
“AURA KASIH”
“SARASWATHI”, PENGETAHUAN YANG MENYADARKAN.
Oleh: I Ketut Murdana (Sabtu: 16 Desember 2023).
Semua yang tercipta, terindrawi dan yang tak terindrawi dimulai dari “pengetahuan”. Pengetahuan yang tak terindrawi adalah Maha Pengetahuan atau Pengetahuan Maha, yang “tak terjangkau” yang juga sering disebut kosong. Pengetahuan yang terindrawi adalah pengetahuan yang telah berwujud. Dalam istilah spiritual disebut ciptaan-Nya. Oleh karena demikian luas dan tak terjangkaunya proses dan ciptaan itu, maka disebutlah Maha Pengetahuan. Dalam dunia modern disebutkan terjadi dengan sendirinya. Karena alam diposisikan sebagai dirinya sendiri. Diantara pemahaman ke dua substansi bernalar dan keyakinan inilah memposisikan pengetahuan logika (pengetahuan material) dan keyakinan (spiritual). Sesungguhnya kedua kutub itu saling melengkapi kebenaran dari satu kutub mengisi, dan melengkapi kutub lainnya, sehingga menjadi kesatuan yang utuh, berguna dalam semua aspek kehidupan.
Melalui pemahaman ini telah menunjukkan bahwa substansi-substansi atau aliran-aliran pengetahuan memasuki keterbatasannya, menyentuh dan melayani kebutuhan manusia yang paling dasar. Semua itu dimulai dari yang tunggal tak terbatas. Itu artinya dari yang tunggal tak terbatas tercipta ragam pengetahuan mengisi dan menjawab kebutuhan manusia pada ruang terbatas. Keberadaannya berada pada ruang terbatas, terjangkau dalam dimensi sosial duniawi, mempribadi dan berkehidupan soaial dalam arti luas
Realitas inilah berkembang dinamis dalam kehidupan duniawi. Karena semua itu dihidupkan oleh yang hidup dalam dimensi hirarkhi kekuasaan hidup. Dimulai oleh Yang Maha Kuasa mengalir menjadi berkat atau anugrah individu yang mampu bervibrasi mewilayahi ruang-ruang tertentu. Semua wujud herarkhi itu menempatkan kwalitas dan ragam kebesaran jiwa atau juga disebut kuasa Sang Atma dalam dimensi material dan spiritual. Saat pergerakan seperti itu terjadi, maka aliran pengetahuan dan energi selalu terjadi, maka sifat kemaha-kuasaan yang selalu mengalir itulah dirasakan sebagai Saddha-Siwa. Itu artinya kesadaran dan penyadaran bahwa Yang Maha Meresapi yang terbatas menjadi pribadi-pribadi (mempribadi) beraneka karakter menempati ruangnya masing-masing.
Dalam anugrah kuasa hidup ini, sadar tidak sadar merupakan perjuangan hidup untuk menguasai pengetahuan agar mampu “menguasai” diri dalam refleksinya pada alam semesta dan dalam dimensi sosial. Untuk menguasai itu artinya bahwa manusia bergerak untuk mencari tempat untuk hidup dan harapan berkembang. Agar bisa mencapai tujuan itu, bersahabat dan berperang adalah cara yang telah dilakukan sepanjang sejarah.
Realitas sosial itu terus terjadi hingga kini, perang fisik, perang pengetahuan, perang biologis dalam dimensi strategi, kreatifitas, kavital dan seterusnya menguasai yang lemah dengan tawaran selera konsumtif yang menggiurkan. Pengetahuan spiritual memberikan keluasan arah dan jalan untuk memanfaatkan dan memaknai kekuatan material duniawi, untuk mencapai peningkatkan spiritual, mengenal, mengendalikan, dan pada saatnya mampu membebaskan diri dari ikatan material duniawi mencapai kesejatian diri.
Tugas besar inilah kewajiban utama, yang diajarkan-Nya melalui kitab suci yang diturunkan oleh para suci leluhur yang terus digemakan, dan diperjuangkan dari masa kemasa, yang patut dilaksanakan, agar benar-benar mencapai keikhlasan. Berpengetahuan dalam proses bersadhana dan tulus ikhlas dalam penyerahan diri adalah esensial yang amat sulit hingga memerlukan waktu yang panjang.
Melalui perayaan Mahapuja Pengetahuan Suci Saraswathi, senantiasa terbangun terus kesadaran pengenalan jati diri mencapai kebebasan abadi. Perjalanan panjang inilah garis kehidupan atau jalan parawidya yang patut disadari dan dilakoni agar tidak selamanya terdiam dan terbelenggu dalam kebekuan Awidya. *** Semoga Menjadi Renungan yang Cerdas dan Arif Bijaksana, Rahayu.









Facebook Comments