
“AURA KASIH”
“KECERDASAN YANG DISUCIKAN”
Oleh: I Ketut Murdana (Rebo, 02 April 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Kecerdasan olah pikir yang lahir dari olah teks, sesunggihnya sangatlah berguna, ketika menyadari posisi kebenarannya dalam dunia ilmu pengetahuan duniawi dan pengetahuan suci, yang demikian luas tak terjangkau. Dalam ranah posisi edukasinya sebagai Pengantar, pemahaman Struktural dan Post Struktural. Membanggakan dan mengagungkan tonggak-tonggak narasi berpikir kemampuan masa lalu sangatlah penting. Karena telah membawa, mengangkat derajat dalam standar kualitas tertentu, mengayomi, dan melaksanakan.
Dan itupun mesti diperoleh setelah melewati proses belajar, dalam suatu Perguruan dan Guru yang berwenang, hingga arah dari pengetahuan dan kecerdasan tepat sasaran, mencapai kegunaan yang sesungguhnya. Kesadaran hidup berbangsa dan bernegara, kesadaran hidup dalam satu rumah kosmik yang sama. Dalam batas ruang jasmani dan penyempurnaan rohani. Melewati proses belajar dan memahami secara holistik mendalam dan sungguh. Bukan lahir dadakan melalui konstruksi media yang populer, lalu menjadi persepsi-persepsi liar tak berujung pangkal
Kesadaran menjadi pengusungnya adalah kehormatan dan menghormati “para jnanim penemunya”, lalu mampu memvibrasikan dengan bijak, adalah jawaban hidup yang “berpengetahuan” sesungguhnya. Karena itulah esensi sesungguh, dapat dirasakan ekspresi keteduhan dalam penjernihan nilai-nilai penyadarannya. Semua sungai mengalirkan air, yang bersumber dari gunung, lalu mampu mewadahi rembesan dari berbagai sisi. Tetapi kadar dan kandungan mineral tanah, tebing, padas, bebatuan sungai yang berbeda-beda, hingga menghasilkan kualitas air yang berbeda-beda.
Di hulu jernih, bening bagaikan kaca, tetapi dihilir berubah terkontaminasi macam-macam limbah yang mengotori. Tetapi dia tetap air, tetapi sudah diberi nama karena sifatnya, air jernih, air kotor dan juga air suci yang disucikan oleh insan-insan yang berpengetahuan dan berenergi suci. Itu artinya pengetahuan yang berenergi suci meresapi insan-insan yang telah dicerdaskannya juga berbeda-beda. Perbedaan inilah karekter substansial yang berdinamika dalam ruang publik yang terbatas dan tak terbatas.
Semuanya itu menjadi medan perluasan dan penyelarasan, demikian pula sebaliknya. Sadar akan medan yang amat luas, dinamis dan herarkhis itu, meresapi dan menembus misteri mencerahkan melalui pengetahuan memerlukan metodologis, penuh kearifan dan kebijaksanaan. Menyikapi dan memaknai ragam situasi mencapai selaras harmoni. Ketika kesadaran ini telah menjadi konstruksi edukasi adalah upaya memuliakan pelakunya. Demikian sebaliknya apabila untuk memuaskan ego, meninggikan diri, kepentingan material tertentu dan sesaat, akan sangat berbeda arti dan maknanya. Bertengger menumpang pada pohon yang tinggi untuk meninggikan diri.
Lalu mengurug pohon yang ditumpangi. Pengetahuan suci yang mesti “menyucikan” berubah menjadi lemah energi. Walaupun dentuman dan teriakan nama tuhan, sangat keras justru berakibat amat mengerikan. Itu artinya teriakan emosional, bagaikan ledakan petir di udara. Sangat berbeda kata-kata sejuk penuh makna dari orang-orang berjiwa besar nan suci yang berpengaruh. Meresap dan membangkitkan jiwa melihat kewajiban yang lebih cerah. Demikian pula pisau yang tajam, bila salah menggunakan resiko negatif dan karma burukpun bisa tercipta.
Barangkali inilah hukum semesta yang tak terhindarkan oleh siapapun. Tetapi amat sulit dipahami, ketika ego-ego asura sudah menguasai pengetahuan. Akibatnya selalu merasa benar, merasa pintar, tantang menantang debat, walaupun sepi tanggapan. Barangkali yang ditantang tak perlu meladeni, entah karena apa. Kalau sudah demikian nasehat baik dari siapapun sulit diresapi, bahkan bisa berubah dianggap lawannya. Drama ini sedang mengudara mewarnai atmosfir spiritual duniawi saat ini.
Kemajuan ilmu pengetahuan yang serba terbuka, menginginkan juga debat terbuka sebagai pembuktian di ruang terbuka. Ciri-ciri keberadaan ini sedang tumbuh, entahlah akan semakin subur. Entahlah untuk menyempurnakan diri, atau menunjukkan diri berpengetahuan. Tentu semua itu adalah realitas, untuk mencapai guna atau sebaliknya. Tentulah Sang Penentu pasti menjawab sesuai hukum waktu-Nya.
Realitas yang di namis ini, sesungguh merupakan edukasi esensial di ranah formal dan di ranah non formal yang seringkali disebut pendidikan semesta atau juga perguruan semesta. Gurunya tak terlihat tetapi pengetahuan-Nya bergerak. Meresapi dan memaknai realitas menemukan intisari kegunaannya, lalu kembali “menyempurna” ke dalam diri sendiri, hingga pada saatnya bervibrasi menyentuh siapa saja yang merasakan energi suci vibrasi itu. Persoalan panjang edukasi inilah sesungguhnya “belajar” sepanjang hidup.
Semua resapan informasi dari ragam masalah yang menyenangkan dan menyakitkan adalah ruang hidup yang menghidupkan kesadaran dari ketidak sadaran, perlahan menyempurna ke dalam diri lalu merefleksi ke luar diri tanpa disadari. Seperti itulah gambaran pengetahuan yang merahasia di dalam diri, yang tak pernah diketahui, tetapi bisa dipahami dalam pengamalan. Barangkali seperti itulah karakter insan-insan “penghamba” agar tetap rendah hati. Selalu belajar melalui kesadaran terbatas memaknai samudra luas tak bertepi.









Facebook Comments