
“AURA KASIH”
“KEYAKINAN YANG BERPENGETAHUAN SUCI”
Dipetik dari Bhagawadgita, XVII, 4 (Golongan-golongan Keyakinan).
Oleh: I Ketut Murdana (Jumat: 29 September 2023).
BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Sudah semestinya bila meresapi dan menumbuhkan keyakinan berpedoman pada Sastra Suci tuntunan-Nya. Kepercayaan manusia yang lahir dari alamnya memiliki tiga macam jenis yang merupakan sifat abadi yang meresap dalam diri manusia yaitu: Sattwika (kebajikan), Rajasika (kekuatan napsu) dan Tamasika (kebodohan). Orang-orang baik menyembah Dewa-Dewa. Rajasika menyembah Yaksa dan Rakshasas, sedangkan yang bodoh (Tamasika) menyembah Preta (roh) dan para bhuta. Orang bernapsu pemuja golongan Rajasika, mereka suka dipuji-puji, sombong dan angkuh, terdorong oleh keinginan napsu. Melakukan penyiksaan melewati batas pada dirinya. Penyiksaan yang melewati batas, mengakibatkan ketakutan bagi yang lainnya. Bukan disegani oleh karena kebajikan dan kebijaksanaannya (Sattwika).
Akibat kebodohan mengurung dan menenggelamkan sifat-sifat kebajikan, demikian pula sifat Suci Tuhan (Atman) di dalam badannya sendiri. Mereka menempatkan keyakinannya pada Asurika (Setan). Pada posisi inilah berkembang budaya cepat nikmat di awal, lalu berikutnya hancur lebur menjadi “penderitaan panjang”. Sesuai dengan Sabda Suci-Nya akan turun menjadi makhluk rendahan.
Kalau sudah demikian, akan semakin gelap, menjauh dari kesadaran (Cettana) terbelenggu ketidaksadaran (Acettana) mengikuti putaran hukum dunia dalam ketidaksadaran. Itu artinya tanpa berkat pengetahuan penyempurnaan. Betapa pentingnya menyadari, lalu menempatkan keyakinan pada pengetahuan suci penyempurna jalan mencapai pembebasan. Pembebasan dalam kontek ini dapat diartikan sebagai proses panjang menembus lapisan-lapisan kegelapan yang diakibatkan karma masa lalu dan juga saat ini. Melalui Sadhana perbuatan suci kebajikan dharma yang tertuntun, bagaikan Arjuna dituntun oleh Sri Krishna
Keyakinan yang teguh dan perilaku yang benar, membebaskan rasa takut, yang seringkali ditakut-takuti oleh dogma-dogma pembodohan oleh Pedanda Baka (burung bangau berbusana Pendeta), yang mesti diwaspadai, untuk menguatkan keyakinan kepada-Nya melalui upaya memposisikan ketiga sifat keyakinan itu, menjadi berguna (Tri Guna menjadi Saguna lalu mencapai Nirguna Brahman) yaitu pembebasan abadi. Memahami kewajiban besar dan panjang, dalam kehidupan inilah patut disadari guna meningkatkan derajat moralitas keluhuran, menjadikan sifat-sifat dewata menguasai dan menuntun jalan hidup mencapai tujuan.
Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi menumbuhkan keyakinan berpedoman pada Sastra Suci tuntunan-Nya. Kepercayaan manusia yang lahir dari alamnya memiliki tiga macam jenis yang merupakan sifat abadi yang meresap dalam diri manusia yaitu: Sattwika (kebajikan), Rajasika (kekuatan napsu) dan Tamasika (kebodohan). Orang-orang baik menyembah Dewa-Dewa. Rajasika menyembah Yaksa dan Rakshasas, sedangkan yang bodoh (Tamasika) menyembah Preta (roh) dan para bhuta. Orang bernapsu pemuja golongan Rajasika, mereka suka dipuji-puji, sombong dan angkuh, terdorong oleh keinginan napsu. Melakukan penyiksaan melewati batas pada dirinya. Penyiksaan yang melewati batas, mengakibatkan ketakutan bagi yang lainnya. Bukan disegani oleh karena kebajikan dan kebijaksanaannya (Sattwika).
Akibat kebodohan mengurung dan menenggelamkan sifat-sifat kebajikan, demikian pula sifat Suci Tuhan (Atman) di dalam badannya sendiri. Mereka menempatkan keyakinannya pada Asurika (Setan). Pada posisi inilah berkembang budaya cepat nikmat di awal, lalu berikutnya hancur lebur menjadi “penderitaan panjang”. Sesuai dengan Sabda Suci-Nya akan turun menjadi makhluk rendahan.
Kalau sudah demikian, akan semakin gelap, menjauh dari kesadaran (Cettana) terbelenggu ketidaksadaran (Acettana) mengikuti putaran hukum dunia dalam ketidaksadaran. Itu artinya tanpa berkat pengetahuan penyempurnaan.
Betapa pentingnya menyadari, lalu menempatkan keyakinan pada pengetahuan suci penyempurna jalan mencapai pembebasan. Pembebasan dalam kontek ini dapat diartikan sebagai proses panjang menembus lapisan-lapisan kegelapan yang diakibatkan karma masa lalu dan juga saat ini. Melalui Sadhana perbuatan suci kebajikan dharma yang tertuntun, bagaikan Arjuna dituntun oleh Sri Krishna
Keyakinan yang teguh dan prilaku yang benar, membebaskan rasa takut, yang seringkali ditakut-takuti oleh dogma-dogma pembodohan oleh Pedanda Baka (burung bangau berbusana Pendeta), yang mesti diwaspadai, untuk menguatkan keyakinan kepada-Nya melalui upaya memposisikan ketiga sifat keyakinan itu, menjadi berguna (Tri Guna menjadi Saguna lalu mencapai Nirguna Brahman) yaitu pembebasan abadi.
Memahami kewajiban besar dan panjang, dalam kehidupan inilah patut disadari guna meningkatkan derajat moralitas keluhuran, menjadikan sifat-sifat dewata menguasai dan menuntun jalan hidup mencapai tujuan. *** Semoga Menjadi Renungan yang Cerdas dan Arif Bijaksana, Rahayu.









Facebook Comments