
“AURA KASIH”
“MENYIKAPI HIDUP DI JAMAN KALI YUGA”.
Oleh: I Ketut Murdana (Sabtu, 03 Agustus 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Ketika kegelapan meluber menguasai dunia, akibat dibukanya ruang kuasa dalam waktunya masing-masing (Kalpa). Kekuatan energinya terus menggelapkan atmosfir duniawi, menguasai insan-insan yang “terlena” lalu ditenggelamkannya, karena memang seperti itulah sifatnya. Semua itu berakibat betapa sulitnya. Memahami suatu kebenaran yang mendamaikan, yang terjadi kebanyakan persepsi-persepsi pikiran yang dikuasai kuasa ego ingin menang dan unggul di atas kesusahan orang lain. Kekuatan arus besar ini sedang melanda dunia, yang patut dicermati dengan sebaik-baiknya. Demikian sebaliknya arus ini dapat mensugesti kesadaran, membangunkan jiwa-jiwa yang tertidur lelap dalam ketidak sadarannya. Lalu bangkit, bergerak mencapai pencerahan, agar cerdas dan terkendali menyikapi realitas. Pergerakan mencapai pencerahan itu membuka dan terbukanya peluang besar bagi insan-insan yang ingin bangkit membebaskan diri menyempurnakan kewajibannya.
Lalu dinamika realitas yang dihadapi menjadi proses edukasi panjang tiada henti. Saat itu jiwa semesta raya seolah-olah membuka diri mengangkat derajat kesadaran bagi insan-insan yang belajar terus menyerahkan dan mengikhlaskan kewajibannya.
Pergerakan gelombang penggelapan dan pembangkitan sinar Ilahi itu, keduanya memiliki sahabat dan tingkat kualitas kekuatannya masing-masing. Saat ini sahabat pendukung penggelap konon memiliki tiga kali lipat kuantitas dan kualitas kedahsyatan daya serangnya. Ketika dibandingkan sahabat pendorong energi pembangkit kesadaran, konon memiliki seperempat kekuatan untuk menghadapi serangan, untuk menerobos kegelapan agar tak tenggelam. Seperti gambaran Pandawa Lima menghadapi serarus Korawa. Semua upaya pembangkitan itu secara naturalistik memerlukan kerja kesadaran dan kesungguhan yang tinggi serta energi pendukung yang besar, untuk mencapai puncak keheningan yang membahagiakan.
Kesungguhan terefleksi lewat doa-doa suci yang selalu menyinari kesadaran itu, mampu memperkuat sikap dan daya tahan. Kedahsyatan energi suci doa-doa ini mengalir, meresap, mengikat, menetralisasi amat rahasia, hingga amat sulit diketahui oleh keangkuhan sifat-sifat asura itu. Walaupun abdi-abdi dharma berenang dalam lumpur, tetapi berjuang terus agar bisa terbebas dari bau busuk lumpur kegelapan duniawi. Seperti itulah gerak kehendak dari Sang Jiwa dalam diri, ingin “membebaskan” dan “terbebas dari ikatan” tubuh jasmani agar tak tenggelam dalam lumpur penjara gelap itu.
Semua arus energi memiliki dua kutub baik dan buruk yang selalu berubah berkembang membesar, seimbang, mengecil selalu hidup berdampingan, “berjarak dekat” dan “berjarak jauh seolah-olah tak terjangkau”. Tetapi semua itu bisa terasa dekat “dalam kesadaran”, yang selalu membangkitkan kesadaran lalu bisa berenang menyeberangi lautan lumpur dunia saat ini. Saat itulah “Dia berjarak dan tak berjarak” terasa menjadi satu kesatuan dalam perjuangan. Itu artinya energi suci telah terhubung, yang mengakibatkan eneka ragam getar suci yang bisa dirasakan tubuh jasmani. Saat itulah kehadiran-Nya sebagai energi “Material” dan energi “Suksma”, dipahami sebagai “pembangkit”, penuntun penyelamat untuk mencapai tujuan.
Walaupun sesaat ketika pikiran sedang lelah bisa saja keraguan muncul, tetapi segera sadar untuk meluruskan kembali, hingga tercapai penguatan keyakinan dalam perjuangan. Apabila terlena membiarkan larut, maka keraguan itu segera berubah menjadi “maya” yang menjadi “racun” yang melumpuhkan tujuan, Dia-lah Maya itu. Ketika ke dua hal itu benar-benar terasa dalam setiap aktifitas karma, itulah “Dia” dualitas yang menyatu sebagai energi yang mengalir menguatkan prinsip-prinsip menembus misteri pengabur penghalang tujuan.
Demikianlah Rsi Walmiki mengisahkan tentang keberadaan Wibhisana seseorang bijaksana yang lahir bersaudara dengan mahasura Rahwana, Kumbhakarna dan Suphanaka serta putra-putranya. Rahwana yang angkuh dan sewenang-wenang, sangat mudah terprovokasi oleh Suphanaka menawarkan gairah napsu menunjuk Dewi Sintha, wanita cantik dan mulia yang sedang berada di dalam hutan. Lalu Rahwana menculiknya dan melarikan ke Alengka. Itu artinya sugesti rangsang napsu melupakan segalanya.
Menyikapi gerak realitas dan bangkitnya nilai-nilai kebajikan dalam diri Wibhisana, dia selalu sadar berjuang menasehati Rahwana agar mengembalikan Dewi Sintha kepada Sri Rama, agar Rahwana menjadi kesatria terhormat menyadari kesalahannya. Saran terhormat itu justru dipahami terbalik, yang mengakibatkan dirinya terdepak dan terusir dari Kerajaan Alengka. Karena saudara pendukung penguatnya tidak ada, yang ada hanyalah perdana menteri dan putra-putra Rahwana yang siap berperang mendukung keangkuhan yang sewenang-wenang itu. Bukankah saat ini realitas seperti itu sedang menguasai ?.
Saat menghadapi kondisi seperti itu, Wibhisana meminta petunjuk Ibunya, menyampaikan keadaan yang sedang dialaminya. Mendengar keluh kesah itu, Ibunya berpesan, ketika engkau ingin mempertahankan Kerajaan Alengka dengan mempertahankan diri hidup menderita bathin di Alengka, nampaknya sangat mustahil. Engkau tak bisa berbuat banyak tentang kebajikan dihadapan saudara-saudaramu. Oleh karena itu, datanglah engkau kepada Sri Rama mohon perlindungannya. Karena kemasyuran Sri Rama tentang kebijaksanaannya telah dikenal dunia.
Mendengar saran Ibunya itu, Wibhisana berangkat menuju kemah Sri Rama, dipinggir negeri Alengka lalu diterima dengan hormat. Wibhisana dipersilahkan duduk disamping singgasana Sri Rama yang menghormatinya sebagai sahabat. Lalu menempatkan kembali Mahkota di kepalanya, lalu Sri Rama menyebutnya sebagai Raja Alengka, yang membuat Wibhisana sangat kaget. Saat itu Sri Rama berkata “kebenaran ini tak lama lagi akan terjadi, itulah panah-panah kebenaran-ku tak pernah meleset untuk menegakkan dharma”. Lalu Wibhisana menjawab wahai pujaanku Sri Rama, Aku datang untuk mengabdi, Engkau jadikan aku sebagai sahabat-Mu, betapa bahagianya abdimu ini terangkat sinar suci kemuliaan-Mu. Lalu Sri Rama menjawab, hai sahabat itulah wujud kerendahan hati-mu yang sangat membahagiakan hati-ku. Diantara sahabat tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah, kita diberkati karunia yang sama dan bersama-sama pula menegakkannya di bumi. Mendengar wejangan Sri Rama itu, betapa terharu perasaannya, hingga tak terasa air matanya membasahi pipi mengalir menetes dipangkuannya.
Dengan meninggalkan istana yang dipenuhi kegelapan, sahabat, materi dan harga diri, dikorbankan untuk memasuki perjuangan menuju kota yang indah dan damai. Akibatnya nilai-nilai kebajikan memperoleh tempat, arah serta sasaran tembak penggunaan yang tepat. Seluruh rahasia tersembunyi yang mengaburkan kebenaran dan kesucian hati nurani terbuka perlahan, dibuka oleh Wibhisana agar Sri Rama dapat membunuh Rahwana.
Memaknai nilai esensial narasi singkat ini, betapa sungguhnya perjuangan dharma di bumi, menghadapi Jaman Kali Yuga ini, dimulai dengan masalah-masalah besar, berdoa agar mampu merajut nilai-nilai persahabatan, membangun kekuatan suci merefleksikan vibrasinya di dunia, melalui ruang terdekat mencapai “kebahagiaan sejati’. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments