
“AURA KASIH”
“Pengetahuan Suci Membangkitkan Energi Dharma”
Oleh: I Ketut Murdana (Selasa, 09 September 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Bangkitnya energi dharma yang sedang dihadang dan dihimpit lalu ingin disirnakan oleh kekuatan asura, yang menghinggapi sebagian besar jiwa-jiwa penguasa pemimpin dunia saat ini. Barangkali seperti itulah reaksi kuasa “keadilan” tercipta melalui gelombang besar putaran Yuga itu sendiri. Artinya “keadilan bergerak bersama Sang Waktu”, menciptakan gelombang kuasa energi dualitas. Lalu menjadi sifat “kuasa menguasai” dan “yang dikuasai”. Artinya yang kuat menguasai yang lemah. Akibat dari semua itu, “yang dikuasai” selalu bergerak berjuang melawan kekuasaan itu, lalu mencapai “kemenangan” untuk saling menguasai, demikian seterusnya. Akibatnya menciptakan kemenangan yang bersifat asura atau adharma, dan kemenangan bersifat Dewata atau kemenangan dharma. Saat itulah energi dharma bekerja sesuai hakekatnya.
Kemenangan kuasa sifat Dewata, adalah kemenangan yang mengayomi, lalu “bergerak menyempurnakan diri untuk mencapai kebebasan abadi”. Seperti itulah pengetahuan suci menjiwai, bergerak menjadi energi dharma, meresapi jiwa insan-insan pengabdi-Nya. Demikian sebaliknya kemenangan kuasa sifat asura, selalu menindas dan menyengsarakan rakyat, hingga kekuatan Ilahi turun ke dunia, meresapi jiwa insan-insan pilihan-Nya. Semua itu bekerja amat rahasia, dari jaman ke jaman untuk mempralina kekuatan asura menyeimbangkan dunia. Menyelamatkan tegaknya dharma kembali di bumi.
Dalam kontek ini gelombang asura nampak sedang “bergelora mencapai puncaknya”, melalui kekuatan anugrah besarnya, hingga mencapai “kemenangannya”. Kemengan asura-asura itu mengorbankan segalanya; rakyat, sanak keluarga, saudara, istri, negara dan bangsa demi ambisi napsu dan ego kekuasaan. Bukan hanya ingin menguasai duniawi, tetapi juga berambisi menguasai alam semesta dan menundukkan Penciptanya. Bagaikan kisah Jalandara yang ingin menciptakan Surga Baru, lalu ingin mempersunting Dewi Parwathi Ibunya sendiri. Demikian pula kisah Raja Rahwana mengorbankan segalanya, demi “keyakinan pandangan kesatrianya sendiri”. Lalu dihancurkan oleh “niat yang bernapsu” untuk mempersunting Dewi Sintha.
Sesungguhnya semua itu adalah rekayasa atau Lila Ilahi, mengingatkan kesadaran untuk mengampuni Rahwana. Tetapi semua bentuk nasehat tak mempan memperbaikinya. Akhirnya Sri Rama mempralina kuasa asura itu sendiri. Mengedukasi insan-insan dunuawi agar memahami dharma, memperjuangkan hingga tegak kembali di dalam diri insan-insan di bumi. Nampaknya sifat-sifat mahaasura Rahwana itu telah beringkarnasi, hadir kembali menjiwai sebagian pemimpin-pemimpin besar dan insan-insan duniawi saat ini. Kenyamanan sosial nan toleransi antar sesama disirna hilangkan, berubah dan dirubah menjadi panatisme egoistik, oleh kuasa asura bertopeng orang-orang suci, leluhur, raja, ratu, dan profesi-profesi lainnya.
Nampaknya pilar-pilar komunitas penyangga-penyangga dharma, dan semua profesi itu telah dikondisikan untuk disusupi dan dikuasainya. Melalui kekuatan material nan politik dalam tingkatan kualitasnya masing-masing. Melalui topeng-topeng itu mereka berteriak seolah-olah sedang memperjuangkan “keluhuran ajaran leluhur”, lalu merasa selalu benar digjaya menyalahkan, menghina keyakinan orang lain di luar kelompoknya. Lalu dikuatkan oleh kuasa perlindungan raja-raja asura, yang “berbusana kearipan lokal, bertopeng konsep-konsep pengetahuan suci”.
Gelombang realitas ini semakin kuat menjalar halus tersembunyi, dan selalu tertutup ingin menyembunyikan. Sesungguhnya sudah terang benderang, tetapi kekuatannya besar seolah-olah menjadi kebenaran. Saat itu kebajikan hadir sebagai pengetahuan lemah energi diam seribu bahasa mengamati, lalu hanya berdoa hingga anugrah energi sici-Nya mengalir kembali.
Dalam narasi literasi serta pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa, kekuatan sifat Dewata nan Ilahi yang termanifestasi menjadi energi dharma itu, dijiwai kekuatan alam semesta, bisa meresap lebih halus lagi, menembus, menghancurkan, hingga sulit dipahami. Itu artinya kekuatan dharma menembus, mengatasi hukum duniawi yang mudah dimainkan itu. Karena dibentuk untuk permainan yang selalu menguntungkan kekuasaan asura itu sendiri. Oleh karena asura yang haus kekuasaan selalu merontokkan semua aturan untuk berebut kekuasaan. Diawal terlihat baik-baik saja, lalu berubah semakin haus, garang dan sewenang-wenang.
Pondasi-pondasi keimanan nan religius sakral berubah menjadi desakralisasi, propan dan sekuler nan pragmatis. Jargon-jargonnya berteriak kencang, berbuih bertopeng “demi kesejahteraan rakyat”. Pengulangan itu terus terjadi menguasai panggung, didongkrak oleh energi material berkekuatan politik yang besar. Walaupun seringkali digagalkan oleh kekuatan semesta tersembunyi, tetapi belum mampu menjadi edukasi penyadaran. Semua itu menjadi catatan sejarah yang mesti menjadi “literatur hidup”, bernarasi nilai-nilai dan makna kehidupan.
Tetapi ingatlah asura dan manusiapun amat terbatas, bila berhadapan dengan hukum kuasa semesta Yang Maha Adil. Menentangnya hanyalah kemenangan sesaat, lalu hancur. Karena diatas hukum duniawi itu, selalu hadir hukum semesta nan Ilahi, Yang Serba Maha, yang selalu mendengar jeritan penderitaan rakyat. Ketika rakyat benar-benar tersiksa penjara kekuatan asura-asura itu. Saat itulah jawabannya hadir, mengubah, menetralisir menjadi Jaman Baru yang “membuka” kesadaran dan keimanan.
Semua itu bergerak dalam dimensi waktu-Nya sendiri, saatnya “semesta merespon”. Mengkoneksi stimulasi hadirnya doa-doa suci yang terus bergulir, terkondisi ketulusan yang semakin tulus. Saat-saat seperti itulah kesabaran dan keyakinan menjadi kekuatan doa-doa suci, menghadirkan anugrah-Nya. Tentu semua itu tak tergantikan oleh rayuan manis dan sumringah kepura-puraan. Seperti orang menginginkan kedudukan tertentu, bisa dilicinkan oleh setumpuk uang dan sajian kenikmatan napsu lainnya. Akibatnya menjadi singgasana indah berbayar, maka melahirkan bayaran berantai yang beranak pinak, berkembang semakin liar. Saat-saat nikmat seperti itulah, kebajikan dharma terlupakan, kukuh dengan kekuatan napsunya, semakin memuncak melewati batasnya. Saat itulah kekuatan Ilahi Semesta, merontokkan, lalu hancur tenggelam dalam gelapnya neraka.
Setelah hancur, terlihat seolah-olah sadar, lalu bermanis-manis ucapan, berekspresi penuh kesopan santunan. Tetapi batas waktunya telah tiba, pintupun telah tertutup, matahari telah terbenam, menenggelamkan segala sumringah napsu duniawi. Merdunya romantika suara-suara makhluk malam hari, tak mampu membangkitkan romantika, paduan asmara cinta kasih, yang selalu mengantarkan tidur nyenyak yang membahagiakan. Semua itu “tercabut sirna”, hilang berganti duri-duri tajam menusuk-nusuk hati nurani. Mata sulit terpejam, lalu stress berkepanjangan. Merusak kesehatan, berubah menjadi kabut “sengsara duniawi” yang sulit dibayangkan. Seperti itulah kukum semesta bekerja amat halus, menyadarkan melalui hukuman halusnya. Agar insan-insan duniawi segera kembali pada jalan dharma sejati, yang menyelamatkan dan membahagiakan itu. Merasakan nikmat pelukan dalam belaian kasih Ibu Semesta Raya Yang Maha Kasih. Ketika sudah demikian, niat asura sirna lebur menjadi cinta kasih sejati yang membahagiakan. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments