September 9, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“SINGGASANA BERKEPALA DUA”

Oleh : I Ketut Murdana (Jumat : 29 Agustus 2025)

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Dunia kehidupan tampaknya sedang tergulung atmosfir gelap, menciptakan degradasi moral, yang mengakibatkan prilaku sebagian besar insan-insan duniawi, tak mengenal kebajikan dharma, menenggelamkan kemuliaan diri dan tujuan hidup sejatinya. Refleksi prilakunya menonjolkan pemuasan napsu menggiurkan indriya-indriya sumringah duniawi. Konstruksi pandangan hidup yang “memuaskan” seperti itu, menciptakan budaya bebas liar jual beli, yang terpenting mendapat uang.

Hal-hal rahasia yang mesti disembunyikan, justru menjadi kemasan promosi merangsang memikat napsu relasinya. Budaya rawat saji dan korelasi koneksitasnya, semakin meninggi agar mampu memenangkan persaingan. Upaya mendongkrak persaingan itu, unsur klenik nan mistik berbagai strata bersinergi kuat dikendalikan permainan premanisme, yang semakin menggurita.

Popularitas merupakan panggung perhelatan, menjunjung tinggi panatisme figur populer idolanya. Diidolakan figuran iklan tertentu dan juga oleh penunggang-penunggang gelap menjadi “wong samar” dengan tujuan tertentu. Wong samar pengendali berbayar ini, mengendalikan prilaku, bertopeng atas nama rakyat, entahlah rakyat mana yang diwakilinya. Bertopeng kebajikan, bertopeng orang-orang suci, entahlah kebajikan model apa yang dianut dan yang telah diteladaninya kepada masyarakat luas. Populer adalah standar model mencapai standar modal sosial nan material mensugesti pasar multi audiennya. Lalu menjadi merk trandy, terkondisi promosi yang intensif. Lalu saling tumbang menumbangkan, melalui strategi cerdas unik, walaupun kebenarannya tak berbukti.

Konstruksi dan produksi kebohongan yang cerdas terkondisi management, terus menjalar. Walaupun sangat mudah rontok sirna tenggelam, lalu muncul lagi dengan wajah baru, tetap berjiwa asura berekspresi ramah, bersenyum manis. Buih-buih jaman Kaliyuga ini terus tumbuh berkembang menutupi dan mengaburkan nilai-nilai kemurnian dan kejujuran. Akibatnya nilai-nilai kejujuran itu teramat mahal saat ini, karena sebagian besar insan-insan duniawi telah terkubur nikmatnya napsu asura lalu meninggalkan kejujuran itu sendiri. Walaupun seluruh insan memerlukan nilai-nilai kejujuran itu, sebagai nilai vital nan esensial, yang sedang dirindukan dalam kehidupan ini.

Nampaknya insan-insan duniawi, saat ini sedang dikendalikan oleh ular berkepala dua, pada kepala yang satu merindukan dan selalu berbuat dharma kebajikan, walaupun masih relatif sepi peminat dan pada kepala yang satu lagi mengabaikan kebajikan dharma, lalu suntuk larut bergairah menenggelamkan diri dalam napsu asura, yang penganutnha lebih banyak berkali-kali lipat. Berakibat menguatnya rasa percaya diri, lalu semakin senang melakukannya. Akibatnya menjadi kepincangan sosial yang semakin pincang. Entahlah sampai kapan jawaban Sang Waktu tiba, mendidik insan-insan duniawi mencapai puncak kesadaran dan keimanannya, untuk memahami hakekat diri sendiri berhubungan harmoni dengan kerja semesta raya ini.

Berkenaan keterpurukan esensi kehidupan itu, sudah seharusnya insan-insan duniawi melangkah, mengedukasi, mengkonfigurasi nilai-nilai esensial itu, demi kedamaian bersama. Agar tak selalu disibukkan oleh sirkulasi budaya tipu-tipu yang semakin meresahkan itu. Sedikit demi sedikit memotong dan keluar dari arus sirkulasi itu, sadar mengisi diri dengan nilai-nilai kebajikan dharma.   Merefleksikan sadar prilaku memuliakan kebesaran-Nya, meresap ke dalam diri sendiri. Memang terasa berat terpinggirkan oleh situasi, tetapi terasa nikmat, segar setelah mampu melewatinya. Barangkali saat itu dan disitulah energi suci semesta mengaliri, menguatkan lalu teguh kukuh meyakini kebenaran itu.

Kewajiban utama ini, perlu diutamakan secara terus menerus, agar tumbuh subur menjadi insan-insan utama, yang amat diutamakan merefleksikan keluhuran saat ini. Menjadi penyambung-penyambung vibrasi suci menerangi dan mengangkat jiwa-jiwa yang terlena tenggelam. Sadar kembali pada hakekat tujuan hidup sejatinya. Ketika hal itu terjadi, dan bisa terjadi kepada siapapun, merupakan hubungan suci, lalu sadar posisi menjadi abdi-abdi dharma kebajikan, saat itu kejujuran lebur esensial nan kuat di dalamnya.

Konstruksi konfigurasi keimanan ini, merupakan penguat penyeimbang daya tarik diantara dua kutub besar yang hidup dalam diri  setiap insan. Lalu berkolerasi intensif di ruang sosial dan semesta raya. Melahirkan kesadaran menstimulasi terus nilai-nilai kebijaksanaan, hingga energi semesta mengalir menguatkan semangat, yang amat membahagiakan. Ketika sudah demikian jiwa telah mengatasi tarik-menarik energi dualitas nan seimbang, lalu terus menerus menyeimbangkan. Hingga menjadi sadar berkarma Jnana hingga terkondisi menjadi harmoni indah nan damai membahagiakan. @@@ = Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi. Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!