niat dan perbuatan tak berbudi kakaknya Raja Rahwana, sebagai seorang kesatria yang menguasai tiga dunia, bertindak keji menculik Dewi Sitha. Semuanya itu atas hasutan bohong adiknya Raksasi Surphanaka. Berkali-kali Wibhisana menasehati agar Rahwana mengembalikan Dewi Sitha dengan penuh hormat dan mohon ampun kepada Sri Rama. Justru nasehat baik yang ingin menyelamatkan kerajaan Alengka dari kehancuran, diterima dengan rasa amarah, lalu menganggap Wibhisana sebagai penghianat keluarga dan pengecut bagi kaum asura. Akibat dari semua itu Wibhisana ditendang dan diusir dari kerajaan Alenggka oleh Rahwana. Lalu pergi memohon perlindungan kepada Sri Rama, jungjungan spiritualnya.

Resiko seperti inilah pasti akan terjadi bila kejujuran dharma berada dalam komunitas kaum asura. Dalam kondisi seperti inilah kejujuran tanpa sahabat, hingga harus keluar mencari perlindungan. Memegang teguh kejujuran dharma ini memerlukan kekuatan dan keyakinan di zaman Kaliyuga seperti sekarang ini. Berjuang menguatkan prinsip dharma dan kejujuran hati nurani, berjuang hingga “Saat waktu-Nya tiba”.

Demikian pula kisah patriotis dharma, ketika beberapa hari perang bharata yudha berlangsung, tanda-tanda kemenangan pihak Pandawa belum nampak. Saat itulah Sri Krishna memanggil Pandawa, bahwa untuk kemenangan ini, maka Guru Drona harus terbunuh. Tetapi Guru Drona tak mungkin terbunuh saat masih memegang senjata dalam peperangan. Oleh karena itu Sri Krishna meminta kepada Arjuna untuk melakukan sedikit tipu daya “Kebohongan” untuk memenangkan perang. Tetapi Arjuna tak sanggup melakukan hal itu, mempertimbangkan gelar kesatria dan pemanah terbaik yang disandangnya, atas didikan Guru Drona yang amat dimuliakannya. Pandangan kemenangan dengan cara seperti itu dianggapnya tak bernilai kesatria sejati.

Tetapi demi kemenangan dharma yang lebih besar Yudhistira dan Bima siap melakukan kebohongan itu. Lalu Bima melemparkan gadanya kepada seekor gajah yang bernama Aswathama. Lalu berteriak-teriak mengatakan Aswathama telah mati demikian seterusnya diulang-ulang. Suara teriakan ini di dengar oleh Guru Drona, yang membuatnya mulai linglung. Untuk memastikan kebenaran itu, Guru Drona bertanya kepada Yudhistira, karena Dia penuh percaya kepada Yudhistira yang tidak pernah bohong. Lalu Yudhistira menjawab bahwa Aswathama telah mati.

Mendengar ucapan Yudhistira yang diyakini itu, lalu Guru Drona meletakkan senjatanya. Saat itulah Drestha Jumena menghunus pedang lalu menebas leher Guru Drona lalu tersungkur di tanah berlepotan darah. Menyaksikan keadaan itu Arjuna sontak bangkit, mementangkan busur ingin membunuh Drestha Jumena, untuk membela Gurunya. Saat itu Dewi Drupadi dan Sri Krishna datang menenangkan.

Saat itu Dewi Drupadi menuntut balik Arjuna tentang keberadaan Guru Drona saat itu, tidak membelanya sama sekali saat Dia ditelanjangi oleh Dussana di depan persidangan. Lalu Sri Krishna menasehati bahwa perang ini bukan untuk sumpah rambut Drupadi, tetapi korban penghinaan terhadap kehormatan wanita.

Meresapi realitas dan suratan tattwa, bahwa di dunia material saat ini amat sulit menemukan kejujuran. Walaupun demikian kejujuran tetap hidup dikalangan berkembang pada jiwa-jiwa murni penganutnya, walaupun masih “Terpinggirkan”. Dikalangan umum kejujuran lebih ditempatkan sebagai landasan filosofis, tetapi rendah komitmen untuk melaksanakan. Bagaikan gambaran Wibhisana dalam kaum Asura di Kerajaan Alengka. Oleh karena itu untuk mencapai keselamatan harus berjuang bersama penegak dharma kejujuran.

Selanjutnya “Kebohongan” itu bisa dilakukan sebagai strategi mengatasi kekuatan orang-orang bohong, demi menyelamatkan dan memenangkan dharma, sebagai esensi dasar berbangsa dan bernegara. Dalam kontek ini kebohongan yang berguna menyelamatkan bangsa dan negara. Karena Guru Drona menempatkan diri dan pembelaannya kepada Raja Asura Duryodhana. Bertentangan pandangan dharmanya terhadap Awatara Penegak dharma sejati.

Dibalik itupun juga kejujuranpun bisa bermasalah dan berbahaya, ketika rahasia negara, rahasia perusahan dan rahasia-rahasia lainnya dibuka berkedok kejujuran. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, ketika “JUJUR” itu dipahami sebagai kata benda, maka kata itu hanyalah kata tanpa makna. Apabila dipahami dan dimaknai sebagai kata “Sifat” dan kata “Kerja”, maka akan mewakili, serta menggerakkan sifat-sifat universal nan vital, secara edukatif akan meningkatkan keluhuran nurani manusia. Siapapun yang mengusung dan selalu menguatkan tindakannya melalui kejujuran itu, kehormatan pasti menyertainya. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments