
“AURA KASIH”
“SELERA RANGSANG NAPSU”
Oleh: I Ketut Murdana (Kemis, 05 Juni 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Ketika berbicara dan merefleksikan pengalaman tentang persoalan hidup yang ingin benar-benar mengarah pada menyempurnakan hidup, yang disebut “alur penyadaran”, merupakan persoalan besar dan sulit, kurang menarik karena dingin respon pada sisi tertentu. Tetapi serius pada sisi yang lain, karena benar-benar ingin memahami, memaknai hidup dalam penyempurnaan. Fakta dilapangan menunjukkan, banyak orang-orang yang sudah lelah dan menyesal bergulat dalam mewah lumpur duniawi, mengakibatkan tumpukan dosa mengerikan. Dosa yang mengerikan itu, menjadi pemicu dan pemacu laku perubahan serta tobat. Walaupun pada sisi yang lain banyak berubah lagi menjadi “tomat”, tobat sesaat lalu kumat lagi.
Alur dinamika penyempurnaan itu, selalu berhadapan dengan “pesaing selera rangsang napsu”, yang lebih menarik. Bergerak semangat memuja kesenangan, tersaji vulgar di taman ria. Saat ini dikenal sebagai gaya hidup (Life styale) yang konsumtif. Konsumtif ini lebih ditekankan pada gaya hidup glamoritas up to date, menjadi sasaran empuk penyedia jasa dan layanan makro dan mikro di ruang terbuka nan bebas.
Sesungguhnya ketika dimaknai bahwa konsumtif itu dapat diartikan mengkonsumsi sesuatu yang berguna secara seimbang jasmani dan rohani. Tetapi paham resapan rohaninya terabaikan bahkan terlupakan sama sekali. Itu artinya pengetahuan hidup kerohanian tak memperoleh tempat yang selayaknya. Akibatnya jiwa semakin kering terpenjara beku dalam kesepian, karena semua unsur jiwa lainnya siap menjadi pelayan indriya-indriya, napsu dan ego. Bagaikan kelahiran Sri Krishna dipenjara oleh pamannya Raja Kangsa.
Akibatnya hidup menjadi semakin liar tak tentu arah. Karena jiwa sang pengendali telah terpenjara, bungkam dalam gelap gulita. Semua tanda-tanda penyelamatan, roboh luluh lantak hancur ditabrak ego, “tinggal jurang menganga sudah pasti akan menelan”. Walaupun demikian jurang “penelan” tak pernah ditakuti, karena telah tersulut keberanian napsu dan ego yang selalu mendorong, menggiurkan ke arah itu. Segala nasehat baik dan benar dianggap musuhnya, yang selalu ditentangnya.
Jebakan maya menakutkan seperti itu amat sulit dipahami, hingga contoh baik nan bijak, arahan dan perhatian baik dan benar tak mampu menolongnya. Akibatnya tinggalah menunggu waktu kehancurannya. Lalu saatnya penyesalanpun tiba. Realitas ini amat banyak bergelora di dunia materialistik jaman Kaliyuga saat ini.
Berkenaan dengan gelora realitas itu, saatnya bersama-sama membangkitkan jiwa-jiwa suci hening, menerobos keliaran napsu yang semakin meliar. Saat itu pula keriuhan debat suka dan duka, maju dan mundur, keberanian mempertaruhkan harga diri demi bangkitnya kebenaran. Termasuk energi materialpun mengikuti, sebagai cermin dan refleksi belajar ikhlas (Dharma, Artha, Kama dan Moksa)
Dualitas nan kontras tersebut menyemarak di ruangnya masing-masing. Merefleksi dan mengkondisi kuantitas penganutnya masing-masing. Pengetahuan rangsang napsu, selera nan kekerasan menjadi semakin semarak hingga penyedia piranti pasilitas infrastruktur meluber. Keheningan sunyi suara makhluk malam hari tergantikan suara musik romantis, religius hingga dikabur-gaduhkan oleh musik pemecah gendang telinga, pembangkit napsu erotik. Tetapi itulah realitas yang bisa berlindung dalam kebebasan ekspresi seni.
Pertanyaan terhadap realitas yang membudaya itu, tentu harus dilihat dan dimaknai sebagai realitas dalam konteks sosial nan humanis serta religiusitas spiritnya, terhadap lingkungan dimana bumi dipijak. Pemimpin yang tegas mengayomi rakyat, tak membiarkan semua tak terkendali demi memuaskan napsu sesaat. Tetapi itulah yang terjadi, karena asura-asura telah bertopeng raja. Lalu mencoba menggantikan dengan konsep-konsep, lalu tumpul dan nihil tindakan. Akibatnya Ibu Pertiwi dibebani oleh sampah-sampah napsu. Akibatnya rakyat dan anak cucu menerima akibat buruknya.
Pada sisi yang lain ketika dentuman suara gamelan irama kendang, gangsa, cengceng, kajar, gong, seruling serta instrumen lainnya mengkonfigurasi estetik, religiusitas nan sakral, puja puji dewata nan Ilahi pengayom semesta. Tersengol cibir oleh pendamba-pendamba sepi, hanya penikmat damai, los imansipasi nan toleransi, diruang kampung berbasis budaya religius.
Sentuhan rasa kemurnian jiwa-jiwa penyelaras, membangun “kesadaran” diantara kepentingan yang berbeda dalam momen yang bersamaan. Saat itu kerendahan hati menguatkan iman sangat diperlukan, menyadari kepentingan yang berbeda dan interaksi harmoni yang menempatkan penghargaan dalam upaya memposisikan esensi kepentingan masing-masing. Semuanya itu dilandasi tumbuh dan berkembanya sifat welas asih mencapai kedamaian bersama.
Terkadang tak pernah diketahui dan disadari masalahpun datang dengan sendirinya. Pengalaman menunjukkan bahwa masalah selalu bermata dua, dia menjadi tuntunan “penyadar” yang mencerdaskan, ketika dimaknai sebagai proses penyempurnaan hidup yang selalu berjalan. Demikian selanjutnya masalah seringkali dianggap racun yang meracuni kehidupan ketika dipandang oleh jiwa yang dikuasai selera, napsu menjadi gunung-gunung ego yang selalu membendung sinar matahari menyinari bumi
Ekspresi dualitas ini semakin memuncak, dengan segala ekspresi dinamisnya, dalam kepincangan kuatitatif yang tak berimbang. Mengedukasi insan-insan duniawi, agar mampu memahami karakteristik jaman. Semua itu sesungguhnya, setiap insan telah berbekal dan dibekali hati nurani (pengetahuan hidup yang inheren) untuk menyerap nilai-nilai edukasi semesta untuk menyempurnakan diri. Tentu dibalik itu semua Asura mayapun ingin memanfaatkan tubuh dan jiwa manusia untuk dikuasai, yang disebut “penghancuran”. Oleh karena itu memahami dan memaknai serta melaksanakan dengan baik dan sungguh pengetahuan hidup semesta itu adalah jawabannya. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments