September 10, 2026
News

Kisah Pilu Seorang Ibu Lansia Buta dengan Tiga Anak Lumpuh di Desa Pengotan

BANGLI (CAHAYAMASNEWS.COM). Sekilas miris, ibu lansia ini bernama Ni Nyoman Ranti mengalami kebutaan. Awal-awal mengalami rabun hingga sama sekali tak bisa melihat. Sejak tiga tahun lalu, disamping itu juga memiliki tiga anak yang dalam kedaan difabel, keterbatasan fisik yang tak bisa berjalan sama sekali (lumpuh). Meski mengalami keterbatasan fisik, keberadaan mereka tidak terlantar maupun kekurangan bahan makanan. Bahkan mereka menolak bantuan bedah rumah yang kedua kalinya. Alasannya mempertahankan bangunan rumah sesuai tempo dulu, sebagaimana warisan leluhur.

Saat menyambangi ke rumahnya Selasa (15/4/2025), pondok Nenek Ni Nengah Ranti berada di wilayah Dusun Tiingdesa, Desa Pengotan, Kecamatan Bangli. Di pondokan tersebut cukup luas, dengan enam bangunan dan satu kamar mandi lengkap dengan mesin cuci. Dari enam bangunan, satu bangunan merupakan hasil bantuan bedah rumah dari pemerintah daerah melalui Dinas PUPR-Perkim tahun 2024. Kemudian ada empat bangunan yang konsepnya masih Bali kuno. Salah satunya (paling timur) menghadap selatan, yang berkonsep Kosala-kosali.

“Jika dirubah takut kena pemali, karena sudah sesuai ukuran Kosala-kosali,” jelasnya ditemani putra keduanya, I Nengah Bentet.

Nenek Ranti memiliki delapan orang anak. Tiga laki-laki dan lima perempuan. Dari delapan anaknya, ada tiga mengalami sakit fisik (lumpuh). Anak laki-laki pertama bernama I Wayan Pantes (44) dan dua saudarinya, Ni Ketut Cobek (37) dan Ning Kok (33). Sementara suaminya, I Nyoman Kabar, sudah meninggal dua tahun lalu.

Menurut penuturan Ranti, sejatinya ketiga anak mereka bukan lumpuh sedari lahir. Seperti anak pertamanya, mengalami kelumpuhan sejak usia 8 tahun, begitu juga dua saudarinya. Menurut penuturan Ibunya. Riwayat kelumpuhan yang dialami ketiga anaknya ini berawal dari demam tinggi saat usia anak-anak. Dia dan suaminya telah berupaya mencarikan pengobatan, baik medis ke rumah sakit maupun tradisional, namun tak membuahkan hasil. “Usai demam, tubuh anak-anak melemas dan makin hari kedua kakinya turut mengecil sehingga tidak bisa menyangga tubuhnya secara normal,” jelasnya.

Karena sakit, saat itu keinginan anaknya untuk bersekolah pun tidak terlaksana. Tubuhnya tak bisa digerakkan, hanya duduk dan tidur. Bahkan, untuk pindah duduk pun mereka harus digotong anggota keluarganya. Meski dalam keadaan anak-anaknya sakit, Nenek Ranti bersama suaminya pun tetap semangat menjalani hidup. Terlebih mereka memiliki tegalan yang cukup luas untuk digarap sekitar 2,5 hekter.

“Paling banyak ditanami jeruk, singkong, dan ketela,” katanya.

Selain tegalan, anak-anaknya juga memelihara bebek dan puluhan ayam yang diternak dengan apik di depan rumahnya sebelum masuk ke pekarangan rumahnya. Disinggung terkait dirinya menjadi viral di tiktok, perempuan yang masih tampak ayu meski sudah sepuh ini mengaku dirinya sengaja diminta melakukan syuting oleh seseorang yang tak dikenal apalagi dalam kondisi buta.

Dibeberkan, saat itu Minggu (13/4/2025) sore hari, kondisi rumah kebetulan kosong selain dirinya dan tiga anaknya yang sakit. Sementara dua anak, dua menantu, beserta cucunya, semua sedang tidak di rumah.

“Kami saat itu sedang ke desa (tedun), karena kebetulan ada odalan di Pura Ulun Subak yang berada tepat di perbatasan dengan Desa Kadisan Kintamani,” sambung, putra keduanya, Nengah Bentet.

Nenek Ranti mengaku saat itu dia didatangi seorang pria yang mengaku dari Sekardadi, yang pernah memberikan saudara sepupunya menbawa bantuan mesin cuci dan televisi, mengaku dari yayasan. Dia datang bersama 8 orang temannya. Kehadiran mereka tanpa sepengetahuan kepala wilayah, atau pihak desa, maupun anggota keluarga lain. Dalam kondisi Nenek Ranti yang buta, kesembilan orang tersebut meminta Nenek Ranti melakukan syuting (adegan) lalu direkam.

“Saya diminta membawa air kencing (urine) dari ketiga anaknya yang lumpuh dengan ember, lalu membawa ke kamar mandi, dengan memegang tali. Saya nurut saja, karena tidak tahu,” tuturnya

Dari ulah para “kreator” ini pun membuat geram anggota keluarga lain, terutama anak dan menantu nenek Ranti. Sebab video tersebut rekayasa, tanpa sepengetahuan anggota keluarga lain, terlebih kondisi Nenek Ranti yang tak bisa melihat.

“Kenyataannya memang ibu saya tidak bisa melihat, dan ketiga saudara saya sakit. Tapi tidak seperti di video itu juga kondisinya, seolah-olah tak terurus dan ibu saya yang merawat sendiri. Tali pegangan itu memang saya pasang untuk membantu ibu ke kamar mandi dan itu sudah terbiasa. Tapi untuk makanan (masak) dan lainnya kami yang urus,” jelasnya.

Sementara itu Perbekel Pengotan, I Kadek Yastawan mengatakan, sebenarnya selain bantuan bedah rumah, pangan yang secara rutin dari pemerintah dan desa, mereka juga mendapat bantuan kursi roda. Namun kursi roda itu pun akhirnya tak dipergunakan. Sebab, mereka merasa lebih nyaman tinggal di dalam rumah saja, karena kalau pindah ke kursi roda harus digotong menuruni tangga.

“Selain bantuan rutin seperti PKH serta bantuan lain, keluarga ini juga tidak dibebankan pungutan adat maupun desa. Kecuali ayah-ayahan (tedunan) baru dilakukan oleh dua anak laki-lakinya yang normal,” sebutnya.

Terkait video viral itu, pihak desa dan keluarga meminta pembuat dan penyebar video tersebut untuk melakukan klarifikasi, baik melalui vidio maupun langsung ke Desa Pangotan karena dalam vidio tersebut seolah-olah tidak ada yang mengurus. Jika tak direspon, pihaknya berencana melaporkan ke polisi,” tegasnya. *** CMN=Tim-NT.

Facebook Comments

error: Content is protected !!