September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“MENANTI SINAR CEMERLANG”

Oleh:  I Ketut Murdana (Senin:  22 April 2024).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Ibu Nusantara kita sedang menjadi medan Kurusetra, orang-orangnya sedang menghadapi tantangan berat terhadap bangkitnya “Nilai -nilai kebenaran” dan “Kejujuran” yang semakin tenggelam. Ditenggelamkan terus oleh kuasa asura-asura cerdas dan kuat.  Ada yang sadar terhadap realitas ini, lalu terus berjuang membangkitkan kebenaran, ada yang tidak sadar dan tak peduli, lalu tenggelam bersama ke dalamnya.

Semuanya itu terjadi akibat gelapnya hati nurani, meresapi dan mendominasi kekuasaan politik perebutan kekuasaan yang semakin menggila, menerobos setiap lampu merah hukum dan etika susila kemanusiaan. Menghalalkan segala cara hanya demi “Kemenangan untuk menguasai”, menjauh dari kemenangan bersama menjayakan harkat martabat bangsa dimata dunia. Karena kekuasaan  “Merasa” menguasai hidup matinya lampu itu. Hingga “Kebenaran” hanyalah untuk pembenaran-pembenaran subyektif saja. Bertopeng pada nilai-nilai luhur Panca Sila, yang menjadi dasar negara yang semestinya merefleksi hadir meresap pada setiap prilaku.

Realitas sesungguhnya adalah parasit-parasit yang berbungkus nasionalis, melahirkan olah-olahan palsu dan strategi semu menggendutkan perutnya sendiri dan kelompoknya, lalu mematikan pohon tumpangannya. Korupsi bukan sikap prilaku yang dihindari, takut dosa bukan lagi sikap rohani yang melekat dalam dirinya, tetapi menjadi tujuan “Tersembunyi” tetapi terbuka untuk dilaksanakan. Artinya bekerja apik sistematis dengan jejaringnya.

Saat terjebak disitu ada peran “Kuasa” yang menyelamatkan, hingga jawaban hukumnya sirna seolah-olah ditelan bumi. Itu artinya para asura telah mengalahkan dan menguasai para dewa, pada Buana Agung alam semesta dan nilai-nilai luhur yang meresapi pada Buana Alit, jiwa-jiwa pada setiap insan manusia. Akibatnya kepincangan dunia dan sosial semakin terpuruk, mengakibatkan manusia-manusia bingung tak tentu arah. Akhirnya terjebak napsu yang menyesatkan. Minim kebanggaan prestisius yang bermartabat kehormatan. Malah sebaliknya menebar aura buruk yang dibanggakan.

Membangkitkan sifat kebajikan dharma, menuai pahala kebahagiaan dan damai ini, tidaklah mudah karena kekuatan dan kuasanya berlipat-lipat lebih besar tiga berbanding satu. Realitas ini menunjukkan bahwa penjajahan atas bangsa sendiri, karena manusia-manusianya telah berubah menjadi asura cerdas dan ganas. Oleh karena itu, hanya kepada Yang Maha Kuasalah harapan sandaran memperoleh perlindungan. Oleh karena itu kekuatan dan ketulusan doa yang dipanjatkan kepada Yang Maha Kuasa, memohon anugrah perlindungan-Nya, mesti dilakoni terus dan bersama-sama pendamba-pendamba kebajikan. Bagaikan kekuatan raja Bagiratha menurunkan sungai Gangga untuk membebaskan dosa-dosa leluhurnya

Demikianlah upaya yang dikisahkan dalam Siwa Tattwa, ketika Dewa Brahma memberi angrah kekuasaan pada Taraka Asura, akibat tapanya yang amat kuat. Kecerdasannya mengkonstruksi “Keabadian” dengan anugrah kekuasan, diberkati oleh Dewa Brahma. Akibat kesewenang-wenangannya mengakibatkan para Dewa terdesak yang mengakibatkan penderitaan dunia. Lalu Para Dewa memohon kepada Dewa Brahma agar mencabut anugrah itu demi kesejahteraan dan kedamaian dunia. Tetapi Dewa Brahma tidak bisa melakukan hal itu, tetapi mengarahkan permohonan kepada Dewa Shiva agar berkenan “Menikah”, guna melahirkan putra yang akan membunuh Taraka Asura yang kejam itu.

Perjuangan panjang dengan berbagai cara dan strategi dilakukan Para Dewa hingga Dewa Shiva berkenan menikah dengan Dewi Parwathi hingga melahirkan Dewa Kartikeya. Memaknai narasi tattwa ini, memberi spirit energi panjangnya putaran hukum Sang Waktu mengalirkan anugrah besar. Pada satu sisi kuasa asura semakin meraja lela menciptakan kekacauan dunia. Dan pada sisi yang lain perjuangan para dewa dengan segala rintangannya, memohon agar Dewa Shiva Dewa Pertapa itu berkenan memberkati dunia, memerankan tugas-tugas kewajiban duniawi melalui reinkarnasi kuasa-Nya.

Berkenaan dengan itu, menempatkan kewajiban dharma yang kuat dan selaras dengan hukum Sang Waktu itulah “Kekuatan” dan “Kesabaran”. Kekuatan dan kesabaran inilah menyatu menjadi “Keyakinan” “Keikhlasan” doa, mewadahi anugrah besar, sebagai senjata utama munundukkan kekuatan asura adharma. Berjuang menanti kecemerlangan inilah “Kesadaran bhakti sejati”.

Akankah mereka itu akan selamat dari hukum Kemaha Kuasaan-Nya?. Pasti tidak, tetapi sifat Kuasa-Nya yang Maha Kasih memberi tawaran pengampunan berkali-kali dalam batas-batas Kuasa-Nya. Realitas ini terkadang amat sulit diyakini oleh asura-asura itu. Merasa yakin dengan anugrah yang diperoleh, berdalih dan bertopeng kesatria, hingga batas akhir pengampunan tiba menjadi kehancurannya. “Saat itulah” ketepatan hukum Sang Waktu yang menundukkan segala kejahatan, menegakkan dharma di bumi (Prabu Sakti-Maha Dewa)

Dalam posisi seperti ini, sebagai warga negara kita wajib menjaga dan berjuang bersama menghadapi tantangan besar itu. Dulu leluhur kita bersama melawan penjajahan fisik hingga merdeka, tetapi sekarang penjajahan atas bangsa seniri dan ideologi lain yang selalu ingin mengubur kebhinekaan kita.  Melalui TNI, Polri dan seluruh rakyat Indonesia siap mempertahankan NKRI sampai detik darah penghabisan seperti semboyan para leluhur pejuang di masa lalu. Menteladani, merayakan adalah bentuk pengobaran semangat juang yang harus hidup dalam setiap hati nurani bangsa ini. Bukan hanya hidup dan enak-enak menikmati kekayaan Indonesia, setelah kaya lalu menggerogoti terus kenyaman berbangsa dan bernegara.

Kekuatan asura-asura ini ditumpangi ideologi saudaranya di luar, untuk memperkokoh kerakusan, memerangi yang benar-benar bela rakyat. Menuduh dengan berbagai isu yang memojokkan bahkan mematikan dalam wujud pembohongan publik, yang dikonstruksi menjadi arus besar seolah-olah benar yang sedang menguasai atmosfir dunia saat inu. Produksi hoak justru menjadi profesi yang menjanjikan, karena bisa dimediasi untuk tujuan-tujuan tertentu. Apakah ini cara memaknai revolusi industri 4.0?, atau dampak yang los moral dan pertanggung jawaban kebenaran?, tentu harus direnungi, dipilih dan dilawan dengan mengimbangi perbuatan baik yang lebih besar, berguna bagi kemajuan dan martabat bangsa. Ketika sudah demikian sinar cerlang segera hadir, menghapus mendung kegelapan Nusantara tercinta ini. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!