
AURA KASIH
“RENUNGAN SHIVA LATRI”
Oleh: I Ketut Murdana.
Hari ini dikenal sebagai hari yang paling gelap. Ketika manusia terlena, tidak sadar (acettana) akan tujuan hidup, maka kegelapan pasti menggulungnya. Tetapi di balik kegelapan itu pasti ada seberkah cahaya yang tersembunyi, yang barangkali disembunyikan atas hukum Sang Waktu. “Menemukan realitas di balik realitan itulah perjuangan”.
Saat-saat seseorang mengalami kegelapan dalam wujud kebingungannya, saat itulah narasi edukasi memberi peran yang amat penting. Seperti dikisahkan dalam Siwa Purana, saat itu Dewa Narayana menjawab pertanyaan Dewa Kartikeya ketika Dia diajak ke Kailasa oleh Ibu-Nya Dewi Parwathi. Saat itu Kartikeya bertanya kepada Dewa Narayana, atas kekagetannya terhadap anugrah dari ayah-Nya Dewa Shiva yaitu:
“Agar selamat melaksanakan tujuan hidup-Nya”. Demikian pula para Dewa yang lain sangat berharap atas kelahiran dan kehadiran-Nya di Kailasa. Setelah kembali dari pelayanan enam orang Ibu yang merawat sejak kelahirannya di alam Kritika yang tidak terjangkau oleh kekuatan Asura.
Benih yang dilahirkan Dewa Shiva dengan Dewi Parwati diketahui oleh Taraka Asura dan anak buahnya Asura Sumba dan Nisumba, ingin memusnahkannya, tetapi mereka gagal melakukannya. Lalu diselamatkan oleh Dewa Agni, Dewi Gangga lalu diselamatkan lagi oleh enam Dewi di alam Kritika.
Setelah dewasa Kartikeya di ajak ke Kailasa. Saat itulah Dia bertanya atas kebingungan terhadap tujuan hidup yang belum dipahaminya. Dewa Narayana menjawab pertanyaan-Nya dan bersabda; “Setiap orang lahir ke bumi memiliki tujuan masing-masing”. Tetapi tidak semua orang mengenal tujuan itu. Untuk mengenalkan tujuan hidup yang sesungguhnya inilah Dewi Parwathi mendidik Kartikeya dengan keras, lembut, kasih dan lain-lainnya agar tidak terlena memasuki alam gelap kenikmatan, mengenal tujuan dan kewajiban hidupnya yaitu membunuh Taraka Asura demi kesejahteraan dunia.
Edukasi pencerahan inilah anugrah terbesar bagi umat manusia ketika sadar untuk mendekat kepada-Nya. Demikian pula kisah Si Lubdaka harus membebaskan rasa takutnya terhadap tujuan hidup jasmaninya, bertangging jawab secara material, dan spiritual menuju penyerahan diri melalui puja Bhakti yang tulus kepada Dewa Shiva. Untuk mengatasi rasa takut Dia melakukan melalui taburan daun bilwa kepada Simbol Suci Dewa Shiva yaitu: Lingga Yoni.
Membebaskan rasa takut untuk perjuangan kebajikan demi “kedamaian negeri tercinta” inilah tugas utama umat manusia hingga bisa mencapai gelar “kesatriya jnana” artinya perjuangan suci meningkatkan martabat untuk diri sendiri dan bervibrasi suci untuk umat manusia.
Kesadaran seperti inilah mesti dimaknai bukan hanya saja cerdas secara material seperti arus yang melanda dunia saat ini hingga pergulatan materi dengan berbagai bungkusannya “dibenarkan” hingga terjadi saling sodok, saling tindih yang amat mengacaukan. Menyadari dan mengatasi perangkap inilah perjuangan suci “penyadaran”.
Ketika sudah demikian maka esensi puja bhakti, mencapai kebenaran yang mensejahterakan dan membahagiakan Malam Shiwa adalah anugrah pengetahuan yang mencerahkan, untuk mengedukasi manusia agar sadar tujuan hidupnya (cettana). Kesadaran akan memperoleh ruang gerak ekspresi yang utama adalah puja.
Puja dengan ketentuan sadhanya adalah jawaban penghubung, menghubungkan antara atman dan Brahman, bagaikan mencolokkan listrik dengan sumber energinya hingga saat itu pula lampu menyala. Menyalanya lampu akibat terjadi hubungan, hingga terang benerang. Ketika jiwa sudah terang benerang, maka penghalang tujuan dapat dikenali lalu berjuang mengatasi itulah swadharma yang sesungguhnya.
Hanya dengan perjuangan anugrah akan mengalir, takdir manusiapun berubah. Malam puja Shiva atau Shiva Ratri adalah pertarungan antara keyakinan dan tantangan. Keyakinan, keberanian menyertai perjuangan membebaskan rasa takut. Rasa takut adalah kegelapan yang menutupi tujuan dan itulah harus diperjuang dengan swadharma agar memperoleh pengampunan dosa. Jadi pengampunan dosa adalah perjuangan, dan kualitasnya adalah tahapan pembebasan. Semoga menjadi renungan dan refleksi.









Facebook Comments