
“AURA KASIH”
“AMBISI MEMULIAKAN ETIKA”
Oleh: I Ketut Murdana (Kemis: 11 Januari 2024).
BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Amat bagus ketika seseorang memiliki ambisi besar untuk maju dalam berbagai bidang profesi. Apalagi seorang pemimpin sudah seharusnya memiliki ambisi besar untuk maju. Untuk memajukan bangsa dan negara. Karena didalamnya bisa mengkondisikan energi besar agar bisa berguna mencapai tujuan, memperkecil hal-hal buruk yang menghambat serta menentangnya. Bukan sengaja memperburuk suasana, dan mempasilitasinya agar mudah untuk menguasai.
Dalam kontek ini ambisi mengubah diri untuk berpikir dan bergerak maju mencapai cita-cita kedamaian bersama, adalah ambisi yang memuliakan. Tetapi ambisi saja belum cukup, mesti dibarengi dengan kecerdasan intelektual dan spiritual, strategi mencapai, energi, keyakinan, kesabaran, etika dan sopan santun serta hal-hal normatif lainnya. Ketika telah merujuk kesemua ranah itu, ambisi disempurnakan oleh pengetahuan suci spiritual. Semuanya merupakan konfigurasi nilai-nilai kebenaran dan, kebijaksanaan serta keindahan. Menjadi energi pendukung, penggerak vertikal dan horisontal mengatur arah dan ruang gerak menjadi dimensi berlapis-lapis. Proses inilah penyempurnaan dan pembebasan terjadi dengan sendirinya
Konfigurasi nilai ketiga pilar itu saat ini kurang disadari dan cendrung terabaikan, tidak dilakoni dengan seimbang, akhirnya ketika ambisi dicapai lupa pendukung, teman, bahkan melupakan kewajiban terhadap “Yang Memberkati”. Akibat semua itu ambisi berubah menjadi liar, ambisius, hanya memperjuangkan keinginan material dan kesenangan selera, merusak tatanan melalui kekuasaan, etika dan sopan santun, melupakan suara hati nurani lalu terjebak kegelapan duniawi yang dibangga-banggakan.
Erosi moral inilah mengacaukan pikiran, lalu mengambil keputusan yang mengacaukan. Sendi-sendi kehidupan material digunakan tanpa arah, bahkan cendrung dikuasai untuk kepentingan pribadi. Lalu yang berkumpul adalah para buta hati dan buta etika lingkungan sosial tanpa disadari. Karena terlepas energi suci spiritual yang menghidupi dan melindunginya. Itu artinya telah kehilangan “taksu”. Panutan berubah seketika menjadi kebencian, anugrah berubah menjadi petaka.
Sifat material yang selalu datang dan pergi, sesuai hukumnya sendiri. Ketika musim hujan bisa banjir, demikian sebaliknya ketika musim panas, semua dedaunan rontok dan panasnya menyengat. Menyeimbangkan gerak dualitas semesta dengan pengetahuan spiritual, etika dan sopan santun, merupakan jalan terbaik yang telah diajarkan kitab suci untuk memperoleh kebahagiaan duniawi.
Tetapi kegiatan ritual keagamaan saat ini banyak dijadikan topeng bahkan ditunggangi untuk memperoleh kekuasaan duniawi, sehingga mengubah konsentrasi yang membangun energi suci keikhlasan menjadi energi material yang mengikat. Akibatnya sekedar lewat, kosong, tanpa vibrasi suci. Waspadailah semua itu, dan kembalilah pada posisi “kuluhuran” agar hidup terlindungi oleh kasih suci-Nya. Karena kasih suci adalah energi esensial yang meresapi melahirkan kebahagiaan. *** Semoga Menjadi Renungan yang Cerdas dan Arif Bijaksana, Rahayu.









Facebook Comments