
“AURA KASIH”
“MERDEKA BANGKIT MENEMBUS KEGELAPAN”
Oleh: I Ketut Murdana (Senin, 24 Agustus 2026).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Dunia kemanusiaan saat ini sedang dilanda badai kemerosotan moral yang tak terbendung. Semua keinginan “dianggap benar”, lalu menghasilkan tindakan ceroboh menciptakan disharmoni. Sibuk berteriak menuntut kesejahteraan, tetapi lupa dan amat sulit berbuat baik untuk menciptakan kesejahteraan bersama. Pemimpin semakin banyak dan semakin sibuk memperkaya diri, korupsi membiarkan kepincangan sosial semakin menganga dan meluas. Akibatnya menimbulkan jurang kecemburuan dan penderitaan yang semakin meluas. Mengabaikan rasa damai yang sesungguhnya esensial bagi kebutuhan jiwa setiap insan. Dimana manfaat kecerdasan ilmu pengetahuan, teknologi dan spiritual serta kemenangan politik yang menghancurkan seperti itu. Akibatnya rakyat hanya keluar dari mulut buaya masuk ke mulut harimau. Rakyat disanjung agar menjadi kuasa asura yang semakin menggelapkan. Barangkali itulah wujud “takdir jaman”, yang harus terjadi tak bisa ditolak oleh siapapun.
Sebagai hukum semesta bergerak sesuai waktunya. Entah kapan sampai pada titik akhir pralinanya, hingga munculnya energi suci yang memancarkan rasa damai santhi dan welas asih. Semua itu mesti menjadi renungan untuk membangkitkan energi suci dharma dalam diri setiap insan. Lalu bergerak membangun diri sendiri, bangsa dan negara. Barangkali jiwa-jiwa yang terdiam terpenjara, berteriak histeris dalam diri setiap insan, terutama yang telah tersentuh pembangkitan energi Ilahi, dalam realitas tersembunyi itu, hingga disebut bangkitnya mutiara-mutiara dharma itu sendiri. Dapat menyaksikan gelap dan merasakan “pahitnya kebenaran” yang sedang terinjak-injak dan terus menerus terabaikan. Lalu bangkit semangat bergerak berkarma, mengabdi memperjuangkan dharma, sadar dan tulus memohon perlindungan. Sebagai upaya merefleksikan kemurnian perjuangan dan doa, demi kesejahteraan dan kedamaian bersama.
Melanjutkan kesadaran “merdeka secara politik kebangsaan” dan “merdeka secara rohani” mencapai rasa damai santhi dan welas asih, yang disebut “kebebasan” atau “kemerdekaan yang sesungguhnya”. Sesuai keyakinan bersama bahwa; semua terkendali oleh sifat Kemaha-kuasaan-Nya sesuai waktu-Nya. Memahami kendali Kuasa itu, para Leluhur telah mewariskan budaya spiritual nan suci, hingga artefaknya hidup menginspirasi sampai saat ini. Masih dikunjungi merasakan nilai dan teladan tersembunyi. Bukan hanya sibuk membenci dan mengaburkan historis, tetapi memainkan peran ekonomis lalu membiarkan kerusakan dan pencurian terus terjadi.
Rsi Walmiki menggambarkan renungan jaman, dalam karya besar kisah heroik Ramayana. Kebenaran kisah itu tak hanya bisa di dengar tetapi dapat dirasakan kebenarannya dalam kehidupan. Wibhisana digambarkan hidup dalam wangsa asura, tertindas oleh kekuatan gelapnya yang diperankan oleh Maharaja Asura menguasai tiga dunia Rahwana, kakak dan saudara-saudaranya sendiri. Semuanya bertolak belakang memahami dharma kehidupan. Walaupun proses tapanya sama, memuja Dewa yang sama, tetapi permohonan berkatnya berbeda. Lalu Rahwana melaksanakan anugrah, sesuai kebutuhan napsunya. Akibatnya berbeda dan bertolak belakang.
Walaupun demikian halus etika dan bijaksananya Wibhisana mengingatkan Rahwana, agar mengembalikan Dewi Sitha kepada Sri Rama tak mendapat respon. Justru semakin membenarkan tindakannya itu, lalu dimaknai sebagai kesatria sejati. Lalu menuduh Wibhisana sebagai penghianat kaumnya. Karena telah “tertipu oleh rasa persaudaraan”, bujuk rayu Surphanaka adiknya sendiri. Sebagai upaya balas dendam tersembunyi karena suami dibunuh Rahwana, karena kritis terhadap Rahwana. Surphanaka sangat pintar membalik fakta, lalu memainkan narasi dan pendramaannya sendiri. Menggoda Laksamana agar bisa melukainya.
Lalu luka itu sebagai bukti bahwa dia telah diperkosa oleh Laksamana. Melalui cara itu, Dia membius sugesti napsu kekuasaannya agar mempersunting Dewi Sitha, sebagai upaya pembelaan akibat luka yang dilakukan Laksamana. Skenario cerdas pendramaan tersembunyi Surphanaka ini, dimainkan agar pilihan sikap Rahwana, benar-benar adalah pilihan sikapnya sendiri. Walaupun “hasrat kebenaran” telah dinasehati berkali-kali oleh Wibhisana dan juga oleh Penasehat kerajaan, dan Dewi Mandodari. Semua nasehat itu sirna lalu berubah menjadi amarah yang berakibat pengusiran Wibhisana, sehingga menemukan jalan pengabdiannya sendiri. Seperti itu jiwa yang tenggelam, bangkit berproses untuk menemukan jalan pengabdian untuk mencapai kebebasan.
Gelora asura cerdas memainkan “kebenaran” untuk kebenarannya sendiri, semakin memuncak. Walaupun demikian keberhasilannya relatif singkat tak kekal. Tetapi tetap tersugesti dan menarik. Barangkali energi Ilahi yang menguatkan kehancurannya, sedang berproses tersembunyi. Bagaikan kisah kecerdasan Surphanaka mampu menyulut emosi dan napsu seksual Rahwana, lalu menjerumuskannya ke jurang kehancurannya sendiri. Itu artinya “asura” menghancurkan “asura”, merupakan penghancuran dari dalam “tersembunyi”, sulit dipahami dan dikendalikan. Merupakan awal kerja sifat-sifat dharma semesta nan sejati, yang bekerja halus seolah-olah tersembunyi.
Barangkali semua kekuatan asura itu sudah saatnya hancur, diawali upaya panjang menguatnya gelora gemuruh, longsor moral merefleksikan laku adharma. Bergesernya fungsi tempat suci, mulai bertambah peran, tidak hanya sebagai tempat memuja Tuhan, memurnikan spirit pemuliaan diri, justru banyak menjadi tempat para asura merancang niat kekuasaan, menghina pemerintah bertopeng kritik. Demikian pula menjadi tempat rebutan suara pendukung, hingga memecah masyarakat dan orientasi, kemanunggalan konsentrasi kepada Tuhan lalu menjadi sibuk mengkonfigurasi tokoh politik yang membeli suara. Hal ini dikukuhkan sebagai “kebenaran”, yang dibenarkan lalu dikondisikan untuk “dipelihara”. Akibatnya tumbuh sikap mendewakan uang dan perhormatan tokoh saat bawa uang.
Demikian sebaliknya, seberapa benar dan bijaksananya pengetahuan untuk rancangan pembangunan, sulit digugu apalagi untuk dilaksanakan. Konstruksi pemikiran berbayar itu menciptakan sikap korupsi yang semakin mengakar kuat. Korupsi meralela, perang dan penindasan tiada akhir, narkoba penghancur moralitas dan sejenisnya hidup subur, pertikaian antar sesama, menjadi perang saudara terus bergulir, sifat-sifat intoleran terus merambah dianggap benar atas ajaran agama, kecerdasan ilmu pengetahuan berjiwa asura, alam dirusak, diperkosa terus menerus tak terkendali, asura bejat bertopeng orang suci memperkosa gadis-gadis belia didikannya dan seterusnya. “Misteri kegelapan”, yang terus menggelapkan ini, merefleksikan pembenaran, yang membenarkan keinginan hawa napsu seluas-luasnya. Memabukkan hidup duniawi, untuk melancarkan segala cara memuaskan diri sendiri. Merebut kekuasaan memuaskan hawa napsu, penuh janji-janji, mengkondisikan sifat-sifat asura rakus nan ambisius.
Karena kemenangan kuantitatif terkondisi di ruang itu. Seperti itulah kerja Jaman Kaliyuga yang harus terjadi. Walaupun demikian dengan keyakinan yang kokoh, berlindung dan berjuang di jalan dharma yang tersembunyi dalam kekuatan terselubung. Konon dua puluh lima persen berbanding tujuh puluh lima persen. Dengan perbandingan itu para politikus asura memahami realitas kosmologis itu, maka ditetapkan satu orang satu suara berkekuatan hak asasi. Oleh karena itu kuantitas adalah kemenangan, kualitas yang tak terukur sulit berposisi. Akibatnya kualitas personal sulit berposisi, bila tak beruang. Realitas inilah yang terjadi dan terkondisi.
Semuanya tak dapat dihindari. Akibatnya secara periodik melahirkan budaya munafik penuh kebohongan, menyengsarakan rakyat. Semua jajaran kepemimpinan dikuasai oknum korup. Tak terlepas dari kementrian yang semestinya memberi teladan yang mencerahkan masyarakat, justru korupsi besar-besaran. Demikian pula yang mesti menjaga, justru merusak paling besar. Itu artinya kekuatan gelap jaman Kaliyuga merontokkan moralitas yang menciptakan disequelibrium berkepanjangan di segala bidang. Menyuguhkan keimanan palsu, syarat teks dan wacana, kosong tanpa makna. Semua itu hanya diproteksi melalui wacana pembenaran, dan dibela-bela sok humanis.
Menyimak dinamika realitas ini, menempatkan kesadaran kita untuk memahami bahwa kekuatan gelap yang menghancurkan tatanan etika moralitas sedang bergerak pralina menuju titik nol, barangkali inilah yang disebut akhir jaman, menuju “jaman baru”. Memaknai dan menyikapi realitas ini, hanya sadar kembali, bersama-sama ke jalan dharma kebajikan. Kekuatan Dewata dan asura mesti berangkulan bersama-sama mewujudkan pembangunan bangsa dan negara demi terciptanya rasa damai. Demikianlah kisah besar kosmologis nan Ilahi Pemutanan “Giri Mandara di Lautan Susu” digambarkan oleh para suci yang patut dilaksanakan melalui tujuan dan penyatuan kewajiban masing-masing. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments