September 9, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“Kuasa Semesta Bekerja Sangat Halus Mengatasi Keangkuhan Kuasa Duniawi”

Oleh : I Ketut Murdana (Selasa : 5 Agustus 2025)

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Indrajita pasti membela Rahwana ayahnya sendiri, karena “kebenaran itu baginya adalah kekuasaan dan kekuasaan itu adalah raja” serta “kepatuhan” wangsanya. Saat itu Indrajita berkelakar dihadapan ayahnya, tak usah takut menghadapi pengemis terlunta-terlunta di hutan yang telah disingkirkan dari kerajaannya. Apa gunanya kekuatan-ku ini ayah, Dewa Indra yang telah ku campakkan dari surga. Sekarang hanya menghadapi dua orang pertapa miskin mengapa harus takut ayah, hanya paman Wibhisana yang selalu berbicara lantang seperti itu ayah, demikian kelakar Indrajita di hadapan Rahwana. Membuat Rahwana bangga terhadap kesetiaan dan keberanian putranya itu.  

Betapapun upaya Wibhisana mengingatkan agar Rahwana mengembalikan Dewi Sintha dengan penuh hormat untuk menyelamatkan Kerajaan Alengka, tak ada gunanya bagi Rahwana. Walaupun Wibhisana telah mengingatkan bahwa Sri Rama itu adalah manusia yang memiliki sifat dewata menguasai tiga dunia yang penuh kebijaksanaan. Justru Rahwana tak membolehkan Wibhisana mengucapkan kata “Sri” di depan kata Rama, yang sangat mengganggu perasaannya.

Sesungguhnya energi kemuliaan yang terkandung di dalam sebutan kata “Sri” itu, secara esensial telah mengganggu kesadaran psikologis Rahwana. Lalu menuduh Wibhisana yang berpihak kepada musuh dan selalu memujanya, menjadi penghianat kaumnya. Oleh karena itu istananya saja dibiarkan utuh tak dibakar oleh Hanuman itu. Akibat dari semua itu lalu Wibhisana diusir dari Kerajaan Alengka, membuat para asura tertawa terbahak-bahak menyaksikan keadaan itu. Mereka para asura pendukung Rahwana merasa telah terbebas dari duri, yang menusuk-nusuk dalam dagingnya.

Justru apa yang menjadi kebanggaan mereka itu, sesungguhnya membuka pintu aib kehancurannya sendiri. Seperti itulah kerja energi suci yang perlahan merontokkan ego dan kesombongan yang sedang memuncak itu. Teramat sulit menerima kritik, saran perbaikan, untuk mencapai “kebenaran yang mendamaikan”. Justru yang ingin menyadarkan untuk menyelamatkan disingkirkan. Itu artinya ego telah merasa menang menguasai diri, tetapi energi sucipun telah mempralinanya dengan sistem kerja yang amat halus, bekerja perlahan tinggal menunggu waktu kehancurannya saja.

Kebutaan yang semakin membuta, dibutakan oleh ego ambisi kekuasaan, didukung oleh piranti-piranti media pembenar “suryak siu” yang luar biasa yang penting berteriak. Tetapi kebenaran tak bisa selamanya ditutupi pembenaran-pembenaran sesaat melalui teriak-teriak saja. Sesungguh bisa saja menyembunyikan ketakutannya sendiri. Takut terhadap perubahan yang akan merontokkan lalu melebur superioritas kekuasaan yang sementara itu. Tetapi selalu mau dikekalkan oleh asura-asura itu, seperti itulah isyarat Para Kawi Suci mengingatkan insan-insan duniawi tentang kekuasaan duniawi.

Menjadikan dunia sebagai panggung sandiwara, memainkan hukum demi politik kekuasaan saja. Lalu hanya tampil perlente ditengah-tengah masyarakat yang haus dahaga mendambakan kesejahteraan itu sendiri. Tetapi itulah realitas historis yang terus terjadi pada kekuasaan manapun di bumi ini. Oleh karena itu bacaaan teks-teks sosial, melihat pendulang dan pengkonstruksi nilai kelas-kelas dan identitas tertentu terus terjadi di tengah-tengah arus wacana kesetaraan yang toleran itu.

Pertanyaannya apakah kesetaraan yang toleran itu hanyalah bayang-bayang, bila dikejar semakin jauh, atau realitas yang telah dirasakan membahagiakan bagi sebagian pendambanya?. Tentu jawabannya bermula dari jalan mana alur keyakinan perjuangan hidup itu sendiri. Apabila sedang berada dalam perjuangan bayang-bayang itu berubah dan dapat dirasakan menjadi energi pembangkit semangat yang menggairahkan, saat itulah kebahagiaan terasa meresapi. Demikianlah apa yang dirasakan Wibhisana setelah diterima sebagai sahabat oleh Sri Rama, lalu dinobatkan sebagai raja di ruang perkemahan.

Walaupun belum diketahui publik secara luas, tetapi penguatan esensi keyakinan telah dikukuhkan, menunggu waktu sosialisasi publik setelah mampu melewati perjuangan mengalahkan Raja Rahwana dengan seluruh pasukan asuranya. Saat perjuangan itulah rahasia demi rahasia dari kekuatan tersembunyi para asura, putra terbaik Rahwana Indrajita Kumbhakarna dan Rahwana terbuka satu persatu, lalu dengan kekuatan senjata suci Dewata yang dimiliki oleh Laksamana membantu Sri Rama menumbangkan para asura pendukung dan akhirnya Rahwana terbunuh oleh Sri Rama.

Dua persoalan besar yang terjadi saat perang diantara kedua belah pihak, senjata Dewata yang dimiliki Indrajita, Kumbhakarna dan Rahwana justru tak mampu mengalahkan Sri Rama. Walaupun Laksamana pernah terkena panah sakti yang berkekuatan ular yang membuatnya tak berkutik, mampu diselamatkan atas kerjasama Wibhisana dengan Hanoman melalui tabib Susena. Tabib Susena adalah tabib istana Alengka yang hanya diperbolehkan untuk melayani rakyat Alengka saja. Justru setelah melakukan tugas besar itu tabib Susena memperoleh pencerahan dari Sri Rama, untuk memahami tugas dan swadharmanya sebagai tabib yang sesungguhnya, untuk bisa mengabdi kepada seluruh umat manusia.

Bukan terkungkung oleh kuasa kelompok tertentu saja, yang mengorbankan esensi dan hakekat profesi itu sendiri. Berkenaan dengan itu Rahwana dengan kekuasaannya mengorbankan putra-putra, perdana Mentri dan seluruh rakyatnya demi kekuasaannya. Berbeda dengan Sri Rama, melalui kuasanya berjuang mengangkat derajat martabat kesadaran jasmani dan rohani insan-insan duniawi, mencapai kesejahteraan dan “pembebasan”. @@@ = Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi. Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!