September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA  KASIH”

“ENERGI DHARMA”

Oleh:  I Ketut Murdana (Selasa, 15 April 2025).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Energi dharma bergerak terus menembus, menerjang dan meresapi dinding-dinding tebal keangkuhan sifat-sifat asura yang menguasai jiwa insan-insan duniawi. Mengukuhkan jaman kegelapan yang sedang melanda saat ini. Ramuan materi “ragam pembenaran” mengaburkan “kebenaran” bergelora diusung piranti teknologi canggih menguasai dunia. Melahirkan kecerdasan dan profesi multi dimensi. Insan-insan pintar berkata-kata berbenteng logis, los etika moralitas, lalu tumpul menyelesaikan masalah. Akibatnya melahirkan konsep tatanan hidup dan aturan-aturan berwajah kebenaran, tetapi selalu dikubur sendiri oleh kepentingan kekuasaan, lalu hanya bisa berguna untuk menuding dan menodong insan-insan yang lemah.

Pertanyaannya apakah raja mesti diam membuta dan membeku seperti Drestharata?, patut menjadi renungan bersama. Dapatkah insan-insan sadar meresapi nilai dan memaknainya, hingga menjadi penyadar iman kebajikan menuntun prilaku hidup?. Tentu semua pertanyaan ini, lalu dicari jawabannya mulai dari jiwa insan-insan individu yang tersentuh “kebangkitan”, berjuang bersama memberi sesuatu yang baik dan berguna untuk bangsa dan negara.

Pertanyaan ini sesungguhnya adalah renungan yang pada saatnya mampu melahirkan jawaban prilaku, yang menjadi pilihan yang benar. Pilihan yang benar itupun sesungguhnya adalah “ketegasan” memilih antara keyakinan dan realitas yang mendamaikan serta membahagiakan, dalam ruang kesadaran kosmik yang “terjangkau”. Saat itu pikiran hadir mengontrol memberi pertimbangan penguat rohani, menegaskan arah dan alur yang “semestinya”

Walaupun definisi ini memerlukan edukasi dan kajian rohani yang sungguh nan tulus menjadi pilihan, karena memang harus dipilih. Barangkali seperti itulah wujud tangga-tangga kemutlakan-Nya. Seorang rajalah yang paling utama mengemban misi kehidupan ini, karena di dalamnya ada “kuasa”. Lalu menyadari bahwa bukan sekedar kekuasaan untuk menguasai yang lemah. Tetapi menguasai pengetahuan suci untuk mengayomi dan mengendalikan semua unsur untuk menciptakan keadilan yang mensejahterakan dan mendamaikan

Persoalannya adalah memahami dan memaknai eksistensi dalam esensi kesadaran yang sesungguhnya. Oleh karena demikian ruang pergerakannya bukan semata di ruang material fisik, tetapi di ruang rohani nan abstrak yang bergerak terus menuju realitas tertentu yang disebut “kebenaran sejati”. Kebenaran sejati yang mempribadi lalu diangankan dalam ruang sosial duniawi sebagai alur narasi kehidupan yang patut diperjuangkan. Bukan sekedar memuaskan indriya-indriya, napsu dan ego kemenangan.

Mengapa demikian?, tentu  ada “ruang” tersendiri yang memerlukan, hingga menjadi tumpahan transformatif nilai-nilai yang diangankan, hingga menjadi keyakinan bergerak bersama. Menyadari semua itu ruang adalah kumpulan subyek-subyek rohani yang memerlukan dan merindukan kebenaran itu, hingga bergerak bersama saling merindukan. Lalu sadar bergerak terus mencapai tujuan. Akibatnya tercipta edukasi spirit sepanjang hayat. Saat itu terkondisi kesadaran yang berpengetahuan, menjadi peradaban suci yang memuliakan.

Pergerakan insan-insan dunia yang terpolakan oleh narasi kebenaran itu, telah meyakini bersama, menuju tujuan sesungguhnya. Tentu melewati pasa-pasa godaan dan ujian yang amat “rahasia” dalam varian wujud dan waktunya. Saat itupula pengetahuan kejiwaan hadir mengajarkan kewaspadaan yang menempatkan pemuliaan “Aku” adalah “Kesadaran” dalam bahasa refleksi yang meresapi makna

Peta artefak pengusungnya yang hidup bergerak, sesungguhnya merupakan sisi-sisi peradaban yang membangun “peradaban” global dalam wujud dewa-dewa menjadi Maha Dewa. Berkenaan dengan itu hanya kesadaran yang hadir mempertanyakan realitas itu, karena ingin “penyempurnaan”. Di dalamnya adalah realitas hidup bergerak maju dan ada realitas pengganggu bahkan mengungkung dan memarginalkannya. Inilah realitas yang selalu bergerak dinamis yang disebut perjuangan atau perlawanan terhadap hal-hal “buruk” yang menghancurkan, menjadi kegagalan. Bukan menghancurkan sebagai pralina, tetapi merupakan pemahaman esensi dari suatu kebenaran mutlak.

Memaknai betapa “luas” ruang pergerakan rohani, di ruang bebas dalam diri dan interaksinya di alam semesta, menempatkan kesadaran diri yang amat terbatas. Oleh karena itu, sesungguhnya amat terasa, bahwa waktu yang tersedia amat singkat. Memaknai daya tarik proses penyempurnaan yang luar biasa, menyenangkan, indah membahagiakan, sebagai anugrah energi suci dharma yang meresapi insan-insan rohani, menjadi semangat hidup memaknai kehidupan. Alur edukasi ini merupakan narasi hidup dalam kehidupan, inilah yang diajarkan para Leluhur untuk meluhurkan diri. Ketika sudah demikian menghormati dan memuliakan leluhur telah bersatu dengan pengetahuan dan energi suci kemuliaan-Nya. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!