
“AURA KASIH”
“KEMBALI KE DALAM DIRI, MENEMUKAN KEBIJAKSANAAN”
Oleh: I Ketut Murdana (Sabtu, 08 Maret 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Kecerdasan spiritual kebijaksanaan tak lagi hinggap meresapi jiwa insan-insan perpolitikan, yang sesungguhnya mencerahkan kecerdasan intelektual, menjiwai semangat politik perebutan kekuasaan. Dalam kontek kebijaksanaan yang mencerahan itu, kekuasaan mesti ditempatkan dalam posisi aktif, berporos pada energi suci Ilahi, agar memperoleh “berkat kuasa” dari Yang Maha Kuasa.
Kuasa yang disadari dan disikapi sesungguhnya untuk mengangkat beban derita, membebaskan kegelapan manusia, untuk mencapai “kesejahteraan lahir dan bhatin”. Semua itu merefleksikan kedamaian dunia, menjadi kemenangan yang mendamaikan. Bukan sebaliknya kemenangan yang menyengsarakan. Rujukan perjuangan yang tak mengukuhkan kebenaran ke arah itu, lalu menjauhkan diri dan semakin menjauh dari poros kesucian ilahi, mengakibatkan aktor-aktor cerdas yang “mengaku” berdedikasi justru banyak yang berubah karakter, menjadi asura terkendali oleh Sangkhuni. Akibatnya rakyat hanya sibuk menyaksikan pertengkaran, tuding menuding dalam keburaman rohani yang sama.
Lalu amat mudah dihasut oleh asura-asura penghancur mental dan moralitas serta peradaban mulia. Ketika erosi ini tak disadari menjadi pembiaran, maka nilai-nilai kemanusiaan akan sirna, tinggal wujudnya saja. Dinamika gerak realitas nan kontras itu mesti dirobah dan diselaraskan agar menjadi energi berguna, memenuhi segala tahap kehidupan. Seperti itulah tugas pemimpin yang berjuang ingin menduduki kursi kepemimpinan, menghabiskan dana rakyat yang tidak sedikit. Walaupun semua itu tak mudah, oleh karena itulah disebut “perjuangan” hidup dalam kehidupan panjang.
Ketika bersifat pribadi sebagai rakyat, sadar mengemban kewajiban dan misi pribadi tunduk pada kewajiban berbangsa dan bernegara. Ketika memimpin sadar sepenuhnya mengayomi kepentingan rakyat, membangun martabat berbangsa dan bernegara, bukan sibuk memperkaya diri, merugikan bangsa dan negara. Lalu sibuk menciptakan kondisi tukang suryak untuk “membenarkan”. Ketika sudah demikian, saat itulah energi suci Sang Penuntun pasti menyertai dan memberkatinya. Mengapa disebut “pasti” menyertai dan memberkati, karena bersifat diawal sebagai spirit penguat perjuangan karma. Pengalaman menunjukkan bahwa kebenaran itu terjadi dengan sendirinya, bila perjuangan itu benar-benar tulus untuk kepentingan penyelarasan mencapai “guna” yang sesungguhnya.
Bukan taat saat bersumpah, lalu lupa dan hilang begitu saja. Kitab sucipun ditulis oleh para suci untuk menguatkan perjuangan itu. Oleh karena itu perjuangan adalah penyempurnaan diri yang sejati, sebagai pemimpin maupun sebagai rakyat. Bukan hanya memperjuangkan dan selalu memperbesar hawa napsu, indriya-indriya dan selera yang dijiwai asura yang harus dipenuhi. Akibatnya membingungkan dan menyusahkan diri dan masyarakat luas. Akibat terjebak kesementaraan yang menjerumuskan itu, membuka ruang neraka penderitaan, yang mesti dibayar secara pribadi juga.
“Merubah dan menyelaraskanlah wujud perjuangan mengendalikan dinamika itu”. Menjadi jalan para dharma (para widya). Ciri-ciri dinamika gerak perpolitikan saat ini lebih berupaya “menenggelamkan”, atau ingin “mewarnai bumi ini” dengan satu warna. Ketika angan-angan itu diperjuangkan terus, akibatnya bertentangan dengan sifat alam semesta yang Wiswarupham atau yang beragam warna itu. Walaupun sesaat bisa mencapai keluasan ruang tertentu, yang dianggap sebagai “kemenangan”.
Tetapi kemenangan yang diartikan sewenang-wenang hingga mengaburkan “kuasa” dan “kewenangan kuasa”. Itu artinya melupakan poros dan menenggelamkan warna lainnya, maka rongrongan energi negatif terselubung amat rahasia perlahan menghancurkan, amat sulit dibendung. Wujudnya adalah “keserakahan yang dikukuhkan” tanpa disadari berakibat menenggelamkan.
Pengetahuan ke-Shiva-an mengajarkan Shiva berstana di tengah menyelaraskan semua warna sebagai simbol kehidupan dewata yang menyeimbangkan dan menyelaraskan dunia. Setiap saat upacara bhuta yadnya “pecaruan”, setelah wiswa dhaksina semua unsur ritual didorong ke tengah, sebagai simbolik poros penyeimbang. Bagaikan roda apapun itu porosnya pasti di tengah.
Refleksinya, walaupun tempatnya jauh atau bersebrangan tetapi sadar dan terkendali ke tengah yaitu kesadaran akan hakekat dalam kehidupan duniawi menjadi swadharma atau kewajiban inti yang tunduk kepada poros utama. Bukan yang di barat mengendalikan yang di timur atau yang merah mengendalikan yang hijau atau yang kuning. Apabila demikian berarti mencoba menentang hukum kodrat semesta. Akibatnya sudah pasti diketahui semua orang.
Dampak dari keangkuhan emosi itu, membutakan diri, teman dianggap sebagai lawan lalu dihina, dipojokkan dan dipinggirkan. Akibatnya sibuk tuding menuding menjadi “pemburukan” pada neraka sama saja. Bagaikan menutup asap, dia akan keluar dengan sendirinya. Tontonan demi tontonan yang ingin mengaku benar, mengekspresikan kecerdasan “pembenaran”, sesungguh semakin menjauh dari energi suci rohani, lalu menenggelamkan dirinya dalam kubangan lumpurnya masing-masing.
Akibatnya atmosfir perhelatan prestasi bangsa dalam bidang-bidang lainnya luput dari perhatian. Kesibukan bertikai serang menyerang los etika moralitas, tentu amat berpengaruh terhadap generasi muda. Dalam dunia edukasi amat memprihatinkan. Sartifikat lebih dipentingkan dari pada upaya mengisi diri dengan ilmu pengetahuan, moralitas dan ketrampilan yang mesti melekat di dalamnya.
Walaupun tidak menampik keunggulan prestasi yang mengagumkan, tetapi itu tak banyak. Dinamika yang mengkhawatirkan ini mesti menjadi pembangkit semangat mengatasi dengan berbagai strategi perjuangan. Berupaya melihat realitas yang mesti bergerak maju yang konsisten. Bukan bayang-bayang kemajuan emosional personal dan kelompok yang terus merorong kesejahteraan rakyat. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments