
“AURA KASIH”
“Menyadari Rahasia di Balik Masalah”
Oleh : I Ketut Murdanan (Selasa: 14 Maret 2023)
Badung (Cahayamasnews.com). Seringkali terdengar ucapan entah disadari atau tidak, ketika seseorang atau kita sendiri berhadapan dengan masalah yang “mengkhawatirkan”, hingga menggoyang keyakinan. Masalah-masalah yang datang dan terkadang tiba-tiba itu membuat jantung gemetaran, keringat dingin seolah-olah tidak lagi ada ruang terbuka, semua seolah-olah buntu. Dunia sesaat seperti itu terasa gelap gulita. Kebingungan menguasai alam pikir sepenuhnya. Saat itu pula kata-kata doa sontak, disertai cucuran air mata kesedihan dan kegalauan, lalu berucap oh Tuhan lindungilah hamba-Mu yang lemah ini. Tinjukkanlah hamba jalan keluar terbaik dari masalah yang sedang menjejal di pundak ini.
Adapula yang seolah prustrasi hingga berucap cabutlah nyawa hamba saat ini, hamba tidak tahan dan tidak kuat lagi menghadapi masalah. Dualisme yang ditimbulkan oleh masalah ini, bisa beraneka ragam wujud kepasrahan terjadi pada diri masing-masing. Saat-saat seperti itulah seseorang benar-benar merasa “dikosongkan” oleh “sesuatu yang tidak diketahui”. Siapakah “sesuatu” itu?, pertanyaan inilah rahasia besar yang “menyelimuti”. Akibat dari semua itu segala bentuk gengsi indrawi, napsu, ego lebur luluh menjadi stress seolah-olah prustasi, lalu perlahan bisa “memasrahkan” diri. Lalu melakukan sesuatu yang bisa untuk “bertahan hidup” atau “mengakhiri hidup” yaitu kepasrahan yang disalah artikan.
Dalam kondisi seperti inilah refleksi doa mohon perlindungan kepada Bapak dan Ibu Alam Semesta terjadi dengan sendirinya.
Dengan demikian memasrahkan diri adalah wujud kepasrahan, dapat diartikan sebagai leburnya puncak gengsi ego, napsu dan indriya serta kemampuan olah pikir, olah rasa, olah rasio, olah imaji dan seterusnya lebur atau dilebur oleh “kekuatan rahasia”, menjadi sesuatu yang rahasia pula oleh pengetahuan alam pikir vmaterial duniawi (karma kanda) menuju pengetahuan spiritual nan suci yang abstrak (niskala) disebut jnana kanda.
Itu artinya hidup memasuki babak baru dengan berbagai istilah: penebusan, panggilan, tuntunan, terpilih dan lain sebagainya. Semua itu akan lebih terasa kebenarannya dan bisa bersyukur apabila telah melewati badai besar masalah yang menimpa itu.
Ketika mereka itu berdoa atas kepasrahan itu, maka ruang suci niskala itu telah mulai terbuka disentuh oleh doa. Apabila kesadaran itu berlanjut maka energi doa akan semakin besar memasuki ruang jnana-Nya menjadi prilaku bhakti nan suci, mengantarkan jiwa perlahan tenang merasakan kebahagiaan.
Ketika sudah demikian kesadaran tumbuh menjadi semangat dan ketekunan, hingga dapat merasakan tertuntun oleh “kebenaran” yang disebut “sesuatu” tersebut di atas. “Kebenaran” atau “sesuatu” yang dianggap rahasia lalu dapat “dirasakan” membahagiakan, itulah wujud “kebenaran-Nya” (Wibhu Sakti), karena telah meresapi dan dirasakan oleh jiwa-jiwa pemuja-Nya.
Ketika pikiran belum tunduk pada kebenaran itu, maka masalah itu akan selalu datang menimpa. Itu artinya, pikiran harus tunduk, siap melakukan karma penyelesaian yang dimaknai sebagai penebusan.
Apabila perilaku kehidupan selalu berjalan atas dasar keikhlasan dan tuntunan-Nya, itu artinya hidup terhubung dengan berkat dan kasih-Nya. Kebenaran inilah “wujud kesadaran yang sesungguhnya”BMahadewa sebagai Sat Guru mengalirkan pengetahuan (Sadhasiwa) kepada orang suci yang dijadikan-Nya, menjadi Sad Guru, agar dekat dan luluh akrab dengan manusia.
Karena berbadan manusia memiliki ruang gerak yang terbatas, tetapi bisa bervibrasi luas berantai hingga bisa berpengaruh besar di bumi. Pengaruh vibrasi suci itulah yang mewilayahi edukasi spiritual karakter manusia agar bisa hidup damai di bumi. Bhagawan Wyasa, Bhagawan Wiswamitra Maha Rsi Agastya, Yesus Kristus, Nabi Muhamad, Sidhartha Gautama, dan masih banyak lagi yang hadir ke bumi menyelamatkan dharma dan manusia.
Memahami realitas sejarah spiritual kehidupan manusia seperti itu betapa kasih-Nya kuasa Ilahi, menciptakan manusia, lalu diberikan hidup di bumi, lalu dituntun agar bisa kembali lagi kepada Diri-Nya sendiri yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa. Di masa lalu pada zaman Dwiparayuga, raksasa dan dewa juga dituntun oleh Guru Deva, dan Rsi Sukracarya (Rsi Usana) guru para Asura, agar keduannya mampu menjaga hak dan kewajiban masing-masing di tiga dunia.
Kenyataan yang terjadi para Asura selalu ingin menguasai dunia, selalu ingin menyingkirkan Para Dewa. Pada jaman Mahabharata Guru yang berbadan manusia kelahirannya berjiwa dewata dengan asura menjadi satu dibawah bimbingan Guru Drona. Asura yang dilahirkan menjadi Seratus Korawa selalu ingin berkuasa di Astina Pura, walaupun bukan menjadi haknya.
Edukasi nilai-nilai spiritual yang diajarkan Guru Drona diabaikan lalu diganti dan disulut ambisi oleh Sangkhuni yang berbasis perebutan kekuasaan duniawi, dengan segala cara yang amat keji.
Gambaran realitas filosofis, psikologis dan anthropologis ini memberikan ketegasan kepada umat manusia, agar berada dalam garis perguruan kebajikan dan Guru yang benar-benar mulia, berkat dari Kuasa-Nya, agar hidup selamat dan damai. Untuk mencapai kebenaran itu, ketegasan prinsip dan keyakinan diri mendulang nilai-nilai kebajikan melalui sadhana yang tertuntun melalui garis-garis gurupadesa yang benar.
Karena sadhana merupakan penghubung mewujudkan kebenaran yang dapat dialami. Ketika sudah demikian kepercayaan diri akan semakin kuat dan tak tergoyahkan bagaikan gunung atau Lingga Yoni yang tegak sepanjang hayat. Sehingga mampu memandang dan menyimak bahwa setiap masalah yang menimpa, dibaliknya pasti ada “sesuatu” yang bernilai besar sebagai anugrah yang dapat mengedukasi perbaikan dunia dengan segala isinya. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.









Facebook Comments