September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“AURA KASIH”

“Keputusan Yang Cemerlang”

Oleh:  I Ketut Murdana (Selasa, 30 Juli 2024).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Seorang Guru Wisesa sudah seharusnya mampu mengambil keputusan yang cerdas dan cemerlang. Bukan sekadar berlindung atas nama Guru Wisesa yang mulia itu. Artinya permainan asura cerdas mengatas namakan Guru Wisesa untuk memuluskan akal bulusnya. Seorang yang disebut Guru Wisesa sudah seharusnya mengayomi segala potensi, bergerak bangkit mencapai keberhasilan, baik secara jasmani menggalang prestasi di dunia material. Secara rohani membangkitkan sifat-sifat suci kebajikan mendulang nilai-nilai kedamaian hidup, sesama makhluk di dunia ini.  Bukan hanya suntuk mempromosikan konsep-konsep unggul, berlindung di ketiak para suci leluhur, lalu mengembar gemborkan hormat dan memuliakan leluhur.

Tetapi perbuatannya “nungkalik” melalui kekuasaan merusak tatanan, berpihak pada asura, membiarkan semut-semut dan parasit merusak tanaman kesejahteraan dan peradaban suci yang telah diwariskan oleh leluhur. Meminggirkan abdi-abdi dharma yang sedang tumbuh dan bergerak, atas keyakinan panggilan semesta. Gerak energi semesta ini memang sulit dinalarkan, bagi kebutaan rohani dan jiwa-jiwa yang tenggelam dalam kebisuan tidur panjang. Dalam situasi ini pengetahuan rohani terdesak jauh di dasar lubuk hati, hingga denyut energi sucinya, tak mampu menggetarkan kepekatan gelap yang menggulung jiwa.

Akibat semua itu, amat sulit mengenal, merasakan serta menggerakkan nilai-nilai kebajikan, apalagi melaksanakan kebenaran dan kepatutan. Realitas inilah digambarkan “peteng pitu” dalan ajaran Siwa Latri. Tetapi semua itu dilogiskan dengan kecerdasan intelektual, hingga egopun semakin memuncak.

Kalau sudah demikian, amat sulit membangun diri apalagi membangun bangsa dan negara. Karena di dalam dirinya yang ada hanyalah “suara kuasa”. Artinya “suara yang telah dikuasakan” lewat janji-janji. Entahlah janji itu ditepai atau tidak, tentu bisa dirasakan intensitas dan kualitas kebenarannya. Sifat-sifat asura seperti ini sekarang sedang menang menguasai panggung peradaban.

Sahabatnya adalah semut-semut dan parasit terstruktur dikondisikan oleh kekuatan politik vertikal, yang membisukan pemilik dan penjaga tanaman lalu dikuasai perlahan. Tak disadari bahwa disatu sisi ikan di lepas, tetapi jaringpun dipasang, bagaikan budaya lomba mancing. Kekuatan besar ini telah melanda, akibat kebutaan melihat kebenaran, lalu berkelakar bahwa semakin banyak ikan ditebar di sungai, di laut. Tetapi sesungguhnya penangkap-penangkap ikan dengan teknologinya sudah dipersiapkan sebelumnya. Jadi orang-orang di sekitar danau, sungai, selokan dan telaga hanya menonton orang-orang menangkap ikan di lahan subur miliknya, yang selalu dirawat dengan ritual-ritual suci dan doa-doa tulus ikhlas.

Lalu pengusung dan penjaga kebun, danau, parit, telaga, sungai, yang lapar dan letih sangat mudah diasut diadu domba, lalu dibiarkan bertengkar begitu saja. Hingga memperlebar jurang persaudaraan, lalu dikumpulkan lagi, satu persatu untuk ditaklukkan menjadi aset mendulang suara politik. Raja asura yang didongkrak oleh kekuatan Sangkhuni ini sedang merebak, tetapi sesungguhnya dibalik itu semua kesadaran dan kecerdasan semesta menerangi hingga ikan-ikan terlihat bodoh, tetapi ada kepiting untuk menyelamatkan dan membunuh Pendeta Bangau itu.

Dibalik keadaan ini barangkali merupakan proses pertumbuhan keadilan yang amat mahal di dunia saat ini. Karena segala sesuatu itu terjadi, akibat kesewenang-wenangan mencapai puncaknya, pada saatnya pasti roboh. Sadar pada proses hukum semesta ini, maka bhakti dalam pengabdian kepada dharma adalah jalan penyempurnaan diri sebagai perjuangan hakekat hidup, karena bergerak bersama dharma itu sendiri. Bukan hanyak sibuk berceloteh tentang ritual kemenangan dharma, tanpa berupaya terus memahami sistem kerja, lalu bekerja atas pelayanan kepada-Nya.

Apa yang merobohkan kesewenang-wenangan itu, tiada lain perlindungan energi suci-Nya yang maha meresapi jiwa-jiwa abdi-abdi dharma, demi tegaknya dharma di bumi. Semua kebenaran itu hadir atas doa-doa orang-orang dan berkat tuntunan para suci Leluhur. Saat seperti itulah kesadaran memuliakan dan penghormatan atas jasa-jasa para leluhur dapat dirasakan kebenarannya. Oleh karena itu asura selalu menyerang para dewa untuk menguasai dunia. Berkenaan dengan dinamika gelombang dualitas itu, memaknai hidup dalam mengambil segala keputusan memerlukan kecerdasan tinggi, bagaikan Sri Rama Melepaskan panahnya sucinya menembus dada Raja Kera Subali yang wajahnya sama persis dengan Sugriwa adiknya. Kecerdasan ini memberi manfaat besar bagi kesejahteraan dunia, sebagai keputusan yang cemerlang. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!